Tuesday, November 10, 2009

Sejarah Hari Pahlawan 10 November

Bung Tomo

Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 10 November 1945 di kota Surabaya, Jawa Timur.

Masuknya Tentara Jepang ke Indonesia &
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Pada 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, dan tujuh hari kemudian, tepatnya, 8 Maret, pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang berdasarkan perjanjian Kalidjati. Sejak itu, Indonesia diduduki oleh Jepang.

Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa itu terjadi pada bulan Agustus 1945. Mengisi kekosongan tersebut, Indonesia kemudian memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945.


Insiden di Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya
Setelah munculnya maklumat pemerintah tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Merah Putih dikibarkan terus di seluruh Indonesia, gerakan pengibaran bendera makin meluas ke segenap pelosok kota.

Di berbagai tempat strategis dan tempat-tempat lainnya, susul menyusul bendera dikibarkan. Antara lain di teras atas Gedung Kantor Karesidenan (kantor Syucokan, gedung Gubernuran sekarang, Jl Pahlawan) yang terletak di muka gedung Kempeitai (sekarang Tugu Pahlawan), di atas gedung Internatio, disusul barisan pemuda dari segala penjuru Surabaya yang membawa bendera merah putih datang ke Tambaksari (lapangan Gelora 10 November) untuk menghadiri rapat raksasa yang diselenggarakan oleh Barisan Pemuda Surabaya.

Saat itu lapangan Tambaksari penuh lambaian bendera merah putih, disertai pekik 'Merdeka' mendengung di angkasa. Walaupun pihak Kempeitai melarang diadakannya rapat tersebut, namun mereka tidak berdaya menghadapi massa rakyat yang semangatnya tengah menggelora itu. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru/Hotel Yamato atau Oranje Hotel, Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya.

Mula-mula Jepang dan Indo-Belanda yang sudah keluar dari interniran menyusun suatu organisasi, Komite Kontak Sosial, yang mendapat bantuan penuh dari Jepang. Terbentuknya komite ini disponsori oleh Palang Merah Internasional (Intercross). Namun, berlindung dibalik Intercross mereka melakukan kegiatan politik. Mereka mencoba mengambil alih gudang-gudang dan beberapa tempat telah mereka duduki, seperti Hotel Yamato. Pada 18 September 1945, datanglah di Surabaya (Gunungsari) opsir-opsir Sekutu dan Belanda dari Allied Command (utusan Sekutu) bersama-sama dengan rombongan Intercross dari Jakarta.

Para pemuda merobek bendera Belanda

Karena kedudukannya merasa kuat, sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch Ploegman pada sore hari tanggal 18 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan hari ketika pemuda Surabaya melihatnya, seketika meledak amarahnya. Mereka menganggap Belanda mau menancapkan kekuasannya kembali di negeri Indonesia, dan dianggap melecehkan gerakan pengibaran bendera yang sedang berlangsung di Surabaya.

Begitu kabar tersebut tersebar di seluruh kota Surabaya, sebentar saja Jl. Tunjungan dibanjiri oleh rakyat, mulai dari pelajar berumur belasan tahun hingga pemuda dewasa, semua siap untuk menghadapi segala kemungkinan. Massa terus mengalir hingga memadati halaman hotel serta halaman gedung yang berdampingan penuh massa dengan luapan amarah. Agak ke belakang halaman hotel, beberapa tentara Jepang tampak berjaga-jaga. Situasi saat itu menjadi sangat eksplosif.

Tak lama kemudian Residen Sudirman datang. Kedatangan pejuang dan diplomat ulung yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, menyibak kerumunan massa lalu masuk ke hotel. Ia ingin berunding dengan Mr. Ploegman dan kawan-kawan. Dalam perundingan itu Sudirman meminta agar bendera Triwarna segera diturunkan.

Ploegman menolak, bahkan dengan kasar mengancam, "Tentara Sekutu telah menang perang, dan karena Belanda adalah anggota Sekutu, maka sekarang Pemerintah Belanda berhak menegakkan kembali pemerintahan Hindia Belanda. Republik Indonesia? Itu tidak kami akui." Sambil mengangkat revolver, Ploegman memaksa Sudirman untuk segera pergi dan membiarkan bendera Belanda tetap berkibar.

Melihat gelagat tidak menguntungkan itu, pemuda Sidik dan Hariyono yang mendampingi Sudirman mengambil langkah taktis. Sidik menendang revolver dari tangan Ploegman. Revolver itu terpental dan meletus tanpa mengenai siapapun. Hariyono segera membawa Sudirman ke luar, sementara Sidik terus bergulat dengan Ploegman dan mencekiknya hingga tewas. Beberapa tentara Belanda menyerobot masuk karena mendengar letusan pistol, dan sambil menghunus pedang panjang lalu disabetkan ke arah Sidik. Sidik pun tersungkur.

Di luar hotel, para pemuda yang mengetahui kejadian itu langsung merangsek masuk ke hotel dan terjadilah perkelahian di ruang muka hotel. Sebagian yang lain, berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono yang semula bersama Sudirman turut terlibat dalam pemanjatan tiang bendera. Akhirnya ia bersama Kusno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang kembali. Massa rakyat menyambut keberhasilan pengibaran bendera merah putih itu dengan pekik "Merdeka" berulang kali, sebagai tanda kemenangan, kehormatan dan kedaulatan negara RI.

Kematian Brigadir Jenderal Mallaby
Mobil Brigadir Jenderal Mallaby yang meledak di dekat Gedung Internatio

Setelah diadakannya gencatan senjata antara pihak Indonesia dan pihak tentara Inggris ditandatangani tanggal 29 Oktober 1945, keadaan berangsur-angsur mereda. Tetapi walau begitu tetap saja terjadi keributan antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya. Bentrokan-bentrokan bersenjata dengan tentara Inggris di Surabaya, memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945. Mobil Buick yang sedang ditumpangi Brigjen Mallaby dicegat oleh sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah. Karena terjadi salah paham, maka terjadilah tembak menembak yang akhirnya membuat mobil jenderal Inggris itu meledak terkena tembakan. Mobil itu pun hangus.

Ultimatum 10 November 1945
Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya (Mayor Jenderal Mansergh) mengeluarkan ultimatum yang merupakan penghinaan bagi para pejuang dan rakyat umumnya. Dalam ultimatum itu disebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945.

Ultimatum tersebut ditolak oleh Indonesia. Sebab, Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri , dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) juga telah dibentuk.

Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan besar-besaran dan dahsyat sekali, dengan mengerahkan sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang, dan sejumlah besar kapal perang.

Berbagai bagian kota Surabaya dihujani bom, ditembaki secara membabi-buta dengan meriam dari laut dan darat. Ribuan penduduk menjadi korban, banyak yang meninggal dan lebih banyak lagi yang luka-luka. Tetapi, perlawanan pejuang-pejuang juga berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk.

Pihak Inggris menduga bahwa perlawanan rakyat Indonesia di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo 3 hari saja, dengan mengerahkan persenjataan modern yang lengkap, termasuk pesawat terbang, kapal perang, tank, dan kendaraan lapis baja yang cukup banyak.

Namun di luar dugaan, ternyata para tokoh-tokoh masyarakat yang terdiri dari kalangan ulama' serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat umum (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) juga ada pelopor muda seperti Bung Tomo dan lainnya. Sehingga perlawanan itu bisa bertahan lama, berlangsung dari hari ke hari, dan dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran besar-besaran ini memakan waktu sampai sebulan, sebelum seluruh kota jatuh di tangan pihak Inggris.

Peristiwa berdarah di Surabaya ketika itu juga telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat yang menjadi korban ketika itulah yang kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan.

Sumber: Hot Thread Kaskus

Tuesday, October 20, 2009

Pesta Ghana, Pesta Afrika


Suka Cita Pendukung Ghana dan Warga Mesir (16/10)

Selamat buat Ghana yang merengkuh gelar Piala Dunia Junior Usia dibawah 20 Tahun di Mesir. Sebuah kejutan baru dari kekuatan benua hitam. Wajar saja jika sepanjang pertandingan warga lokal Kairo mengelu-elukan Ghana. Mungkin bisa jadi solidaritas antar warga Afrika menjadi pemicunya. Aku yang menjagokan tim Samba Brazil harus kecewa kali ini.

Sebenarnya Brazil sudah punya kartu As sejak menit ke-27, sebab Ghana harus bermain dengan sepuluh orang setelah Daniel Addo dikartu merah langsung akibat menjatuhkan Alex Teixeira. Silih berganti penyerang muda Samba membombardir pertahanan Black Sattellites--julukan Ghana. Namun kedisiplinan lini belakang dan tangguhnya penjaga gawang Daniel Adje membuat peluang-peluang itu mentah.

Skor kacamata kosong-kosong bertahan hingga pertandingan usai. Saat adu penalti, dua penendang Brazil, Maicon dan Texeira gagal melaksanakan tugasnya. Terbanglah gelar juara ke pelukan Ghana.

Piala Dunia kali ini memang sarat kejutan tim-tim non-unggulan. Ghana, Kostarika, Hungaria, Korea Selatan dan Venezuela sanggup mematahkan dominasi tim-tim adidaya. Kapan giliran Indonesia?

Thursday, October 15, 2009

Monday, October 12, 2009

Tuan Rumah Kecewa Dua Kali

Mesir vs Italy, Cairo International Stadium

Even Piala Dunia sepakbola usia 20 tahun yang dihelat di Mesir membawa banyak cerita. Meski gaung kejuaraan sebelum perhelatan dimulai terkesan kurang wah, antusiasme warga Kairo cukup meledak. Ketika "el Faraena el Sighar" alias Fir'aun-fira'un junior berlaga, bangku-bangku stadion disesaki warga yang ingin mendukung tim kesayangan Mesir. Agenda pembukaan di stadion Borg el Arab, Alexandria berlangsung meriah, apalagi ditambah kemenangan sensasional tuan rumah atas Trinidad Tobago 4-1.

Sayang, euforia yang mengalir deras bersama gemericik sungai Nil sempat terpaku sejenak ketika 10 pemain Paraguay berhasil mencuri kemenangan dramatis dua hari kemudian. Headline koran-koran keesokan harinya memampang foto penyerang Mesir Mohammad Talaat yang tertunduk di atas rumput. Mau tak mau pertandingan melawan favorit Italia menjadi laga hidup-mati yang harus dimenangi!

Oppa! Jadilah Bogy pahlawan Mesir malam itu. Baru beberapa detik memasuki lapangan, striker bernama asli Ahmed Fathi ini langsung menyundul bola, menaklukkan kiper Fiorillo. Sepuluh menit kemudian, sekali lagi Bogy beraksi, menyegel kemenangan 4-2 atas Azzurri.

Puji syukur kepada Allah SWT, aku salah satu diantara puluhan ribu mata yang menyaksikan kemenangan dramatis itu. Meski harus mati-matian merayu calo, tiket pertandingan itu bisa kudapatkan. Satu catatan lagi, untuk pertama kalinya, aku melihat pertandingan langsung dari stadion di Kairo.


Bola itu bundar. Di babak 16 besar Mesir harus dibenamkan Kosta Rika yang tidak diunggulkan. Pupus sudah mimpi indah masyarakat antero Mesir. Maka tak heran saat Kosta Rika kembali berlaga, warga Kairo berbondong-bondong menuju stadion dengan tujuan memberikan dukungan kepada Uni Emirat Arab, lawan Kosta Rika. "Kekalahan kemarin tak perlu diratapi, asal Kosta Rika kalah" mungkin begitu isi benak mereka. Aku melihat langsung melalui siaran televisi, setiap Kosta Rika memegang bola siulan mengejek disuarakan pendukung Mesir yang memihak Emirat.

Seribu sayang, kesalahan kapten Emirat membuat dendam Mesir tidak bisa terlampiaskan. Kosta Rika menyerobot bola di menit akhir dan menceploskan bola untuk kemenangan 2-1.

Lagi-lagi kecewa.


Friday, September 25, 2009

Indonesia di Majalah Time

Coba saja selancar ke situs majalah Time lalu ketik kata indonesia di arsip sampul. Lalu ...eng ing eng...

Indonesia: Ir. (23 Desember 1946)


Indonesia's Sukarno (10 Maret 1958)


Indonesia: The Land the Comunists Lost. (15 Juli 1966)

Monday, September 14, 2009

Never Die Bahrain



Dominasi Arab Saudi sebagai wakil Asia di Piala Dunia sejak 1994 patah. Adalah Bahrain yang secara dramatis menahan imbang jagoan Teluk tersebut 2-2. Bahrain akhirnya maju sebagai wakil Asia untuk laga play-off menghadapi wakil Oceania, Selandia Baru. Dua negara ini akan berjibaku memperebutkan satu tempat di putaran final Piala Dunia 2010.

Bahrain lolos karena produktifitas gol yang lebih baik di kandang lawan. Sebelumnya, di leg pertama, kedua tim bermain imbang 0-0 di kandang Bahrain.

Bertanding di hadapan ribuan pendukung fanatik yang memadai King Fahd International Stadium, Kamis (10/9) dinihari WIB, Arab Saudi unggul lebih dulu lewat gol Naser Al-Shamrani di menit 15. Namun tiga menit sebelum pertandingan babak pertama rampung, Jaycee John--pemain naturalisasi asal Nigeria-- berhasil menyamakan kedudukan.

Di masa injury time, Hamad Al Montashari sempat menghembuskan angin segar untuk Arab Saudi dengan golnya. Seisi stadion bersukacita. Bayangan kemenangan sudah membentangkan tangannya.

Namun fantastis! Di waktu kritis itu Bahrain bisa mengejar ketertinggalan lewat gol Ismail Abullahatif, memanfaatkan sepak pojok saat wasit sudah bersiap meniup peluit panjang. SepakSkor 2-2 pun menjadi hasil akhir laga ini.

Selamat Bahrain.

Monday, September 7, 2009

Terima Kasih Kami

(Gambar 1) Ucapan Terima Kasih dari Al Azhar

Saat bertandang ke markas World Assembly of Muslim Youth (WAMY) cabang Kairo, aku menemukan contoh piagam ucapan terima kasih dari Al Azhar untuk organisasi yang berkantor di el Hayy el Tasie' ini. Gaya bahasanya benar-benar khas Mesir. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana, tapi bagi antum sedikit mengerti Bahasa Arab, bisa membandingkannya dengan ucapan terima kasih yang dibuat oleh IKPM (Ikatan Keluarga Pondok Modern) di bawah ini.

Ucapan terima kasih dari IKPM Kairo

Yang perlu digarisbawahi adalah kegiatan sosial WAMY dalam mengayomi pemuda muslim petut diacungi jempol. Dua Piagam baik baik Al Azhar maupun IKPM adalah contohnya. Masih banyak lagi organisasi yang dibantu WAMY seperti persatuan mahasiswa asal negara Afrika, Rusia maupun Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Kamboja dan Thailand).

Jazakumullah!

Sakit: Tidak Hanya Diam

Dari kiri ke kanan: Ustadz Yaser Khalel (Direktur WAMY cabang Kairo), Aku dan Imam

Perhatian! Foto di atas bukan demi narsis dan riya' belaka. Gambar tersebut adalah foto kami di kantor WAMY (World Assembly of Muslim Youth) cabang Kairo di el Hayy el Tasie' di Nasr City. Sedangkan benda berbentuk persegi yang kami serahkan adalah piagam ucapan terima kasih atas kontribusi WAMY kepada IKPM (Ikatan Keluarga Pondok Modern) Kairo dalam acara Studi Islam Ramadhan (SIRAH) 10-12 Ramadhan lalu.

Lha? Kenapa mereka dapat ucapan terima kasih? Jawabannya sudah jelas, karena mereka membantu IKPM dalam menyelenggarakan buka puasa bersama. Organisasi yang berpusat di Riyadh, Saudi Arabia ini memang bergerak dalam bidang sosial-pendidikan bagi remaja Islam. Lebih klop lagi, banyaknya mahasiswa asing muslim di Kairo membuat WAMY memiliki "lahan tetap" di kota seribu menara.

Peserta Sirah bersama perwakilan WAMY, Ustadz Hazem

Entah kenapa wabah penyakit menjadi epindemi di sekretariat
IKPM. Yang jadi korban adalah 5 dari 8 home staff --demikian kami menjuluki diri sebagai pengurus harian, biar lebih keren--tersungkur di atas kasur tergolek tak berdaya. Korban terparah mungkin adalah Sadzali, pemuda asal Martapura, Kalimantan Selatan ini tidak bisa bangun dari tempat tidur, kecuali untuk shalat. Selebihnya, meringkuk dengan selimut tebal.

Gejalanya hampir identik: demam - batuk - pusing. Yang pertama jadi pesakitan adalah Delta sejak tiga hari lalu. Alhamdulillah, sejak hari ini yang bersangkutan sembuh. Tapi selanjutnya kami yang menderita sakit.

Aku pun termasuk salah satu dari mereka yang sakit meski tidak separah yang lain (Arwani, Zaky, Sadzali dan Nasir). Tapi cukup membuatku tak bisa ke mana-mana. Jadwal ke KBRI di Garden City tadi siang pun buyar. Namun sekedar meluangkan waktu di depan keyboard komputer seperti sekarang ini tak masalah.

