Friday, July 3, 2009

Coklat Mahmud


Kairo diselimuti musim dingin. Suhu rata-rata di bawah 10 derajat celcius. Bagi mahasiswa Asia Tenggara sepertiku, temperatur ini cukup ekstrim. Suasana seperti ini paling enak ya, meringkuk di bawah selimut sambil menyeruput teh hangat, wuih nikmatnya. Namun dingin yang menggigit tak menyurutkan semangatku kuliah. Meski harus berjubel dalam bus menuju distrik Darrasah di mana Universitas Al Azhar berada. Di sini memang terdapat kampus khusus bagi fakultas-fakultas agama Islam, sedangkan fakultas umum Al Azhar seperti kedokteran, pendidikan dan teknik berada di Nasr City.

Fiuuuh! Akhirnya, jam kedua selesai. Wah, berat juga yah yang namanya pejaran Nudzum Islamiyah itu. Sudah bukunya tebal, materinya banyak lagi. Semoga ujian nanti aku bisa dimudahkan. Amien.

Aku langsung menuju Masjid Azhar. Ya, biasa. Shalat Dhuhur disana, dan nantinya makan siang dengan raghif kibdah[1]. Cukup 2 pound[2] sudah bisa kenyang. Musim dingin seperti ini perut memang cepat lapar.

Setelah melahap habis kibdah. Aku dan teman-teman Indonesia lainnya melanjutkan perjalanan sambil menunggu bus. Sesekali perjalanan kami dibumbui canda dan tawa gelak para pemuda. Kami sampai melupakan bahwa kami sudah berkepala dua. Setidaknya, kamui tidak kehilangan sense of humor masa ABG kami. Hehehe…

Tak terasa, bus yang kami nanti belum juga lewat. Kami memutuskan untuk menuju ke terminal Darrasah. Tak terlalu jauh memang, hanya sekitar lima ratus meter dari tempat kami berdiri sekarang. Setibanya disana, aku menyaksikan betapa ramainya terminal ini. Mengingatkan aku akan terminal kotaku dulu. Yah, semasa SMP sebelum masuk pesantren, aku sering menghabiskan waktu seusai jam pelajaran sekolah berakhir di sana. Sekedar kongkow bersama teman di warung kopi sambil ngemil pisang goreng atau ngegodain cewek yang lewat. Betul kata orang, masa ABG memang masa yang paling indah.

Lamunanku putus bersamaan saat pandanganku menangkap sosok kecil menjajakan coklat kepada orang-orang yang seakan sibuk sendiri dengan aktifitas mereka.

“25 piaster saja…siapa yang mau beli?” teriaknya lantang.

Hanya seperempat Pound, coklat yang di tawarkan anak bocah ini para calon penumpang yang menunggu bus mereka di terminal. Dengan lincah kakinya menerobos tubuh-tubuh orang dewasa yang memenuhi terminal. Tanpa putus asa menawarkan dagangannya pada setiap orang meski tak seorang pun yang tertarik membelinya.

Ekor matanya menangkap kehadiranku yang memperhatikannya dari jauh. Perlahan dia memutar haluan, berjalan cepat ke arahku. Sinar matanya dengan penuh harapan semoga dagangannya kubeli nanti.

Sebatang coklat disodorkan padaku. Aku menolak dengan halus.

“Asif ya walad, ana muflisy,”[3] aku menolak secara halus.

“Ayolah beli satu saja,” anak ini mencoba merayu.

Pengasong ini tak bergeming dari tempatnya berdiri. Masih menyodorkan sebatang coklat. Apa boleh buat aku tak bisa menolongnya, tidak ada uang kecil lagi. Yang tersisa hanya 50 piaster, hanya cukup buat ongkos bus pulang ke flat di Nasr City. Memang di dalam ransel masih ada selembar 20 pound, terlalu besar untuk membeli sebatang coklat. Perlahan posisi anak ini mendekat lalu duduk di sampingku.

"Ayolah 'amu… beli dong… satu saja,"

Aku hanya menggeleng sambil memandangnya sekilas. Bocah dekil, kotor dengan rambut kusut yang tak pernah disentuh shampoo. Usianya mungkin sekitar 7 atau 8 tahunan.

“Nama kamu siapa?” tanyaku.

“Mahmud,” jawabnya sambil menaruh sebatang coklat di pangkuanku.

"Di mana rumah kamu?"

"Saya tinggal di Gamalea sama ibu," hmmm…rupanya tak begitu jauh dari sini.

"Ayah?" aku keceplosan.

"Sudah meninggal ketika saya dalam kandungan," jawabnya dengan nada sedih.

"Maaf," aku merasa bersalah mengungkit kisah sedihnya.

Mahmud diam sejenak, mungkin merenungi nasibnya. Matanya menerawang jauh ke depan. Aku pun ikut diam. Anak sekecil ini harus berjibaku menghidupi dirinya. "Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu" kata Iwan Fals dalam salah satu lagunya. Aku tak mau bertanya tentang pekerjaan ibunya. Sudah pasti mereka hidup dalam kekurangan. Memaksa Mahmud meloncat dari bus ke bus menjajakan coklat yang untungnya tak seberapa di terminal ini.

Dalam hati aku mensyukuri apa yang aku dapatkan di masa kecil. Keluarga kami cukup berada. Gaji orang tuaku sebagai pegawai negeri cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Akupun dapat menikmati masa kecil sebagai anak-anak. Tak sulit bagiku minta dibelikan playstation, sepeda baru atau mengoleksi komik Dragon Ball yang dulu ngetop. Dengan sedikit rengekan manja, hampir semua keinginanku akan dikabulkan.

