Monday, June 15, 2009

Garuda di Dadaku: Mengembalikan Optimisme Bangsa



Kami seflat memiliki kebiasaan menonton siaran berita Liputan 6 SCTV melalui streaming internet. Namanya juga anak rantau di negeri orang. Akses internet yang lumayan mudah di Mesir membuat kerinduan ke kampung halaman seakan terobati. Jarak yang jauh bukan masalah yang patut dikhawatirkan. Setiap waktu kami bisa memantau perkembangan terbaru di tanah air.
Berita pagi ini memuat tentang film "Garuda di Dadaku" yang beberapa hari lagi akan tayang di bioskop-bioskop di Indonesia. Ceritanya tentang seorang anak bernama Bayu yang amat menggemari sepakbola. Tidak tanggung-tanggung, bakatnya dalam mengolah si kulit bundar mengantarkan Bayu ikut seleksi tim nasional Indonesia usia 13 tahun. Namun sayang niatan mulia untuk membela panji Merah Putih itu ditentang sang kakek yang menganggap pesepakbola tidak memiliki masa depan. Bisakah Bayu meraih angan yang selama ini diimpikan dan meluluhkan hati Kakek?

Benar-benar angin segar dalam dunia perfilman kita! Meski beberapa tahun belakangan perfilman nasional kembali hidup, sebab masyarakat sudah amat jenuh dengan genre semisal horror, komedi cabul, atau kisah percintaan murahan. Sebagai film keluarga, sutradara Ifa Isfansyah ini memang membidik momen liburan sekolah. Dalam beberapa ulasan di media massa, "Garuda" disebut sebagai film mendidik yang patriotik. Bahkan dalam laman Facebooknya, ada yang mengaku menangis saat menonton trailer film ini.

Sambil mendownload mp3 soundtrack "Garuda" dari situs Ziddu, ada beberapa poin yang terpikir olehku; Pertama, Indonesia punya talenta-talenta berbakat dalam sepakbola. Buktinya gocekan Emir Mahira yang memerankan Bayu tak kalah dengan olah bola anak-anak Argentina atau Brasil! Kedua, bangsa ini harus optimis menghadapi masa depan. Cita-cita sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 bukan sesuatu yang mustahil. Ketiga, mudah-mudahan para pemilik production house mulai berpaling dari tema-tema tidak mendidik seperti horror dan percintaan. Tidak salah memang menggarap dua tema tersebut asal dibikin dengan keseriusan. Lihat saja film India atau Korea.

Judulnya mengambil nama lagu yang sering dinyayikan supporter tim nasional sepakbola Indonesia. Terus terang aku punya romantisme tersendiri dengan lagu ini. Aku juga pernah menyaksikan supporter Persija, The Jak Mania, menyanyikan lagu tersebut--tentunya dengan lirik mendukung Persija--di stadion Manahan Solo. Ceritanya saat nyantri di Gontor dan kebetulan jalan-jalan ke Semarang, aku mampir dulu di Solo. Kebetulan ada pertandingan antara tuan rumah Solo FC dan Persija. Oo, kok malah cerita...!? Bagi sahabat yang berada di Indonesia silakan tonton "Garuda". Tapi bagi teman-teman Kairo, tunggu saja download-annya di Youtube atau Rapid Share.

1 comment:

GolSpektakuler said...

Filmnya mulai di putar di Indonesia serentak tanggal 18 Juni.

Kalau sepak bola Jepang maju karena terinspirasi film kartun Tsubasa. Mudah-mudahan dengan film Garuda di Dadaku sebagai tonggak awal majunya persepakbolaan Indonesia.

Salam Mas.