Memang, sejak tinggal di sekretariat IKPM, aku sudah jarang berkarya di blog, paling-paling hanya menulis di buku harian saja.
Yah... setidaknya posting ini adalah pemupus kerinduan....

Thursday, August 27, 2009

Mereka Juga Berpuasa

Banyak orang yang mengeluh saat berpuasa. Cuaca yang panas, banyak pekerjaan, sibuk, dll. Padahal bagi yang kita hidup di negara mayoritas Muslim, ujian puasa kita masih belum seberapa dengan mereka yang berada di luar negeri, di mana Muslim menjadi minoritas. Apalagi yang berprofesi sebagai pesepakbola. Jadwal yang begitu padat dan juga badan yang harus selalu fit menjadi ujian jika nekat berpuasa. Namun hebatnya banyak pemain bola yang tetap berpuasa di saat kompetisi begitu padatnya. Siapa sajakah mereka?

Berikut tulisan yang aku cubit dari blog Luzman Rifqi Karami, sahabat asal Bandung yang juga Interisti sejati serta Bobotoh Persib.
***

1. Sulley Ali Muntari (Inter)
Pemain asal Ghana ini terkenal sebagai Muslim yang taat. Setiap mencetak gol ia selalu melakukan selebrasi sujud syukur. Ibadah puasa pun tetap ia jalani termasuk saat Inter ditahan Bari 1-1. (23/8) Hal yang membuat Mourinho mengganti Muntari dengan Balotelli pada pertengahan babak pertama. Muntari terlihat sangat kelelahan. Mungkin fisiknya masih belum terbiasa menjalankan puasa sambil bertanding.

"Muntari punya masalah fisik karena berpuasa, mungkin cuaca panas ini tak memungkinannya berpuasa sambil bertanding," ujar Mourinho.


2. Mahammadou Diarra, Lassana Diarra, Karim Benzema (Madrid)

Bintang Real Madrid Lassana Diarra, Mahamadou Diarra dan Karim Benzema tidak melupakan kewajiban menjalankan ibadah puasa. Menurut harian AS, meski berpuasa mereka tetap serius menjalani program latihan.


Klub juga memberi dukungan bagi para pemainnya yang menjalani puasa. Dokter tim telah mendesain program sedemikian rupa sehingga pemain yang berpuasa tidak mengalami dehidrasi karena cuaca yang panas di Spanyol.


Program latihan itu juga tidak membuat mereka menjadi lemah atau mengalami cedera. Hanya, mereka akan mengalami penurunan berat badan. Menurut dokter tim hal tersebut masih normal karena mereka tengah berpuasa.


Bulan puasa juga tidak berpengaruh besar pada kompetisi Primera Liga Spanyol. Selama bulan suci bagi umat Islam itu, Madrid hanya menjalani tiga pertandingan melawan Deportivo la Coruna, Espanyol dan Xerez.


Hebatnya walaupun sedang berpuasa mereka bertiga tampil apik dalam laga persahabatan bertajuk Trofeo Santiago Bernabeu menghadapi Rosenborg (25/8). Dalam pertandingan yang berkesudahan 4-0 untuk Madrid itu Lass mencetak 1 gol, dan Benzema bahkan sanggup mencetak 2 gol. Terbukti puasa tidak menjadi halangan bagi mereka.



3. Fredrick Kanoute (Sevilla)

Striker Sevilla Freddie Kanoute menilai ibadah puasa di bulan Ramadhan tak menghalanginya untuk beraktifitas dan bermain sepakbola. "Kadang memang terasa berat tetap berpuasa karena di Spanyol bagian selatan sangat panas, tapi, Alhamdulillah, aku bisa terus melakukannya."

"Banyak sekali pesepakbola muslim yang tak banyak orang tahu di Inggris, Spanyol, Prancis atau kompetisi di negara lain. Tapi menjaga keyakinan dan berpuasa Ramadhan adalah bukanlah sesuatu yang harus diungkapkan kepada dunia," jelas Kanoute.

"Secara pribadi, menjalankan tuntunan agama membantuku dalam bersepakbola dan sepakbola juga ikut membantuku tetap sehat dan menguatkanku. Tak ada konflik karena orang yang tahu tentang Islam, mereka tahu bahwa ibadah puasa itu malah menguatkan mereka yang menjalaninya, dan tidak malah melemahkan kaum Muslim."

4. Abdelkader Ghezzal (Siena)
Striker Siena asal Aljazair, Abdelkader Ghezzal, memilih untuk berpuasa hanya pada hari-hari istirahatnya. Musim panas di Italia saat ini mencapai temperatur 40 derajat celcius. Apalagi kompetisi Serie A baru dimulai. Kekuatan fisik dan naluri kompetitif sangat dibutuhkan untuk awal musim seperti ini. "Aku memilih berpuasa pada hari istirahat, saat tak ada pertandingan atau latihan," ujar Ghezzal kepada AFP. "Aku selalu menjalankan ibadah Ramadan, tapi aku harus mengubah kebiasaan itu demi alasan kesehatan sejak tahun pertama menjadi pemain profesional." "Aku pernah berpuasa saat membela Crotone, tapi setelah dua pekan, aku merasa sakit dan terpaksa menghentikannya."

Ghezzal mengungkapkan, tak semua pemain memilih cara yang sama seperti dirinya. Bekas rekan setim yang kini membela Genoa, Houssine Kharja, tetap berpuasa kecuali pada hari pertandingan.


"Kharja, rekan setimku di Siena musim lalu yang sekarang di Genoa, berpuasa secara penuh, kecuali pada hari pertandingan," ujarnya.


5. Eric Abidal, Seydou Keita, Yaya Toure (Barcelona)

Ketiga pemain Barcelona ini kompak menyatakan menunda sebagian puasanya. Setiap dua hari sebelum pertandingan, mereka memutuskan tidak berpuasa.


“Itu pilihan logis bagi kami karena kami tak ingin tampil seadanya untuk Pep Guardiola. Kami tidak akan berpuasa dua hari menjelang pertandingan. Selebihnya kami akan berpuasa seperti biasa,” ucap Keita.

Selain sibuk berlatih bersama skuad El Barca mereka sudah siap dengan kesibukan lain bersama komunitas Muslim di Catalonia. Selama Ramadhan ini mereka akan mengadakan buka puasa bersama dengan kaum muslim, terutama yang hidupnya kurang beruntung.

***
Contoh yang luar biasa dari para pebola. Mungkin bisa menambah semangat kita dalam menjalani shaum di bulan Ramadhan ini. Puasa jangan pernah dijadikan halangan untuk beraktifitas. Ramadhan Kariem; Kullu 'Am wa Antum Thayyibun

sumber: Goal.com
& Harian Tribun Jabar

Thursday, August 20, 2009

Bus Lenyap dari Jalanan Cairo

Sejak Selasa, (18/08) bus kota seakan 'menghilang' dari kota Cairo. Para sopir, kondektur dan mekanik di 14 dari 19 terminal pusat bus pemerintah di provinsi Cairo dan Giza melakukan aksi mogok menuntut perbaikan kondisi kerja. Masyarakat pun harus rela menjejali bus-bus mini yang dikelola swasta meski dengan tarif lebih tinggi dari bus pemerintah.

Pemerintah langsung merespon dengan menawarkan kenaikan gaji sebesar 8% dan pembebasan dari pungutan lalu lintas. Selain itu sopir dan kondektur juga mendapat tunjangan makan sebanyak 120 Pound Mesir per bulannya ditambah kompensasi kesehatan.


Para pengunjuk rasa akhirnya menerima poin-poin yang ditawarkan. Transportasi publik diperkirakan akan berangsur pulih Kamis ini (20/08).


Salah satu tuntutan yang diminta para sopir adalah penghapusan pungutan lalu lintas dari polisi.

"Denda lalu lintas benar-benar membuat kami tidak tahan," ujar Dossuki Abdul Basset, sopir bus di stasiun bus Mustaqbal, Nasr City kepada surat kabar Al Masry Al Youm. Sekitar 100 bus dan 700 pekerja bernaung di stasiun ini. Menurut Dossuki, denda yang diterimanya dua kali lipat dari penghasilannya perbulan.

Para sopir juga mengeluhkan kondisi bus yang sudah tidak layak pakai. Padahal pendapatan harian sudah mereka dipotong untuk biaya perbaikan, namun kondisi bus tidak mengalami perubahan.

Aksi serupa pernah tahun 2007 silam. Namun saat itu jumlah sopir yang melakukan mogok kerja hanya sebagian kecil saja.

