Friday, December 21, 2012

Benci Tapi Rindu Kopaja



Jakarta, Medio Oktober 2012
Hari itu Minggu. Seperti lazimnya hari libur, jalanan Jakarta lenggang. Sambil ngobrol ringan saya bersama Ni’am menikmati rute sepanjang jalan Sudirman. Salah satu jalan protokol di ibukota itu tak segarang biasanya. Saya pun menggeber sepeda motor dengan santai, tidak lebih dari 40 km per jam.  Rencananya siang itu kami menghadiri resepsi perkawinan di Gedung Lemhanas di Jalan Kebon Sirih. Lumayan buat ‘tambah darah’ alias perbaikan gizi.

Begitu lewat patung Jenderal Sudirman di bilangan Dukuh Atas, sekonyong-konyong terdengar raungan mesin dari arah belakang. Sambil mengeluarkan deru yang gahar, dua mobil sport melaju kencang—saling balap membalap—di jalur cepat khusus mobil di sebelah kanan kami. Wajar saja karena jalan sedang sepi. Saya tidak tahu jelas mereknya apa, mungkin Porsche tipe 911 yang mesinnya berkapasitas lebih dari 3.000 cc itu. Konon katanya, sejak tahun 2010, lebih dari 400 mobil mewah asal Jerman ini laku di Indonesia.

“Wow, cepat amat… kayak di game Need for Speed aja,” ujar Niam yang duduk di belakang saya. Lelaki asal Pekalongan ini memang penggemar berat permainan balap mobil di komputer. “Tapi itu ga ada apa-apanya sama sopir angkot. Kalo mobil tadi sih wajar, mesin gahar, kabin nyaman, di dalam kabin nomer satu, ” tambahnya sambil terkekeh.

“Yang lebih dahsyat tuh, sopir Kopaja. Bayangin aja, nyetir bus yang acak kadut, masih aja gila-gilaan. Coba bayangin klo sopir Kopaja dikasih Porsche tadi….”

Kami pun tergelak.

Kopaja adalah nama yang disematkan buat angkutan umum seukuran bus tanggung yang beredar di Jakarta. Sejatinya, nama ini merupakan singkatan dari  yang jadi Koperasi Angkutan Jakarta yang berdiri tahun 1971. Sempat menggunakan ejaan lama “Djakarta” dan bernama “Kopada”, sebelum berubah seperti sekarang ini. Pada perkembangannya tahun 1976, bus tanggung Metro Mini yang berwarna biru-jingga menyusul lahir, begitu pula perusahaan angkutan lain semacam Koantas Bima.

Kopaja adalah koperasi pekerja yang berisi sekitar 800 orang anggota. Seseorang bisa menyetir sendiri busnya atau mempekerjakan sopir lain. Seperti tetangga di sekitar tempat saya tinggal, di depan rumahnya setiap malam terparkir 3 buah bus Kopaja. Setiap lima tahun sekali diadakan musyawarah besar yang membahas keanggotaan dan manajemen operasional koperasi.

Cukup dengan ongkos dua ribu perak, penumpang dinaikkan dan diturunkan kapan saja—bahkan di tengah-tengah kemacetan jalan. Dengan harga semurah ini, penumpang jangan berharap lebih. Siap-siap saja untuk berdiri tergencet di antara penumpang lain, menghirup asap knalpot hitam, diganggu mesin berisik atau tetesan hujan dari atap bocor. Selain itu, perangkat mengendara bus ini juga minimalis—sebuah Kopaja/Metro Mini biasanya tanpa speedometer dan sistem lampu yang layak. Malah ada sopir yang menyalakan lampu depan hanya dengan menyatukan dua kabel yang membelit di bawah setir, mirip aksi McGyver.

Bagi pengguna jalan lainnya Kopaja disebut sebagai raja jalanan. Hal ini disebabkan perilaku pengemudinya yang ugal-ugalan karena sebuah alasan klasik; kejar setoran. Horor nomor satu dari Kopaja adalah cara menyalip ‘gaya bebas’. Tiba-tiba dia bisa saja menukik ke pinggir jalan untuk menjemput penumpang. Tak jarang pula, bus bermanuver meliuk mendahului kendaraan lain sambil melanggar marka jalan. Bagi sebagian orang mungkin Kopaja adalah biang kerok, tapi bagi para pecinta petualangan, bus ini layak dicoba.

Tercatat ada 1.479 bus Kopaja yang beroperasi (belum termasuk Metro Mini) di ranah Betawi. Jumlah ini melayani 29 rute di Jakarta serta Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Armada terbanyak adalah nomor P20 yang melayani rute Lebak Bulus ke Senen. Di sepanjang  ‘jalur emas’ ini, terhitung sebanyak 108 bus beroperasi.

Rendahnya ongkos bus ini sebenarnya juga dikeluhkan pihak Kopaja. Saya pernah membaca di salah satu surat kabar bahwa dua ribu rupiah amat pas-pasan untuk biaya operasional. Angka ini tidak mengalami kenaikan sejak 10 tahun silam. Idealnya, untuk bus reguler minimal seharga 5.000 rupiah agar kualitas layanan bisa ditingkatkan. Untungnya para mekanik Kopaja cukup bisa berinovasi hingga mesin bus yang rata-rata lansiran tahun 90an bisa tetap berjalan hingga sekarang.

Meski demikian pihak Kopaja sendiri sudah mulai melakukan peremajaan armadanya. Tahun ini, 20 unit bus Kopaja AC baru sudah menjajal ibukota. Harganya memang lebih mahal, 5000 rupiah, tapi sebanding dengan fasilitas AC dan internet Wi-Fi yang disediakan. Para sopir pun tidak selelah biasanya sebab armada baru ini memakai power steering yang lebih empuk untuk dikendalikan.

Walau angka kepemilikan kendaraan pribadi terus melonjak, ketergantungan masyarakat Jakarta terhadap Kopaja dan saudara-saudaranya masih tinggi. Di satu sisi Kopaja memang bikin jengkel. Tapi di sisi lain kedatangannya selalu dinanti. Mungkin ini yang disebut ‘Benci tapi Rindu’.


Referensi:
Pengalaman Pribadi
The Jakarta Globe, 28 Oktober 2012
Benny Rachmadi & M. Misrad, Lagak Jakarta, Penerbit KPG 2009

1 comment:

Yani Osmawati said...

wow, saya baru tau sistem pengelolaan kopaj dan akhirnya pertanyaan ttg usia kopaja terjawab sudah setelah baca tulisan ini. Naik kendaraan umum memang selalu lebih seru karena bisa memperhatikan orang" sekitar plus kontribusi pegurangan kemacetan dan polusi, bukan?