Friday, October 1, 2010

Perang Bersama Arwah



Siapa yang tidak kaget jika tiba-tiba mendapati dirinya berada dalam kancah peperangan? Tidak ada belas kasihan. Yang ada hanya prinsip: membunuh atau dibunuh!

Itulah yang pernah dialami Muhib—sebut saja demikian—teman satu fakultas saya asal Rembang, Jawa Tengah. Pemuda tambun dengan berat 82 kg tersebut mengalami “pengalaman spiritual” saat tidur di Masjid Sultan Farag bin Barquq, Dowaiqa, tidak jauh dari “Madinah al Bu’uts”— asrama untuk para mahasiswa asing yang kuliah di Universitas Al Azhar.

Sebagai pemuda Jawa yang memegang teguh tradisi keluarga Nahdliyin, Muhib rajin i’tikaf keliling masjid-masjid kuno sekitar Kairo selama bulan Ramadhan. Berbekal ransel biru yang warnanya sudah meluntur, Muhib menembus panas Kairo yang membakar ubun-ubun.

“Shalat di masjid-masjid seperti itu, ada sensasi tersendiri,” ujarnya beralasan. Biasanya, sambil menunggu buka puasa Muhib mengisi waktu dengan membaca Al Qur’an atau sekedar tidur-tiduran di pelataran Masjid. “Rasanya seperti ada di zaman-zaman keemasan Islam di Mesir,” katanya penuh takjub. “Kayak di film Sinbad dan Aladin.”

Muhib kerap menghabiskan waktu dari Ashar hingga shalat Tarawih. Tak jarang pula di ikut qiyamul lail bersama hingga dini hari. Dinding masjid-masjid yang masih dilestarikan dalam bentuk aslinya; bebatuan berwarna coklat membuat kesan kuno makin kentara. Malah salah satu tempat langganan Muhib, Masjid Sultan Hasan, konon dibangun dengan menggunakan bebatuan raksasa dari Piramid di Giza.

Suatu ketika, di alangkah kagetnya Muhib saat tidurnya menunggu shalat Ashar terusik suara keributan. Lebih terkejut lagi, saat membuka mata dirinya sudah berada di tengah kecamuk perang. Berada di atas punggung kuda, dengan baju besi dan tombak terhunus. Muhib sekarang adalah anggota barisan elit kavaleri berkuda Mamluk yang ditakuti itu!

“Allahu Akbar!” pekik takbir membahana merindingkan bulu roma. Ini perang pasukan Mamluk melawan tentara Mongol yang bengis. Tentara Mongol pimpinan Hulagu Khan yang brutal itu sudah membumi hanguskan Baghdad. Mereka terus berekspansi menyisir Timur Tengah menuju ke arah barat. Harapan dunia bergantung kepada pasukan Mamluk yang berpusat di Kairo. Jika dalam peperangan di Ain Jalut ini Mongol yang menang, makan dunia Islam dan bahkan seluruh alam akan binasa.

Pada masa itu, kekuatan militer Mongol memang amat mengerikan. Bahkan hampir separuh dunia harus merasakan kebiadaban para Khan. Bahkan menurut sejarah nasional yang dipelajari di siswa-siswa sekolah di Indonesia, Kubilai Khan pernah mengirim pasukan ke tanah Jawa. Konon ceritanya, Kubilai murka setelah Raja Singhasari, Kartanegara melukai wajah dan telinga utusan Mongol yang datang agar tunduk Singhasari pada mereka. Pada akhirnya dengan muslihat yang cerdik, pasukan Mongol-Tiongkok ini berhasil dipukul mundur oleh pendiri Kerajaan Majapahit, Raden Wijaya.

Jauh-jauh hari, Hulagu Khan sudah mewanti-wanti Sultan Qutuz lewat surat yang diantarkan kurir Mongol ke Kairo, ibukota Kesultanan Mamalik. Kesombongan Hulagu sudah memuncak ke sumsum tulangnya. Dia memang pantas untuk bersombong karena tentara Mongol sudah berhasil menyulap dinasti Abbasiyah yang begitu perkasa menjadi rata dengan tanah. Namun Hulagu lupa, bahwa ada kekuatan di atas kuasa manusia.

“…satu-satunya cara untuk selamat, adalah menyerah kepada Dinasti Mongol yang perkasa. Tidak ada jalan untuk menyelamatkan diri. Bahkan doa kalian kepada Tuhan sekalipun tidak berguna. Kami akan meluluhantakkan masjid-masjid kalian untuk menunjukkan bahwa Tuhan kalian pun tidak berdaya...”

