Showing posts with label resensi. Show all posts
Showing posts with label resensi. Show all posts

Thursday, May 9, 2013

Superstar di Sarang Mafia



Biasanya, film tentang olahraga akan mengetengahkan tema from zeroto hero, perjuangan seorang biasa yang akhirnya berhasil mencapai tujuanberkat kerja keras. Banyak sekali film bertema pakem macam ini diantaranyaGoal1-3 (Sepakbola), Glory Road (Basket), peraih Academy Awards seperti Moneyball (film baseball yang dibintangi Brad Pitt) dan the Blind Side (American Football) sampai produk lokal Garuda di Dadaku. Tidak ada yang salah dengan tema ini. Banyak pelajaran positif yang bisa diambil terutama perjuangan pantang menyerah dan kesabaran.

Sutradara Andibachtiar Yusuf mencoba sedikit berpaling dari pakem yang sudah lumrah ini. Dalam Hari Ini Pasti Menang, sineas yang juga pengusaha muda ini membuat sebuah dunia sepakbola Indonesia yang benar-benar baru. Lupakanlah sejenak keributan pengurus PSSI beberapa waktu lalu,pertikaian antar suporter hingga tim nasional yang tak kunjung juara. PSSI ala Andi adalah sebuah kesebelasan super power yang disegani. Liga Indonesia adalah liga papan atas Asia. Pemain kita pun bersliweran di klub-klub Eropa. Puncaknya,tim Merah Putih lolos ke Piala Dunia 2014 sampai babak perempat final sebelum takluk di tangan tuan rumah Brazil. Dongeng tak berhenti sampai di sini karena Gabriel Omar Baskoro (Zhendy Zein), penyerang andalan timnas jadi pencetak gol terbanyak di turnamen 4 tahunan itu.

Sepulang dari Brazil, Gabriel—tokoh utama kita—semakin masyhur saja.Gol-gol lahir begitu deras dari sepasang kaki tangkasnya untuk klub Jakarta Metropolitan. Dialah superstar yang ganteng, atletis, angkuh, arogan, bad-boy, suka main perempuan, bintang iklan sekaligus inpirasi bagi kawula muda.Mengingatkan saya dengan karakter Cristiano Ronaldo, pemain termahal dunia yang merumput di Real Madrid. Jika Ronaldo yang bernomor punggung 7 punya inisial CR7, maka Gabriel punya gelar yang tak kalah gahar; GO8! (Baca: Ge-O-Lapan)

Bukan film namanya kalau punya cerita semulusitu. Masalah besar timbul saat GO8 disinyalir terlibat kasus suap dan judi taruhan yang melibatkan mafia kelas kakap di Liga Indonesia. Yang membuat cerita makindilematis, jurnalis olahraga yang menginvestigasi isu yang menghebohkan itu adalah Andien Zulaikha (Tika Puteri), teman GO8 sedari kecil. Andien pun harus rela menerima teror dari pihak-pihak yang ingin wartawati ini tutup mulut.

Thursday, December 27, 2012

Habibie & Ainun: Cinta Sejati Sang Jenius

 
Anak-anak yang tumbuh di era 90an seperti saya, menganggap Habibie adalah sebuah  profesi. Tak heran kami dulu tanpa malu-malu berucap, “cita-cita saya jadi Habibie”. Pokoknya, definisi Habibie adalah: insinyur pembuat pesawat. Begitulah.

Yang masih saya ingat jika melihat Pak Habibie di televisi adalah gaya jalannya yang unik, mata yang melotot kalau bicara dan istilah-istilah berbau cerdas seperti “canggih”, “strategis”  atau “tekhnologi” (dengan penekanan saat menyebutkan aksara ‘kh’. Agak seret di tenggorokan).

Pertama kali saya melihat Pak Habibie secara langsung adalah tahun 2011. Saat itu beliau diundang pemerintah Mesir untuk bertukar pikiran tentang reformasi di Indonesia. Saat itu Mesir dan negara Arab lainnya baru memasuki era baru perpolitikan (Arabic Spring). Dari jarak 10 meter—mungkin lebih—saya dan masyarakat Indonesia di Kairo berdesak-desakan di bagian belakang aula Azhar Convention Center. Mungkin hampir dua jam saya berdiri karena tidak dapat tempat duduk.

Saat itu, beliau sempat menyinggung cintanya yang amat mendalam terhadap istrinya, Ibu Hasri Ainun Habibie. Katanya, beliau sempat hampir kehilangan arah beberapa waktu setelah Ibu Ainun wafat. Sebagai solusinya, beliau menulis buku memoar yang berjudul segala kenangan dan suka duka mereka berdua. Buku berjudul Habibie & Ainun ini kemudian diangkat menjadi film dengan judul yang sama.

Banyak ibu-ibu muda hingga setengah baya yang menonton bersama saya. Sudah tentu, mereka sudah menyaksikan langsung sepak terjang Pak Habibie di negeri ini. Adapun mereka yang membawa anak yang masih kecil, tentu ingin mengenalkan legenda hidup yang jadi kebanggaan bersama itu.