Sumber: Al Masry Al Youm, 19 Agustus 2009

Ikrar Sumpah yang Sakral dan 'Mantra' Keramat


“MAN JADDA WAJADA!!!” Teriak laki-laki muda bertubuh kurus itu lantang. Telunjuknya lurus teracung tinggi ke udara, suaranya menggelegar, sorot matanya berkilat-kilat menikam kami satu persatu. Wajah serius, alisnya hampir bertemu dan otot gerahamnya bertonjolan, seakan mengerahkan segenap tenaga dalamnya untuk menaklukkan jiwa kami. Sungguh mengingatkan aku kepada karakter tokoh sakti mandraguna di film layar tancap keliling di kampungku, persembahan dari Departemen Penerangan waktu itu.

Man jadda waja: sepotong kata asing ini bak mantera ajaib yang ampuh bekerja. Dalam hitungan beberapa helaan napas saja, kami bagai tersengat ribuan tawon. Kami, tiga puluh anak tanggung, menjerit balik, tidak mau kalah kencang.

“Man jadda wajada! “


Berkali-kali, berulang-ulang, sampai tenggorokanku panas dan suara serak. Hingar bingar ini berdesibel tinggi. Telingaku panas dan berdenging-denging sementara wajah kami merah padam memporsir tenaga. Kaca jendela yang tipis sampai bergetar-getar di sebelahku. Bahkan, meja kayuku pun berkilat-kilat basah, kuyup oleh air liur yang ikut berloncatan setiap berteriak lantang.


Tapi kami tahu, mata laki-laki kurus yang energik ini tidak dimuati aura jahat sama sekali. Sebaliknya, dia dengan royal membagi energi positif yang sangat besar dan meletup-letup. Kami tersengat dan menikmatinya. Sumbu kecil kami terpercik api, mulai terbakar, membesar, dan terang! Kami bagai lilin kecil yang baru dinyalakan.
Dengan wajah berseri-seri dan senyum sepuluh centi menyilang di wajahnya, laki-laki ini hilir mudik di antara bangku-bangku murid barunya, mengulang-ulang mantera ajaib ini di depan kami bertiga puluh. Setiap dia berteriak, kami menyalak balik dengan kata yang sama, man jadda wajada.

Mantera ajaib berbahasa Arab ini bermakna ringkas tapi tegas:
”Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil”.

Laki-laki ramping ini adalah Ustad Salman, wali kelasku. Rambutnya ikal dipotong pendek, jambangnya dibiarkan agak pajang. Wajahnya lonjong kurus, sebagian besar dikuasai keningnya yang lebar. Alisnya yang tebal datar menaungi sepasang bola matanya yang lincah dan memancarkan sinar kecerdasan. Dagunya ditumbuhi jenggot yang dipangkas rapi. Kaki dan tangannya yang panjang gesit bergerak ke setiap sudut kelas. Sebuah dasi berwarna merah tua terikat rapi di leher kemeja putihnya yang licin. Kedua lengan bajunya lebar dan berkibar-kibar setiap dia melenggangkan tangan dengan cepat. Lipatan celana hitamnya berujung tajam seperti baru saja disetrika. Sepatu hitam bertalinya mempunyai sol tebal dan selalu berdekak-dekak setiap dia berjalan di ubin kelas kami.

Selain kelas kami, ada sekitar puluhan kelas lain yang bernasib sama. Masing-masing dikomandoi seorang kondaktur yang energik. Sang kondaktur menyalakkan “manjadda wajada” dengan penuh otoritas sehingga membuat para subjeknya tergugah dan menjerit kencang. Hampir satu jam non stop, kalimat ini bersahut-sahutan dan bertalu-talu. Koor ini bergelombang seperti guruh di musim hujan, menyesaki udara pagi di sebuah desa terpencil di udik Ponorogo.
Inilah pelajaran hari pertama kami di PM. Kata mutiara sederhana yang sangat kuat yang terus menjadi kompas kehidupan kami kelak.

***

Kisah di atas adalah potongan dari novel "Negeri 5 Menara" yang diterbitkan Gramedia. Aku memang belum membaca/ membeli karya tulis A. Fuadi, seniorku di Pondok Modern Gontor. Seperti yang dicuplik dari situs resminya, salah satu pesan utama novel ini adalah "man jadda wajada" sebuah pepatah Arab yang berarti "siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses". Pengalaman para tokoh di novel ini mengajarkan mereka bahwa apa pun mungkin diraih selama didukung usaha dan doa.

Nilai plus lagi, latar belakang pesantren tempat Alif, si tokoh utama terinspirasi dari Pondok Gontor walau dengan nama berbeda (Pondok Madani alias P.M.). Dari cuplikan diatas, aku sudah bisa mereka-reka kejadian yang dialami Alif dan kawan-kawan. Sedikit menguak romantisme masa lalu, he... he... he.... Enam tahun silam aku, sekerat pengalaman Alif tadi juga kualami dengan deskripsi yang hampir-hampir mirip.

Trus Hubungannya apa dengan keadaanku saat ini? Tentu saja berkaitan erat, sebab tadi malam (19/ 08) aku baru saja dilantik sebagai ketua IKPM Cab. Kairo. Dalam acara yang berbarengan dengan tarhib Ramadhan tersebut aku dan teman-teman seperjuangan dalam Dewan Pengurus mengucapkan ikrar sakral yang akan dipertanggungja
wabkan di hadapan Ilahi Rabbi di akhirat kelak. Cukup berat memang. Apalagi pengalamanku sebagai belum teruji betul menakhodai biduk organisasi.

Tapi jangan khawatir, selama masih ada "man jadda wajada" semua bukan hanya mimpi!
Rumus "man jadda wajada" sudah teruji di jagat raya ini. Ribuan orang sukses dan berhasil karena dirasuki spirit "man jadda wajada". Mantra ajaib ini akan terus melantang sanubari kami.

Cuplikan cerita dan Gambar dicubit dari: http://www.negeri5menara.com


Monday, August 10, 2009

Bukan Karena Garis Tangan


Sudah masuk dini hari
dan purnama bercakap dengan kelelawar
dan pagelaran masih berlanjut
dan pemirsa masih setia

Aku melirik pada teman baikku; seorang sutradara kenamaan
Bahasa tubuhnya menyuruhku bungkam
Tak ada pilihan lain selain duduk manis, menonton dongeng antah-berantah ini
Orang-orang sekelilingku manggut-manggut, walau aku masih henyak
Rahasia Tuhan bermain di sini

Tak kuasa selisik jawabnya
Bahkan teman baikku tadi; seorang sutradara kenamaan


Ditulis pukul setengah empat pagi tanggal 11 Agustus 2007
Buat trio sholeh: "Seribu masalah menghadang, tapi masih ada seribu satu pemecahan"



Monday, August 3, 2009

Rebiya Kadeer Hadiri Festival Film Australia

Rebiya Kadeer

Rebiya Kadeer direncanakan hadir dalam Festival Film Melbourne di Australia, awal Agustus ini. Kedatangan tokoh etnis Uighur ini dalam rangka pemutaran film dokumenter "The 10 Conditions of Love" besutan sutradara Australia, Jeff Daniels yang mengangkat kisahnya. Kedatangan wanita kelahiran Xinjaing, 21 Januari 1947 ini sempat menyulut reaksi keras dari pemerintah Cina. Empat sineas Cina yang mengikuti acara ini juga menarik film yang mereka ikutsertakan sebagai wujud protes terhadap film Rebiya.

Sebelum bertolak ke Negeri Kanguru, Kadeer melakukan kunjungan ke Jepang (29/06) dalam rangka memperjuangkan nasib etnis Uighur dan kemerdekaan bagi etnis minoritas Muslim di negara Cina. Ia berharap agar semua orang tahu bahwa ada banyak etnis Uighur tewas dan tertangkap.

Kadeer adalah seorang pebisnis perempuan ternama dari kalangan etnis Uighur. Ia juga seorang aktivis kemerdekaan Uighur serta menjabat sebagai Presiden World Uyghur Congress sejak November 2006.

Tahun 1976 ia membuka bisnis laundry dan menikah untuk kedua kalinya dengan Sidik Rouzi, seorang asisten profesor dan pindah ke Urumqi, ibukota provinsi Xinjiang. Ia kemudian mengembangkan bisnisnya dan menjadi salah satu dari tujuh orang terkaya di Cina. Perusahannya beroperasi di Cina, Rusia, dan Kazakhstan. Ia memiliki sejumlah proyek kemanusiaan di antaranya 1.000 Families Mothers Project yang membantu perempuan etnis Uighur memulai bisnis sendiri.