Demikian di antara isi surat Hulagu.

Serta merta, Qutuz menghabisi keenam utusan Mongol. Kepala mereka digantung di dinding salah satu gerbang kota Kairo yang tersohor, Babul Zuwaila.

Maka, pada bulan Ramadhan tahun 1260 Masehi, pasukan Mongol dengan armada tidak kurang dari 20 ribu bertemu dengan pasukan Mamluk pimpinan panglima Baybars di lembah Ain Jalut, Palestina.

Muhib sadar, pemandangan di depan matanya hanya mimpi. Namun dia tak kuasa beranjak ke alam nyata. Keperkasaan Mamluk beradu dengan keganasan Mongol, begitu asyik ditonton. Debu membumbung ke angkasa, di antara pergumulan perang. Tebasan pedang yang menyabet baju zirah menimbulkan efek percikan api. Trang… trang.… Bunga api berpijar di mana-mana.

Pasukan Mongol dibantu oleh sekutunya; pasukan kerajaan Georgia dan Armenia termakan jebakan. Mereka sudah terkepung di atas kawasan perbukitan Ain Jalut.

Namun bukan Mongol namanya kalau menyerah begitu saja. Mereka berupaya lolos dengan memusatkan serangan ke sayap kiri barisan pasukan Islam. Hampir saja usaha mereka berhasil. Pasukan Muslim sudah hampir kewalahan menghadapi amukan Mongol.

Di saat kritis, Sultan Qutuz memacu kudanya ke tengah-tengah pasukan. Ia melepas helm bajanya agar para tentara bisa melihat wajahnya. Qutuz lalu berteriak nyaring, “Wa islamah, wa islamah…!” “Demi Islam! Demi Islam…!”. Sontak semangat pasukan di sayap kiri melambung, gemuruh pasukan Mamluk menyahut seruan itu. Muhib sampai terbawa suasana yang heroik tersebut, ikut-ikutan memekik sambil mengepal tangan ke atas. “Perasaan saya ketika itu ikut menggelora. Terbakar-bakar rasanya”

Akhirnya, sebagian besar tentara Mongol binasa. Kitbugha, panglima Mongol juga akhirnya tewas. Kitbugha juga termasuk salah satu aktor penting dalam penyerangan Mongol ke Baghdad, tahun 1258.

Ini kemenangan yang menentukan sejarah dunia. Kesultanan Mamluk di Kairo memang harapan terakhir untuk membendung arus Mongol.

“Sepertinya waktu tidur, arwah-arwah panglima Mamluk itu ikut masuk ke mimpi saya. Sayang mimpinya cuma sebentar,” kata Muhib menceritakan “perangnya” bersama tentara Mamluk.

Meski tidak percaya takhayul, bisa jadi Muhib benar. Sebab letak Masjid Farag ibn Barquq memang berada di tengah pemakaman raja dan orang-orang Mamluk. Sultan Farag sendiri meninggal dalam peperangan melawan Mongol di Suriah. Di Masjid ini hanya ada makan ayahandanya, Sultan Al Zahir Saifuddin Barquq. Barquq adalah pelopor dinasti Mamalik Burgi pada abad ke 14. Kata “Burgi” artinya menara. Julukan ini disematkan karena para penerusnya menjadikan benteng peninggalan Shalahuddin yang berada di ketinggian bukit sebagai pusat untuk menjalankan pemerintahan.

Area pemakaman ini berawal pada saat para sufi menyepi di daerah ini. Mereka mendirikan tempat khusus yang disebut khanqah untuk melakukan ritual tasawuf. Kondisi yang senyap dan sepi, amat pas bagi para imam sufi untuk mengasingkan diri, jauh dari hingar-bingar dunia. Hingga beberapa raja dan petinggi Mamalik pun dikebumikan di sini.

Dari Budak Menjadi Raja

Dinasti Mamalik atau Mamluk adalah salah satu kekuatan Islam pada masa keemasannya. Mereka sebenarnya adalah para budak dari Laut Hitam, Asia Tengah dan Kaukasus (Mamluk secara bahasa artinya “yang dimiliki”). Setelah memeluk Islam, mereka menjalani pendidikan militer, terutama kemahiran berkuda. Mereka mulai digunakan pada era Abbasiyah di Baghdad sebagai tentara. Begitu pula pada dinasti-dinasti lainnya seperti Fathimiyah di Mesir dan Turki Utsmani.