Sorot kamera menuju sebuah sekolah menengah—entah SMP atau SMA.  Sosok Habibie dan Ainun adalah dua bintang kelas. Tak heran teman-temannya menjodoh-jodohkan mereka berdua, biasalah anak remaja sekolahan. Dan keduanya hanya tersipu.

Adegan meloncat ke tahun 60an, Habibie muda sudah berada di Aachen, Jerman. Dengan percaya diri, dengan bahasa Jerman yang menurut saya fasih, dia mencorat-coret papan tulis dengan diagram dan rumus-rumus fisika ajaib. Para dosen di Studi Magister di Institut Konstruksi Ringan terpana. Sayang, karena masalah kesehatan, si jenius dari timur limbung.

Sunday, November 4, 2012

Film & Permen yang Bikin Was-was



Saya jadi ikutan teler

30 Oktober 2012

Selama di Jakarta, hobi saya bertambah satu lagi: mencari tontonan gratis. Dari sononya memang saya suka sekali menonton film. Bahkan saya kadang berlagak sok cerdas mengkritik film yang ditonton. Bila saya menganggap film itu jelek, maka semua lini produksi bakalan kena damprat. Tak peduli produser, sutradara, penata artistik, tukang make-up hingga para aktor. Andai mereka tahu lagak saya ini, pasti gantian saya yang diomelin,“Hei bro! Emang lu kira bikin film mudah?”

Pernah dua kali saya harus mendatangi Museum Mandiri di kawasan Kota Tua Jakarta yang jaraknya + 20 km-an dari Ciputat hanya untuk menonton film dokumenter dan film tahun 50-an yang hitam putih.  Bioskop kelas premium di salah satu mall di kawasan Bundaran Hotel Indonesia pun saya sambangi karena saya berhasil jadi salah satu pemenang kuis berhadiah tiket.

Kali ini ada undangan lagi lewat forum internet; premiere film Loe Gue End (LGE) di salah satu bioskop di bilangan Rasuna Said, Kuningan. Rupanya sebelum tayang secara resmi tanggal 1 November nanti, ada tayang perdana buat kalangan khusus. Sayang premiere ini terbentur waktu kuliah malam saya. Ya sudah, akhirnya saya mendaftarkan enam orang kawan-kawan dari Asrama Kal-Sel (AMKS). Biar mereka saja-lah yang ketemu artis-artis itu.

Wednesday, October 10, 2012

The Melody: Pengorbanan dalam Romansa yang Tanggung


Jarang terjadi saya menonton film romantis di bioskop. Tapi bukan berarti saya anti 100% genre percintaan. Kalau bukan karena dapat tiket gratis, mungkin saya akan lebih memilih film laga atau komedi. Kali ini saya beruntung, mendapatkan beberapa tiket nonton gratis dari kuis yang diadakan di forum Kaskus. Maka ikutlah bersama saya, teman-teman saya yang brutal, laki-laki.

Alkisah seorang penyanyi bernama Wind mengalami sebuah prahara. Perlahan-lahan pamornya mulai turun, lagu-lagunya tak lagi jadi favorit. Penderitaannya bertambah karena manajemen tempat dia  bernaung justru mengorbitkan penyanyi pendatang baru yang lebih menjanjikan.

Wind yang mulai galau, memilih menyepi ke sebuah kota kecil. Saya sebenarnya heran, kok bisa-bisanya Wind yang terhitung lelaki dewasa, karena persoalan yang agak sepele bisa bertindak kekanak-kanakan seperti itu, merajuk hingga manajernya di Bangkok pun kelabakan. Mungkin ini didasari oleh sikapnya yang agak angkuh dan egois. Dasar Wind, bikin malu kaum lelaki saja.

Sunday, October 7, 2012

101% Cinta Indonesia. Mengolok, Menertawakan, Tapi Tetap Cinta

Tulisan di halaman foto mengalami sedikit editing, untuk memperjelas tulisan.

Tak sengaja, sambil numpang baca di salah satu toko buku terkemuka di Jakarta, saya menemukan buku 101% Cinta Indonesia karya komikus lokal berinisial vbi_djenggoten (entah siapa nama aslinya). Isinya bikin saya terpingkal-pingkal, sampai-sampai ibu separuh baya yang berada di rak sebelah nyeletuk, "Baca apa sih dik? Kayaknya lucu banget..." ujarnya ingin tahu. Saya hanya tersenyum malu sambil menunjukkan sampul buku ini. Mudah-mudahan saya tidak dikira mengidap kelainan yang macam-macam.

Wednesday, March 28, 2012

The Raid: Cukup Duduk Manis dan Tonton!

Cerita bermula pagi-pagi buta. Rama (diperankan Iko Uwais), terlihat sedang melakukan shalat subuh. Anggota satuan khusus kepolisian ini pamit kepada istrinya yang hamil tua dan ayahnya yang tampak gundah. Wajar saja jika orang terdekatnya khawatir, sebab Rama akan terjun ke medan perang. Rama didapuk sebagai salah satu dari 20 orang polisi elit yang menjalani sebuah misi penting.