Wanita yang dua kali masuk nominasi peraih Nobel ini sempat mendekam di penjara Cina (1999-2005) sebelum diasingkan ke Amerika Serikat.

Nama Kadeer kembali mencuat akhir-akhir ini seiring terjadinya Kerusuhan Urumqi, Juli 2009. Tragedi ini pecah pada tanggal 5 Juli 2009, di Urumqi antara etnis muslim Uighur dan Han. Korban meninggal mencapai angka 200 jiwa.

Sumber: Al Jazeera & Tribun Timur

Tuesday, July 21, 2009

Pemerintah Kairo Larang Maulid Sayyidah Zainab

Para peziarah di Sayyidah Zainab

Peringatan hari lahir (maulid) Sayyidah Zainab, salah satu cucu Rasulullah SAW dirayakan setiap tahun di. Ribuan muslim dari berbagai daerah di penjuru Mesir berdatangan. Namun tahun ini tradisi itu terancam batal karena pemerintah Kairo memutuskan untuk meniadakan acara maulid tersebut. Abdel Azeem al Wazir, Gubernur Kairo menerapkan kebijakan ini sebagai langkah pencegahan terhadap wabah flu babi. Hingga 16 Juli, tercatat 122 kasus penyakit yang disebabkan virus H1N1 di negeri Piramida ini.

Sejak pembatalan ini diumumkan minggu lalu, petugas keamanan telah memaksa para peziarah untuk meniggalkan lapak dan tenda-tenda di sekitar masjid Sayyidah Zainab, Kairo. Acara puncak yang dijadwalkan 21 Juli ini terancam tidak terlaksana.

Sumber: Al Masr
Pelarangan ini juga membuat para pedagang gundah. Sayid Madkour, warga provinsi Kafr al Sheikh harus rela melihat dagangannya tidak laku. "Padahal saya sudah membawa banyak mainan anak-anak senilai 3.000 pound untuk dijual di sini." "Acara ini (maulid Sayyida Zainab) merupakan warisan leluhur," ujar Sheikh Abdul Gelil Mohammed, perwakilan Tariqah Qasimiyah, salah satu kelompok sufi muslim sunni kepada surat kabar al Masry al Youm. Tokoh Tarekat asal Qalyubiya tersebut menuntut pemerintah untuk menutup wadah-wadah keramaian lain seperti pasar dan bioskop, bukan hanya festival maulid ini.

Sumber: Al Masry Al Youm, 19 Juli 2009

Monday, July 20, 2009

Hari Lahir Mandela Jadi Hari Nasional

Johannnesburg-Berbarengan dengan ulang tahun Nelson Mandela ke 91, Sabtu (18/07), para pendukungnya meresmikan sebuah hari khusus dengan menggunakan nama Presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan (Afsel) ini.

Mandela beserta keluarganya dan kerabatnya merayakan "Hari Mandela" dimana masyarakat dianjurkan untuk melakukan perbuatan baik terhadap lingkungan sekitar. Yayasan sosial milik Mandela mengharapkan "Hari Mandela" menjadi acara nasional tahunan.

"'Hari Mandela' diadakan untuk memperingati kehidupan Nelson Mandela. Selain itu juga merupakan seruan kepada masyarakat dunia agar percaya terhadap kekuatan yang ada dalam diri mereka untuk merubah keadaan di sekelilingnya," ujar juru bicara yayasan Mandela.

Inisiatif ini mendapat dukungan dari PBB. Ban Ki-moon, Sekretaris Jenderal PBB menggambarkan Mandela sebagai "perwujudan dari nilai-nilai luhur yang ada di PBB".

"Komitmen Mandela terhadap demokrasi di Afsel, ketabahannya terhadap keadilan dan sikap pemaafnya kepada pihak yang selama ini menyakitinya merupakan sifat-sifat seorang yang mulia," puji Ban. "Semoga kita bisa meneladani kebijaksaan dan karyanya di masa depan," tambahnya lagi.

Bakti Sosial
Setelah menjabat sebagai presiden Afsel selama satu priode (1994-1999), Mandela mengabdikan diri dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan seperti memerangi AIDS dan kemiskinan. Selain itu Mandela juga aktif dalam kampanye sosial membantu anak-anak yang kurang beruntung di negaranya seperti mengumpulkan pakaian bekas, renovasi sekolah-sekolah dan pembangunan rumah singgah bagi para tuna wisma.

Simpatisan "Hari Mandela" mengajak masyarakat untuk mengorbankan waktu paling sedikit satu menit untuk pelayanan umum. Seperti Thandiwe Gwinza, perawat rumah sakit di Johannesburg yang ikut menjadi sukarelawati untuk memasak sup.

"Pagi ini saya telah menghabiskan 67 menit untuk membantu orang-orang memasak sup. Saya juga memberikan pakaian bekas saya kepada mereka yang kurang mampu," jelasnya.

Para tokoh negara juga tidak tinggal diam. Jacob Zuma, presiden Afsel mengunjungi kawasan miskin di Johannesburg setelah lawatan ke kediaman Mandela. Helen Zille, pemimpin partai oposisi pemerintah pun terlihat sibuk di dapur umum.

Sumber: Al Jazeera, 19 Juli 2009

Sunday, July 19, 2009

Tiga Hari untuk Bersedih dan Berbangga


Kamis, 16 Juli 2009
Setengah tak percaya aku mendengar kabar wafatnya Badrun. Saat itu aku masih berada di Wisma Nusantara, Rabea el Adawea karena ada kegiatan yang diselenggarakan
Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Mesir. Salah seorang teman menyodorkan rekaman percakapannya melalui aplikasi chatting Yamee! di ponselnya yang mengabarkan berita tersebut. Masih tak percaya, aku buka Yahoo! Messenger di ponselku dan kudapatkan banyak pesan offline memberitakan kabar duka; adik kelasku Badrun Syamsu Rangga Dyka meninggal akibat tenggelam di pantai Sharm el Sheikh. Teman-teman lainnya yang ikut rombongan tour ke Sinai sempat memberikan pertolongan namun Allah memanggilnya dalam perjalanan ke Rumah Sakit. Malam setelah selesai acara, aku mampir di Sekretariat IKPM Cab. Kairo, ingin memastikan kejadian itu. Ternyata kabar yang tidak aku harapkan itu bukan isapan jempol belaka. Di IKPM sudah ada beberapa senior termasuk Abdullah Yazid, Presiden Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia Mesir. Pemuda asal Ponorogo ini memang terkenal mudah bergaul dengan siapa saja. Tak heran, kepergiannya menoreh jejak duka yang membekas. Selamat jalan Sahabat! Rezeki, jodoh dan ajal memang sudah tertulis atas kehendakNya.

Jum'at, 18 Juli 1987

Teroris sialan! Jakarta kembali diguncang ledakan bom. Setelah selama tiga setengah tahun relatif aman dari kejadian bernuansa terorisme, pagi ini Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton Hotel luluh lantak. Parahnya, hotel Ritz menurut rencana adalah tempat menginap pemain tim sepakbola Manchester United selama di Jakarta. Buntutnya, kesebelasan besutan Sir Alex Ferguson ini membatalkan pertandingan ujicoba melawan Indonesia All Star. Aku memang bukan penggemar fanatik United, tapi gagalnya tur tim berjuluk 'Setan Merah' ini ke Indonesia membuat wajah kita tercoreng. Apalagi jika menyangkut cita-cita menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Yang lebih mengesalkan adalah respon pemerintah yang mengkait-kaitkan tragedi ini dengan isu konspirasi politik. Bah! Jadi tambah puyeng kepalaku!

Sabtu, 19 Juli 2009
Ba'da shalat Zhuhur, jenazah Badrun dishalatkan di Masjid As Salam. Menurut rencana, besok almarhum akan diterbangkan ke Indonesia untuk dikebumikan di tanah kelahirannya Ponorogo sesuai permintaan keluarga. Bapak A. M. Fachir, Duta Besar Indonesia di Cairo juga ikut hadir dan memberikan sambutan seusai shalat jenazah. Beliau berpesan agar kita selalu berlomba berbuat kebaikan agar nantinya ketika harus meninggalkan dunia yang fana ini meninggalkan jejak yang bermanfaat bagi orang lain seperti yang sudah dicontohkan alm. Badrun. Sebulan silam, buku karangan Badrun diterbitkan oleh Lingkar Pena Publishing House, salah satu penerbit terkenal. Badrun menggunakan nama pena 'Fahdin Ardhain' ketika merampungkan buku berjudul 'Diary Dodol ABG Ngocol' ini. Laman Lingkar Pena di Multiply pun merilis berita belasungkawa.