Dalam era perang Salib pada masa Shalahuddin Al Ayyubi, para Mamluk ini semakin mendapat tempat dalam kancah politik dan pemerintahan. Di antaranya ada yang menduduki kursi panglima pasukan, petinggi militer hingga perdana menteri. Puncaknya pada tahun 1250, Izzuddin Aybak, seorang atabik (panglima) Mamluk naik tahta sebagai sultan dan memulai era dinasti Mamalik di Mesir. Dinasti Ayyubiyah akhirnya tamat. Periode Mamluk bertahan hingga 1517 sebelum kekuasaan di Mesir berpindah kepada Turki Utsmani.

Ada sebuah budaya unik di kalangan para Mamluk. Tradisi bersaing terpupuk dengan baik. Sebab siapa yang berprestasi, karirnya akan terus menanjak dan tidak mustahil mencapai posisi terhormat seperti Aybak.

Masa Mamalik dikenal dengan kemajuan di bidang militer dan arsitektur. Pasukan berkuda Mamluk amat disegani. Mamluk juga memiliki pasukan artileri baik senjata ringan berupa panah maupun ketapel raksasa. Mereka banyak berperan pada periode kritis dalam sejarah Islam. Ketika itu, ancaman bukan hanya datang dari invasi Mongol, tapi juga dari pasukan salib yang bergerak dari Eropa menuju Yerussalem.

Keangkeran yang Telah Hilang

Selain makam Sultan Barquq, raja Mamluk yang bersemayam di kawasan ini antara lain Sultan Barsbay dan Qaytbay. Kalau melihat kubah-kubah indah, jangan sangka banyak masjid di sana. Kubah-kubah itu merupakan pertanda bahwa di bawahnya ada makam. Komplek Sultan Qalawun di distrik Gamaliya, dekat pasar Khan Khalili bisa dijadikan contoh. Karena memang, pemakaian kubah pada era Mamluk lazimnya diperuntukkan untuk kubur.

Sejauh mata memandang hanya ada petak-petak kubus berwarna coklat. Membentang dari Asrama Bu’uts hingga Imam Syafi’i. Tidak heran karena masyarakat Mesir juga menjadikan daerah ini sebagai area pemakaman keluarga turun temurun. Biasanya di pintu terukir nama keluarga yang memiliki makam tersebut.

Kalau malam tiba, buang jauh-jauh bayangan angker komplek pemakaman seperti yang kita dapatkan di tanah air. Anak-anak kecil berlarian kesana kemari menerobos jemuran pakaian. Gemerlap lampu kelap-kelip di sana-sini. Ini bukan ulah dedemit atau arwah-arwah penasaran. Himpitan ekonomi dan keadaan memaksa sebagian orang tinggal di antara mayat-mayat. Ya, pekuburan keluarga yang berkotak-kotak itu ditinggali manusia.

Keluarga yang memiliki makam tersebut memberikan imbalan kepada mereka untuk berteduh di pekuburan itu. Bukan hanya berteduh, bahkan sampai beranak pinak hingga beberapa generasi.

Pertengahan Januari lalu, Al Ahram Weekly—koran mingguan berbahasa Inggris terbitan Kairo—pernah membahas fenomena ini. Wartawati Dina Rashid menyambangi para tuna wisma di kawasan pamakaman Al Ghafir, Al Mugawrin, Sayyidah Aisyah dan Ain Al Shira.

Mereka menuturkan bahwa sebenarnya mereka ingin hidup normal layaknya orang kebanyakan. Apalah daya, kerasnya kehidupan mengungkung mereka di sini. Stereotip yang berkembang di masyarakat luas juga menganggap mereka sebagai sampah masyarakat. Pemerintah kota Kairo juga berencana menggusur kawasan tersebut dalam rangka pengaturan kembali tata kota Kairo yang memang semrawut. Di mana-mana, nasib orang pinggiran selalu terabaikan. Wallahu’alam.

O, iya…. Sampai sekarang, setiap Ramadhan datang Muhib selalu menyambut dengan suka cita.

“Saya selalu berharap bisa ikut perang lagi bersama laskar berkuda Mamluk, walau hanya dalam tidur. Tapi sayangnya meski udah tidur seharian di Masjid, gak pernah mimpi lagi…” Mujib hanya bisa mengangkat kedua bahunya.

Kairo, Kamis 30 September 2010. Di tengah badai debu.

1 comment:

Zan Insurgent said...

cerita yang menarik tentang salah satu sejarah Dunia Islam,tp sayang ni kok ga ada gambar atau foto tentang masyarakat yang tinggal di pekuburan itu sob..