Wednesday, January 2, 2013

Rindu Guru (Bag. 2)

#1
Kerinduan dengan para guru di pondok pesantren dulu mendorong saya untuk menulis sekelumit memoar ini. Tulisan ini juga adalah untuk membayar janji untuk melanjutkan catatan bagian pertama, Oktober 2011 silam. Janji adalah hutang, harus ditepati meski baru bisa terlunasi lebih dari setahun kemudian.

Kebetulan hari Minggu lalu (30/12) saya dan beberapa alumni berkunjung ke tempat KH Abdullah Syukri Zarkasyi menjalani terapi penyembuhan stroke di Pondok Labu, Jakarta Selatan. Penyakit stroke terjadi pada pembuluh darah otak yang dapat menimbulkan kelumpuhan. Penyakit ini terjadi ketika darah yang masuk ke otak terganggu karena pembuluh darah dalam otak tersumbat oleh darah yang beku atau pecah, sehingga beberapa sel-sel saraf dalam otak tidak bisa berfungsi secara normal dan mati. Hal inilah yang menyebabkan kelumpuhan pada anggota gerak, gangguan bicara dan penurunan kesadaran seperti yang dialami Ustadz Syukri.

Tak terbayang, beliau yang dulu begitu gagah di podium memotivasi para santri sekarang tak berdaya. Aktivitas beliau kebanyakan dilakukan di atas kursi roda. Alhamdulillah selama menjalani masa pengobatan, sudah ada kemajuan berarti. Beberapa gerakan sederhana sudah bisa dilakukan. Beliau pun sudah bisa berucap meski tidak jelas dimengerti.

Aktivitas Ustadz Syukri buat pondok memang luar biasa. Kami mengenal beliau sebagai pimpinan yang bertugas di garda depan. Tugas beliau lebih kepada membuka jaringan dan hubungan ke berbagai kalangan. Tak heran jika beliau sering bepergian baik dalam maupun luar negeri. Sedangkan untuk urusan ‘dalam negeri’ Ustadz Hasan dan Ustadz Syamsul yang lebih banyak berperan. Berkat sinergi yang kompak inilah, pesantren kami bisa mendirikan belasan cabang di Jawa, Sumatera hingga Sulawesi. Solid luar dan dalam.

Kehadiran saya dan kawan-kawan adalah untuk mengkhatamkan al-Qur’an di kediaman sementara beliau. Kami yang berjumlah 15 orang diberi jatah masing-masing membaca satu juz. Pemimpin ritual ini adalah Farid, teman satu angkatan saya yang hafiz—hafal 30 juz al-Qur’an—sekaligus qori ulung bersuara merdu sejak semasa di pondok dulu. Sisa bacaan sejumlah kira-kira 15 juz kemudian diselesaikan oleh ‘pasukan khusus’ pimpinan Farid semalam suntuk hingga subuh.

Ada satu momen malam itu yang membuat hati saya terharu-biru. Sewaktu berjalan ke arah dapur, Pak Kyai yang duduk tidak jauh dari kami berusaha mengucapkan sesuatu. Beliau berdiri ditopang oleh terapis yang juga kakak kelas saya.

“Terima kasih banyak sudah datang. Mohon maaf atas jamuan saya yang ala kadarnya ini,” ucapan beliau yang sekilas lebih mirip gumaman itu diterjemahkan oleh si terapis.

Saya hanya bisa mengangguk sambil tersenyum. Sebenarnya ingin sekali membalas ucapan beliau, “Justru kami yang berterima kasih. Perjuangan ustadz demi kami jauh lebih besar. Seharusnya kami yang minta maaf karena tidak bisa berbuat banyak buat ustadz,” kata-kata ini hanya bisa saya ucapkan dalam hati.

Tercatat hanya ada beberapa orang yang menghadiri suasana melankolis saat itu. Kalau saja saya termasuk lelaki perasa, mungkin saat itu juga saya sudah menangis. Mungkin teman-teman yang ada saat itu juga merasakan hal yang sama. Keterharuan itu hanya bisa saya terjemahkan lewat tangan saya yang gemetaran memegangi piring.

#2

“Kalau kamu tidak lebih baik dari saya, lebih baik kamu tidak usah lahir, dan saya tidak usah mati! Hanya nambah jatah beras saja.”

 Saat mendengar ucapan ini ada beberapa kemungkinan yang akan terjadi; tertawa, merenung atau tertawa sambil merenung. Itulah petuah KH Hasan Abdullah Sahal, salah satu pimpinan pesantren Darussalam Gontor tempat saya nyantri dulu. Kyai Hasan ini terkenal dengan ceramahnya yang menggugah dan suka menelurkan gurauan berupa kata-kata sederhana tapi mengena.

Di satu sisi beliau keras dalam mendidik. Tak segan untuk mendamprat santri atau guru sekalipun yang tidak disiplin. Saya dan kawan-kawan santri pernah menjadi saksi hidup omelan beliau yang menusuk hati dan mendirikan bulu roma di aula balai pertemuan. Saat itu memang kami yang salah karena datang terlambat. Ketika naik pangkat jadi ustadz, kami juga tak luput dimarahi habis-habisan.

Meski begitu, Ustadz Hasan rendah hati dan dekat dengan santri. Beberapa kali beliau turun ke lapangan sepakbola ikut bermain karena di masa mudanya beliau adalah striker handal dengan tendangan geledek. Beliau juga berjiwa seni sebagai musikus penggebuk drum atau sekadar memetik gitar. Budayawan Emha Ainun Nadjib pernah mengundang Ustadz Hasan dalam acara yang diadakannya.

#3
Sosok pimpinan pondok ketiga yang memiliki kesan kuat adalah KH Imam Baderi yang wafat tahun 2006. Saat itu saya duduk di kelas 6—setingkat kelas 3 SLTA. Meski sudah memasuki kepala tujuh, Ustadz Badri masih energik dan sering terjun ke acara santri. Pernah di suatu pagi buta di bulan puasa, beliau sudah berdiri tegak di depan tangga mesjid merazia santri yang terlambat shalat subuh. Melihat kyai yang disegani itu, kami lari membabi buta. Kantuk langsung lenyap.

Sosok legendaris ini pernah ikut berjuang di masa penjajahan Jepang. Pada era pemberontakan PKI di Madiun pun, beliau termasuk guru yang melindungi para kyai dari kejaran komunis.

Mudah-mudahan bisa berlanjut ke bagian 3. Kapan-kapan.

No comments: