Monday, October 12, 2009

Tuan Rumah Kecewa Dua Kali

Mesir vs Italy, Cairo International Stadium

Even Piala Dunia sepakbola usia 20 tahun yang dihelat di Mesir membawa banyak cerita. Meski gaung kejuaraan sebelum perhelatan dimulai terkesan kurang wah, antusiasme warga Kairo cukup meledak. Ketika "el Faraena el Sighar" alias Fir'aun-fira'un junior berlaga, bangku-bangku stadion disesaki warga yang ingin mendukung tim kesayangan Mesir. Agenda pembukaan di stadion Borg el Arab, Alexandria berlangsung meriah, apalagi ditambah kemenangan sensasional tuan rumah atas Trinidad Tobago 4-1.

Sayang, euforia yang mengalir deras bersama gemericik sungai Nil sempat terpaku sejenak ketika 10 pemain Paraguay berhasil mencuri kemenangan dramatis dua hari kemudian. Headline koran-koran keesokan harinya memampang foto penyerang Mesir Mohammad Talaat yang tertunduk di atas rumput. Mau tak mau pertandingan melawan favorit Italia menjadi laga hidup-mati yang harus dimenangi!

Oppa! Jadilah Bogy pahlawan Mesir malam itu. Baru beberapa detik memasuki lapangan, striker bernama asli Ahmed Fathi ini langsung menyundul bola, menaklukkan kiper Fiorillo. Sepuluh menit kemudian, sekali lagi Bogy beraksi, menyegel kemenangan 4-2 atas Azzurri.

Puji syukur kepada Allah SWT, aku salah satu diantara puluhan ribu mata yang menyaksikan kemenangan dramatis itu. Meski harus mati-matian merayu calo, tiket pertandingan itu bisa kudapatkan. Satu catatan lagi, untuk pertama kalinya, aku melihat pertandingan langsung dari stadion di Kairo.


Bola itu bundar. Di babak 16 besar Mesir harus dibenamkan Kosta Rika yang tidak diunggulkan. Pupus sudah mimpi indah masyarakat antero Mesir. Maka tak heran saat Kosta Rika kembali berlaga, warga Kairo berbondong-bondong menuju stadion dengan tujuan memberikan dukungan kepada Uni Emirat Arab, lawan Kosta Rika. "Kekalahan kemarin tak perlu diratapi, asal Kosta Rika kalah" mungkin begitu isi benak mereka. Aku melihat langsung melalui siaran televisi, setiap Kosta Rika memegang bola siulan mengejek disuarakan pendukung Mesir yang memihak Emirat.

Seribu sayang, kesalahan kapten Emirat membuat dendam Mesir tidak bisa terlampiaskan. Kosta Rika menyerobot bola di menit akhir dan menceploskan bola untuk kemenangan 2-1.

Lagi-lagi kecewa.


1 comment:

Wetwet Bagaskara said...

harga tiket di Mesir berapa bung?

memang nasionalisme bisa dimunculkan dari sepakbola.. rakyat kita juga smpat mengalami euforia nasionalisme pas piala asia di jakarta kemarin.. sayangnya, itu cuma pesta sesaat saja.. sepakbola indonesia kembali ancurr..hwehe