Di luar pagar masjid aku bertemu Hafidz Apriliyan, teman sekelasku dulu di Pesantren. Hafidz yang kuliah di fakultas Bahasa Arab di luar dugaan meraih nilai mumtaz (cum laude). Mahasiswa fakultasi ini memang lebih sedikit dibanding dengan fakultas Ushuluddin & Syariah sehingga nilai ujian semester akhir kemarin juga lebih dahulu turun. Selamat Kawan!

Jujur, aku iri sekaligus bangga dengan mereka berdua.

Saturday, July 11, 2009

Kontes Desain Sampul

Baru-baru ini Kedutaan Besar Republik Indonesia di Cairo melalui Fungsi Pensosbud mengadakan lomba desain cover buku "Potret Hubungan Indonesia-Mesir". Dengan segala kerendahan hati aku memberanikan diri ikut. Peluang menang kecil sih sebab dari 25 orang yang ikut, kebanyakan adalah para maestro desain grafis mahasiswa Indonesia di Mesir.

Untuk menghibur diri dan mengatasi krisis kepercayaan pribadi aku posting saja di blog contoh sampul depan dan belakangnya.

Sampul Depan


Sampul Belakang

Friday, July 3, 2009

Coklat Mahmud


Kairo diselimuti musim dingin. Suhu rata-rata di bawah 10 derajat celcius. Bagi mahasiswa Asia Tenggara sepertiku, temperatur ini cukup ekstrim. Suasana seperti ini paling enak ya, meringkuk di bawah selimut sambil menyeruput teh hangat, wuih nikmatnya. Namun dingin yang menggigit tak menyurutkan semangatku kuliah. Meski harus berjubel dalam bus menuju distrik Darrasah di mana Universitas Al Azhar berada. Di sini memang terdapat kampus khusus bagi fakultas-fakultas agama Islam, sedangkan fakultas umum Al Azhar seperti kedokteran, pendidikan dan teknik berada di Nasr City.

Fiuuuh! Akhirnya, jam kedua selesai. Wah, berat juga yah yang namanya pejaran Nudzum Islamiyah itu. Sudah bukunya tebal, materinya banyak lagi. Semoga ujian nanti aku bisa dimudahkan. Amien.

Aku langsung menuju Masjid Azhar. Ya, biasa. Shalat Dhuhur disana, dan nantinya makan siang dengan raghif kibdah[1]. Cukup 2 pound[2] sudah bisa kenyang. Musim dingin seperti ini perut memang cepat lapar.

Setelah melahap habis kibdah. Aku dan teman-teman Indonesia lainnya melanjutkan perjalanan sambil menunggu bus. Sesekali perjalanan kami dibumbui canda dan tawa gelak para pemuda. Kami sampai melupakan bahwa kami sudah berkepala dua. Setidaknya, kamui tidak kehilangan sense of humor masa ABG kami. Hehehe…

Tak terasa, bus yang kami nanti belum juga lewat. Kami memutuskan untuk menuju ke terminal Darrasah. Tak terlalu jauh memang, hanya sekitar lima ratus meter dari tempat kami berdiri sekarang. Setibanya disana, aku menyaksikan betapa ramainya terminal ini. Mengingatkan aku akan terminal kotaku dulu. Yah, semasa SMP sebelum masuk pesantren, aku sering menghabiskan waktu seusai jam pelajaran sekolah berakhir di sana. Sekedar kongkow bersama teman di warung kopi sambil ngemil pisang goreng atau ngegodain cewek yang lewat. Betul kata orang, masa ABG memang masa yang paling indah.

Lamunanku putus bersamaan saat pandanganku menangkap sosok kecil menjajakan coklat kepada orang-orang yang seakan sibuk sendiri dengan aktifitas mereka.

“25 piaster saja…siapa yang mau beli?” teriaknya lantang.

Hanya seperempat Pound, coklat yang di tawarkan anak bocah ini para calon penumpang yang menunggu bus mereka di terminal. Dengan lincah kakinya menerobos tubuh-tubuh orang dewasa yang memenuhi terminal. Tanpa putus asa menawarkan dagangannya pada setiap orang meski tak seorang pun yang tertarik membelinya.

Ekor matanya menangkap kehadiranku yang memperhatikannya dari jauh. Perlahan dia memutar haluan, berjalan cepat ke arahku. Sinar matanya dengan penuh harapan semoga dagangannya kubeli nanti.

Sebatang coklat disodorkan padaku. Aku menolak dengan halus.

“Asif ya walad, ana muflisy,”[3] aku menolak secara halus.

“Ayolah beli satu saja,” anak ini mencoba merayu.

Pengasong ini tak bergeming dari tempatnya berdiri. Masih menyodorkan sebatang coklat. Apa boleh buat aku tak bisa menolongnya, tidak ada uang kecil lagi. Yang tersisa hanya 50 piaster, hanya cukup buat ongkos bus pulang ke flat di Nasr City. Memang di dalam ransel masih ada selembar 20 pound, terlalu besar untuk membeli sebatang coklat. Perlahan posisi anak ini mendekat lalu duduk di sampingku.

"Ayolah 'amu… beli dong… satu saja,"

Aku hanya menggeleng sambil memandangnya sekilas. Bocah dekil, kotor dengan rambut kusut yang tak pernah disentuh shampoo. Usianya mungkin sekitar 7 atau 8 tahunan.

“Nama kamu siapa?” tanyaku.

“Mahmud,” jawabnya sambil menaruh sebatang coklat di pangkuanku.

"Di mana rumah kamu?"

"Saya tinggal di Gamalea sama ibu," hmmm…rupanya tak begitu jauh dari sini.

"Ayah?" aku keceplosan.

"Sudah meninggal ketika saya dalam kandungan," jawabnya dengan nada sedih.

"Maaf," aku merasa bersalah mengungkit kisah sedihnya.

Mahmud diam sejenak, mungkin merenungi nasibnya. Matanya menerawang jauh ke depan. Aku pun ikut diam. Anak sekecil ini harus berjibaku menghidupi dirinya. "Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu" kata Iwan Fals dalam salah satu lagunya. Aku tak mau bertanya tentang pekerjaan ibunya. Sudah pasti mereka hidup dalam kekurangan. Memaksa Mahmud meloncat dari bus ke bus menjajakan coklat yang untungnya tak seberapa di terminal ini.

Dalam hati aku mensyukuri apa yang aku dapatkan di masa kecil. Keluarga kami cukup berada. Gaji orang tuaku sebagai pegawai negeri cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Akupun dapat menikmati masa kecil sebagai anak-anak. Tak sulit bagiku minta dibelikan playstation, sepeda baru atau mengoleksi komik Dragon Ball yang dulu ngetop. Dengan sedikit rengekan manja, hampir semua keinginanku akan dikabulkan.

"Dapat berapa hari ini?" tanyaku iseng.

"Yah, cuma sedikit…" Mahmud menyeluarkan lembaran pound lusuh dari saku celananya. Hanya ada tiga lembar nominal 1 pound. Padahal sudah hampir Ashar.

Aku kembali memandangi anak kecil ini dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kerasnya kehidupan membuat bocah yang seharusnya tampil dengan segala kelucuan yang menggemaskan dalam usia seperti ini berpenampilan lusuh dan tak terawat khas anak jalanan. Sampai-sampai resleting celananya dibiarkan terbuka. Urusan perut yang terus menjerit sepertinya harus diutamakan. Apalah artinya resleting celana yang rusak dibanding kebutuhan primer yang lebih mendesak.

"Hei, perbaiki celana kamu tuh…" aku menunjuk celananya sambil tersenyum.

Mahmud ikut tersenyum. Senyum yang memiliki ribuan makna. Di sebelah kami, para gadis murid sekolah menengah tertawa kecil melihat kepolosan anak kecil ini. Kami tergelak, paling tidak sejenak Mahmud melupakan hidupnya yang malang.

Aku jadi iba. Ingin rasanya membantu meringankan beban hidup Mahmud dengan membeli barang satu atau dua bungkus dagangannya. Aku mengambil dua batang coklat. Selembar 20 pound kukeluarkan dari ransel.

"Wah…uangnya besar sekali, gak ada kembaliannya," kata Mahmud.

"Ya sudahlah, kembaliannya buat kamu saja," aku menyahut.

Entah kenapa aku jadi begitu baik hari ini. Padahal peminta-minta di jalan saja jarang kukasih, kalau pun memberi paling banyak aku menyerahkan pecahan 50 piaster. Mahmud beruntung hari ini.