"Dapat berapa hari ini?" tanyaku iseng.

"Yah, cuma sedikit…" Mahmud menyeluarkan lembaran pound lusuh dari saku celananya. Hanya ada tiga lembar nominal 1 pound. Padahal sudah hampir Ashar.

Aku kembali memandangi anak kecil ini dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kerasnya kehidupan membuat bocah yang seharusnya tampil dengan segala kelucuan yang menggemaskan dalam usia seperti ini berpenampilan lusuh dan tak terawat khas anak jalanan. Sampai-sampai resleting celananya dibiarkan terbuka. Urusan perut yang terus menjerit sepertinya harus diutamakan. Apalah artinya resleting celana yang rusak dibanding kebutuhan primer yang lebih mendesak.

"Hei, perbaiki celana kamu tuh…" aku menunjuk celananya sambil tersenyum.

Mahmud ikut tersenyum. Senyum yang memiliki ribuan makna. Di sebelah kami, para gadis murid sekolah menengah tertawa kecil melihat kepolosan anak kecil ini. Kami tergelak, paling tidak sejenak Mahmud melupakan hidupnya yang malang.

Aku jadi iba. Ingin rasanya membantu meringankan beban hidup Mahmud dengan membeli barang satu atau dua bungkus dagangannya. Aku mengambil dua batang coklat. Selembar 20 pound kukeluarkan dari ransel.

"Wah…uangnya besar sekali, gak ada kembaliannya," kata Mahmud.

"Ya sudahlah, kembaliannya buat kamu saja," aku menyahut.

Entah kenapa aku jadi begitu baik hari ini. Padahal peminta-minta di jalan saja jarang kukasih, kalau pun memberi paling banyak aku menyerahkan pecahan 50 piaster. Mahmud beruntung hari ini.

Aku merenungi tausiyah salah satu ustadz kondang di televisi swasta Indonesia. Kata beliau, sedekah tidak akan membuat orang miskin, justru sebaliknya Allah akan menggantinya dengan balasan berlipat ganda. Salah seorang temanku di kampus juga pernah berkisah tentang seniornya yang memberi uang 150 pound pada pengemis di masjid. Begitu keluar dari pekarangan masjid, tiba-tiba tangannya ditarik oleh pria setengah baya. Tanpa banyak omong, dia dimasukkan ke dalam sebuah sedan Hyundai yang masih mulus. Masih dipenuhi tanda tanya, seketika pria yang menariknya tadi memberikan sepucuk amplop tertutup. Sesampainya di rumah, ternyata amplop tersebut berisi uang 150 pound!

Teman-temanku tiba-tiba berlari. Rupanya bus yang ditunggu telah tiba. Aku tak mau kalah, bergegas naik, berjuang mendapatkan tempat duduk. Dari jauh terdengar teriakan Mahmud, "Syukran ya 'ammu"[4]. Sambil lari, kulambaikan tangan padanya.

Naik bus dari Darrasah ke Nasr City memakan waktu hampir setengah jam, cukup melelahkan jika harus berdiri sepanjang jalan. Untungnya masih ada bangku kosong di belakang sopir. Terasa begitu nikmat saat punggungku menyentuh jok yang sudah robek di sana-sini. Empuknya melebihi sofa mewah sekalipun. Sambil menunggu bus berangkat kunikmati coklat yang kubeli dari Mahmud. Lumayan sebagai pengganjal perut.

Lima menit kemudian bus berderak perlahan, Udara dingin membelai lembut. Mataku perlahan terpejam. Baru sekian detik aku menutup mata terdengar ribut-ribut. Ada yang marah sambil menyumpah-nyumpah kepada sopir dari luar. Bus berhenti.

Tabiat orang Mesir memang keras kepala dan suka meledak-ledak. Kalau sudah marah segala serapah paling tidak senonoh pun diteriakkan. Jalan raya merupakan tempat yang paling sering menjadi ajang adu mulut tersebut. Gaya mengemudi mereka yang seenaknya saja kerap menimbulkan sengketa akibat kecelakaan lalu lintas kecil seperti keserempet atau tersenggol sedikit. Tapi anehnya amat jarang terjadi adu jotos. Dengan kata "ma'alisy"[5] persoalan selesai begitu saja tanpa dendam. Ada-ada saja.

Aku menengok melalui jendela, rupanya di luar banyak orang mengelilingi bus kami. Aku berdebar melihat puluhan bungkus coklat berhamburan di sana. Detak jantungku tambah kencang melihat sesosok tubuh kecil digotong ke pinggir terminal. Bocah yang kutemui beberapa menit yang lalu. Seketika, sisa coklat yang masih menempel di sela-sela gigiku terasa pahit.
_______________________
[1] Roti gandum isi tumis hati sapi.

[2] 1 pound (mata uang Mesir) = 100 piaster

[3] “Maaf nih, saya lagi gak punya uang”

[4] Terimakasih bang!

[5] Maaf/ gak apa-apa.

3 comments:

Meta Ayu Fitrian said...

(T_T)
hiks ! sedih,,,
trs gmn mahmudx ?

Abdul Qodir said...

Nice post kang......

Nurul Chasanah said...

hmm... antum pernah nulis cerpen ini di salah satu buletin ISID ya ka..???