Aku merenungi tausiyah salah satu ustadz kondang di televisi swasta Indonesia. Kata beliau, sedekah tidak akan membuat orang miskin, justru sebaliknya Allah akan menggantinya dengan balasan berlipat ganda. Salah seorang temanku di kampus juga pernah berkisah tentang seniornya yang memberi uang 150 pound pada pengemis di masjid. Begitu keluar dari pekarangan masjid, tiba-tiba tangannya ditarik oleh pria setengah baya. Tanpa banyak omong, dia dimasukkan ke dalam sebuah sedan Hyundai yang masih mulus. Masih dipenuhi tanda tanya, seketika pria yang menariknya tadi memberikan sepucuk amplop tertutup. Sesampainya di rumah, ternyata amplop tersebut berisi uang 150 pound!

Teman-temanku tiba-tiba berlari. Rupanya bus yang ditunggu telah tiba. Aku tak mau kalah, bergegas naik, berjuang mendapatkan tempat duduk. Dari jauh terdengar teriakan Mahmud, "Syukran ya 'ammu"[4]. Sambil lari, kulambaikan tangan padanya.

Naik bus dari Darrasah ke Nasr City memakan waktu hampir setengah jam, cukup melelahkan jika harus berdiri sepanjang jalan. Untungnya masih ada bangku kosong di belakang sopir. Terasa begitu nikmat saat punggungku menyentuh jok yang sudah robek di sana-sini. Empuknya melebihi sofa mewah sekalipun. Sambil menunggu bus berangkat kunikmati coklat yang kubeli dari Mahmud. Lumayan sebagai pengganjal perut.

Lima menit kemudian bus berderak perlahan, Udara dingin membelai lembut. Mataku perlahan terpejam. Baru sekian detik aku menutup mata terdengar ribut-ribut. Ada yang marah sambil menyumpah-nyumpah kepada sopir dari luar. Bus berhenti.

Tabiat orang Mesir memang keras kepala dan suka meledak-ledak. Kalau sudah marah segala serapah paling tidak senonoh pun diteriakkan. Jalan raya merupakan tempat yang paling sering menjadi ajang adu mulut tersebut. Gaya mengemudi mereka yang seenaknya saja kerap menimbulkan sengketa akibat kecelakaan lalu lintas kecil seperti keserempet atau tersenggol sedikit. Tapi anehnya amat jarang terjadi adu jotos. Dengan kata "ma'alisy"[5] persoalan selesai begitu saja tanpa dendam. Ada-ada saja.

Aku menengok melalui jendela, rupanya di luar banyak orang mengelilingi bus kami. Aku berdebar melihat puluhan bungkus coklat berhamburan di sana. Detak jantungku tambah kencang melihat sesosok tubuh kecil digotong ke pinggir terminal. Bocah yang kutemui beberapa menit yang lalu. Seketika, sisa coklat yang masih menempel di sela-sela gigiku terasa pahit.
_______________________
[1] Roti gandum isi tumis hati sapi.

[2] 1 pound (mata uang Mesir) = 100 piaster

[3] “Maaf nih, saya lagi gak punya uang”

[4] Terimakasih bang!

[5] Maaf/ gak apa-apa.

Khianat!

alangkah nikmat jadi pengkhianat;
nyenyak sembunyi di balik selimut hangat
seret langkah ringan, tenteng beratus topeng berwajah sembab meminta iba

menjaja raut bijak tanpa dosa

menyelip rona licik penuh hasrat

alangkah hebat hidup pengkhianat;
pendam anyir durjana dalam wujud orang baik-baik: sobatku


*ditulis kembali untuk memperingati sebuah tragedi kemanusiaan

Tuesday, June 30, 2009

Sri Lanka Tangkap Paranormal Terkemuka

Pemerintah Sri Lanka menangkap Chandrasiri Bandara, seorang paranormal terkemuka karena menyebut presiden negara tersebut akan dilengserkan dalam sebuah tulisan di media.Hasil ramalan Chandrasiri minggu lalu menyebut bahwa pemerintah Sri Lanka akan mengalami krisis sekitar bulan September dan Oktober dikarenakan masalah politik dan ekonomi. Karena ramalan ini, kepolisian menangkapnya Rabu lalu, (24/06).

Para pakar astrologi memperkirakan bahwa perubahan posisi bintang awal Oktober depan akan mempengaruhi kondisi perpolitikan Sri Lanka. Kalangan oposisi mengutuk penangkapan ini dan memperingatkan bahwa Sri Lanka sedang berhadapan dengan sebuah tindakan ‘diktator’.

Presiden Sri Lanka, Mahinda Rajapaksa menyatakan dirinya percaya terhadap ramalan. Kepada wartawan asing beberapa waktu lalu, Rajapaksa yang memerintah sejak November 2005 mengatakan bahwa dirinya sering berkonsultasi kepada paranormal tentang penentuan waktu pidato dan kunjungan kenegaraan.

Sumber: Al Jazeera dan MediaMuslim.net

Thursday, June 25, 2009

Ledakan Baghdad Tewaskan Puluhan

Puluhan korban tewas akibat ledakan bom di Sadr City, sebelah timur Baghdad. Perisiwa ini terjadi beberapa hari sebelum rencana tentara Amerika Serikat meninggalkan kota-kota utama Irak. Keamanan setempat mengatakan bahwa ledakan di pasar Mraidi itu menyebabkan 72 orang meninggal dan lebih dari 100 luka-luka. Sebagian dari mereka adalah anak-anak, sedangkan puluhan kios dan toko rusak berat.

Ledakan berasal dari sepeda motor yang diisi dengan bahan peledak dan ditutupi dengan buah-buahan dan sayuran. Pelaku berhasil kabur dan meninggalkan kendaraan tersebut sebelum bom meledak, sebut salah satu sumber resmi.


Musibah ini terjadi 4 hari sebelum penyerahan kendali dari AS kepada militer Irak di Sadr City. Menurut rencana, tanggal 30 Juni serdadu AS akan ditarik dari kota-kota besar di Irak.

Perdana Menteri Irak , Nuri al Maliki menyebut bahwa serangan ini merupakan upaya untuk meruntuhkan kepercayaan diri pihak keamanan Irak. Maliki juga mewanti-wanti agar warga tetap waspada sebab disinyalir serangan serupa akan meningkat beberapa waktu ke depan.

Sumber MediaMuslim.net dan Al Jazeera

Sunday, June 21, 2009

Dukung Yulian!

Setelah sekian lama, akhirnya aku berani mengirimkan karya ke situs Kementerian Desain Republik Indonesia (KDRI). Sebenarnya sudah lama aku ingin ikut kirim desain dalam Lomba Kaos yang diadakan oleh KDRI. Targetnya bukan menang sih sebab saingannya banyak, jago-jago lagi. Tapi paling tidak sudah berani menerbitkan karya. Maklum, aku hanya lulusan pesantren yang tau dunia desain melalui pembelajaran otodidak, masih belum bisa apa-apa.

Maka dari itu aku mengajak para sahabat semua untuk memberikan dukungan, biar gak
malu-maluin. Untuk memberikan dukungan klik di sini.

Sebelum dan sesudahnya terhatur beribu terima kasih.

Monday, June 15, 2009

Garuda di Dadaku: Mengembalikan Optimisme Bangsa



Kami seflat memiliki kebiasaan menonton siaran berita Liputan 6 SCTV melalui streaming internet. Namanya juga anak rantau di negeri orang. Akses internet yang lumayan mudah di Mesir membuat kerinduan ke kampung halaman seakan terobati. Jarak yang jauh bukan masalah yang patut dikhawatirkan. Setiap waktu kami bisa memantau perkembangan terbaru di tanah air.
Berita pagi ini memuat tentang film "Garuda di Dadaku" yang beberapa hari lagi akan tayang di bioskop-bioskop di Indonesia. Ceritanya tentang seorang anak bernama Bayu yang amat menggemari sepakbola. Tidak tanggung-tanggung, bakatnya dalam mengolah si kulit bundar mengantarkan Bayu ikut seleksi tim nasional Indonesia usia 13 tahun. Namun sayang niatan mulia untuk membela panji Merah Putih itu ditentang sang kakek yang menganggap pesepakbola tidak memiliki masa depan. Bisakah Bayu meraih angan yang selama ini diimpikan dan meluluhkan hati Kakek?

Benar-benar angin segar dalam dunia perfilman kita! Meski beberapa tahun belakangan perfilman nasional kembali hidup, sebab masyarakat sudah amat jenuh dengan genre semisal horror, komedi cabul, atau kisah percintaan murahan. Sebagai film keluarga, sutradara Ifa Isfansyah ini memang membidik momen liburan sekolah. Dalam beberapa ulasan di media massa, "Garuda" disebut sebagai film mendidik yang patriotik. Bahkan dalam laman Facebooknya, ada yang mengaku menangis saat menonton trailer film ini.

Sambil mendownload mp3 soundtrack "Garuda" dari situs Ziddu, ada beberapa poin yang terpikir olehku; Pertama, Indonesia punya talenta-talenta berbakat dalam sepakbola. Buktinya gocekan Emir Mahira yang memerankan Bayu tak kalah dengan olah bola anak-anak Argentina atau Brasil! Kedua, bangsa ini harus optimis menghadapi masa depan. Cita-cita sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 bukan sesuatu yang mustahil. Ketiga, mudah-mudahan para pemilik production house mulai berpaling dari tema-tema tidak mendidik seperti horror dan percintaan. Tidak salah memang menggarap dua tema tersebut asal dibikin dengan keseriusan. Lihat saja film India atau Korea.

Judulnya mengambil nama lagu yang sering dinyayikan supporter tim nasional sepakbola Indonesia. Terus terang aku punya romantisme tersendiri dengan lagu ini. Aku juga pernah menyaksikan supporter Persija, The Jak Mania, menyanyikan lagu tersebut--tentunya dengan lirik mendukung Persija--di stadion Manahan Solo. Ceritanya saat nyantri di Gontor dan kebetulan jalan-jalan ke Semarang, aku mampir dulu di Solo. Kebetulan ada pertandingan antara tuan rumah Solo FC dan Persija. Oo, kok malah cerita...!? Bagi sahabat yang berada di Indonesia silakan tonton "Garuda". Tapi bagi teman-teman Kairo, tunggu saja download-annya di Youtube atau Rapid Share.

Monday, June 8, 2009

Fir'aun Tak Lagi Jumawa

Tim Nasional Aljazair

Sabtu, 6 Juni
2009.

Suasana ruang ujian lain dari biasanya. Dua orang mahasiswa dari Aljazair jadi bulan-bulanan ejekan petugas yang mengawasi lokal kami.Mahasiswa asing lainnya mafhum sebab hari ini (Ahad, 7/6) Mesir akan memulai mimpi mereka lolos ke Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Fir'aun--julukan tim nasional sepakbola Mesir--bertandang ke negeri jiran Aljazair. Si petugas dengan bangga menyebut-nyebut rekor Mesir sebagai juara Afrika enam kali. Luar biasa lagi, dua gelar terakhir (2006 & 2008) diraih berturut-turut. "Negara kalian itu tidak ada apa-apanya. Inilah kami para Fir'aun!" ujar lelaki gemuk itu. Dua pemuda Aljazair hanya tersenyum kecut. Sabar ya!

Koran-koran lokal setempat menyebutnya sebagai langkah awal untuk berlaga di turnamen bola kaki paling bergengsi se-jagat tersebut. Ini tidak berlebihan karena pada partai pertama kualifikasi di Kairo, Mesir ditahan imbang tamunya Zambia 1-1. Jika sampai pulang dari Aljazair dengan kepala tertunduk, kesempatan lolos semakin terjal.

Mungkin saja doa dua teman asal Aljazair tadi dikabulkan Allah SWT. Meski hanya bercanda, bisa saja guyon pengawas tersebut membuat salah satu dari mereka tersinggung. Lalu si Aljazair berdoa agar orang-orang Mesir bungkam, dan voila! Doa orang yang dianiaya itu terkabul seperti dalam hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari. Timnas Mesir pun takluk oleh tuan rumah! Tiga gol dari
Karim Matmour, Abdel Kader Ghezzal dan Rafik Djebbour hanya bisa dibalas satu gol Abu Treika di menit-menit akhir babak kedua. 3-1 untuk tuan rumah.

Sungguh mengecewakan bagi warga Kairo. Padahal animo masyarakat Mesir begitu meluap-luap. Toko-toko tutup lebih awal. Bengkel-bengkel yang berada di bawah flat kami juga menghentikan aktifitas demi menonton tim kesayangan. Rupanya kesebelasan Fir'aun harus berjuang lebih keras lagi.

Info terkait Al Masry Al Youm

Sunday, June 7, 2009

Anak-anak Rantau Sukses di Asia

Ada sebuah artikel menarik dari situs Goal.com tentang para pesepakbola terkenal dari benua lain yang sukses di Asia. Ada beberapa nama yang pernah besar di kompetisi Eropa yang ternyata 'nyangkut' di benua timur seperti Rivaldo dan Robbie Fowler. Yang lebih menarik, penyerang asal Uruguay yang sudah kenyang asam-garam di Indonesia --Christian Gonzales-- masuk dalam urutan sepuluh besar. Ini dia kutipannya:

10. Indonesia - Christian Gonzales (Uruguay) His nickname is 'El Loco' and he is certainly crazy for goals. For PSM Makassar, the Uruguayan striker netted 32 in 56 games. From 2005-09, he scored and amazing 100 in 102 for Persik Kediri. Of late, he has been on loan with Persib Bandung and has continued his great form with six from seven. He wants Indonesian citizenship and with a record like that, few locals would complain.

9. South Korea - Dragan Mladenovic (Serbia)
There can be few players in Asia who boast a resume like the gangly Incheon United midfielder. The former Serbian international has played for the likes of Red Star Belgrade, Glasgow Rangers and Real Sociedad – though he has never been one to stay in one place too long. He is settled now in the K-League and is currently in his third season with United.


8. Japan - Robson Ponte (Brazil)

Some genuine world stars have played in the J-League – Zico, Gary Lineker, Dunga, Hristo Stoichkov, Michael Laudrup, to name just a few. There is no current import that could stand up to such forefathers, but Robson Ponte is a class act. The Brazilian playmaker drove Urawa Reds to the 2007 Asian title and was named the J-League player of the year for his troubles. Has in the past been linked with a move back to Germany, where he starred with Wolfsburg and Bayer Leverkusen, but at the age of 32, his next transfer will likely be back to Brazil.


7. UAE - Hosny Abd Rabo (Egypt)
The player of the 2008 African Nations Cup has lived up to his reputation since moving to Al Ahli. His performances in helping Egypt lift the continental crown meant that there were a host of European clubs chasing the midfielder’s signature last summer. It was something of a surprise then that he chose to move to Al Ahli. What is less surprising is the fact that he has helped the club move to within reach of a fifth league title.

6. Saudi Arabia - Christian Wilhelmsson (Sweden)

A journeyman who has arrived, played and left for such clubs as Anderlecht, Nantes, Bolton Wanderers, Roma and Deportivo La Coruna, he has settled in Saudi Arabia and has still managed to stay in the reckoning with the Swedish national team. The speedy wideman has scored and made a number of vital goals as Al Hilal finished as runners-up in the league and look set to make the second round of the Asian Champions League.

5. Qatar - Carlos Tenerio (Ecuador)
The Ecuadorian star has been at Al-Sadd for five years and has talked at various times about quitting Qatar and heading to Europe. It hasn’t happened yet and he is still banging them in for one of the region’s powerhouses – he was the league’s top scorer in 2006. After a good 2006 World Cup, in which he scored against Poland and Costa Rica, he is still a fixture in the forward line of the South American team.


4. UAE – Rafael Sobis (Brazil)
Reportedly the subject of a big-money bid from Newcastle United last summer, the Brazilian international decided to join Al Jazira instead. He took time to find his feet and he felt the frustrations from some of the fans and media. But soon he was showing just why he was in demand. The former Real Betis man since has enjoyed a good season in the UAE and his new team are still in with a chance of the title.


3. China – Damiano Tomassi (Italy)
The veteran midfielder does not have the best memories of Asia after playing in all four of Italy’s 2002 World Cup matches in Korea/Japan, but after a slow start he is starting to settle in Tianjin – or he was. There are contract disputes between the players and the club and performances are suffering. Tianjin spent big over the winter and the former Roma star will be hoping that any problems are nipped in the bud. Fans will be hoping he stays, as one newspaper said recently: “Tomassi is the only one with brains in the team.”


2. Australia – Robbie Fowler (England)

With Australia now part of the Asian Football Confederation, Robbie Fowler could one day be lining up in the ACL against Rivaldo. That is in the future, however. First the 34-year-old Liverpool legend has to show that he still has the hunger and the engine to shine down under. Whatever happens, 'God' will be making headlines all season long for North Queensland Fury and the A-League.


1. Uzbekistan – Rivaldo (Brazil)
Former World Player of the Year and 2002 World Cup winner, Rivaldo’s arrival in Tashkent helped put his ambitious new club on the map. He hasn’t done badly at all so far.
He helped the team to a domestic title, though much of the work was done before he arrived, and played a part in the team, formerly known as Kuruvchi, making the semi-finals of the 2008 Asian Champions League. Now he is also on the coaching staff with Bunyodkor and is looking to leave a legacy in Central Asia.

By: John Duerden/ Asia Editor