Operasi ini dipimpin oleh komandan Jaka (Joe Taslim, atlet Judo Nasional). Targetnya adalah sebuah gedung yang jadi sarang para penjahat kelas kakap. Selama ini area hitam tersebut nyaris tak tersentuh karena mendapat beking oknum pejabat kepolisian.

Semuanya terlihat lancar hingga ketika sampai di lantai 6 mereka terjebak. Semua akses dan komunikasi dimatikan. Tama (Ray Sahetapy), penguasa gedung tersebut ternyata sudah menyiapkan ‘jamuan’ istimewa buat tamu tak diundang. Maka dikerahkanlah hampir semua anak buahnya yang bengis dan haus darah untuk menghabisi jagoan kita. Jaka, Rama dan anggota pasukan harus bertarung lantai demi lantai untuk mencapai singgasana Tama di lantai 15. Sebuah pertarungan mempertaruhkan nyawa, membunuh atau dibunuh.

Tulisan di atas adalah cuplikan cerita The Raid, film action terbaru Indonesia yang diproduksi Merantau Films. Setelah sukses dengan film laga Merantau (2009) produser Ari Suprayogi kembali berduet dengan Gareth Evans, sutradara asal Wales. Gareth juga kembali menggaet lakon utama Merantau, Iko Uwais dan Yayan Ruhian.

Monday, March 19, 2012

Mengkhayal Tak Dilarang (Resensi Dua Novel Sepakbola)



Sebelas Patriot; Penulis Andrea Hirata; Penerbit Bentang Pustaka; 2011; 108 halaman.
Menerjang Batas; Penulis Estu Ernesto; Penerbit Bogalakon;2012; 250 halaman

Dunia persepakbolaan Indonesia heboh setelah akhir Februari lalu tim nasional kita menelan kekalahan terbesar sepanjang sejarah. Betul Bung, tanpa belas kasih Bahrain menggelontor  gawang kesebelasan Merah Putih sepuluh gol tanpa balas. Pemain malu, pelatih terdiam, suporter fanatik hilang muka, masyarakat ribut di warteg. Tak pernah timnas terjungkal seburuk itu.

Dengan terjadinya kisruh di jajaran Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia beberapa waktu belakangan, kekalahan memang sudah diprediksi. Namun tidak dengan angka yang sedemikian besar. Terjadi dualisme kompetisi yang berakibat beberapa pemain terbaik nasional tidak bisa membela panji Garuda karena dianggap bermain di liga ilegal.

Keadaan menyedihkan ini tidak membuat saya hilang semangat membaca dua novel bertema Sepakbola:  Sebelas Patriot novel karya Andrea Hirata dan Menerjang Batas oleh Estu Ernesto. 

Sepakbola; Sisi Lain Andrea Hirata
Sebelas Patriot bermula ketika Ikal tanpa sengaja mengungkap rahasia besar ayahnya. Rupanya dulu, buruh timah yang pendiam itu adalah pemain sepakbola andal di zamannya.  Sampai-sampai kesebelasan kompeni yang saat itu masih bercokol di nusantara gemetar jika harus menghadapi para pekerja kasar itu. Hingga pada akhirnya sebuah tragedi mengakhiri karir para pesepakbola tambang timah, termasuk ayah Ikal.

Sunday, October 31, 2010

Meraba Masa Indah SMU

"CATATAN AKHIR SEKOLAH"
Sutradara: Hanung Bramantyo
Pemain: Ramon J. Tungka, Marcel Chandrawinata, Vino G. Bastian
Produksi: Rexinema, 2005


Saya bukan lulusan SMU. Masa pendidikan menengah saya (SMP & SMU) terlewati di dua pesantren yang berbeda di dua pulau yang berjauhan pula. Gambaran kehidupan SMU –yang kata orang adalah masa paling indah dalam hidup remaja—hanya bisa saya “raba” melalui cerita teman, film atau pun kisah fiksi seperti novel dan cerita pendek.

Oleh karena itu, saya begitu bersemangat untuk menonton film “Catatan Akhir Sekolah”. Sekarang sudah tahun 2010. Mungkin banyak yang mengatakan saya ketinggalan zaman sebab ini adalah film lama, produksi 2005. Tapi tak apalah, toh film ini karya sutradara Hanung Bramantyo.

Saya pernah menonton film-film arahan suami aktris Zaskia Adya Mecca ini seperti Jomblo, Doa yang Mengancam, Kamulah Satu-satunya, Get Married 1 & 2, Perempuan Berkalung Sorban dan Ayat-Ayat Cinta. Meski di antara beberapa film tersebut ada yang menuai kontroversi, paling tidak masih bisa diterima “akal sehat”. Tidak seperti sinetron yang sudah menonjolkan—maaf—kedunguan dunia sinema. Sepengetahuan saya, karya Mas Hanung bukan “asal buat” seperti film horror atau komedi cabul yang marak belakangan.

Karena di Kairo tidak ada rental DVD film Indonesia seperti di tanah air, maka saya memanfaatkan koneksi internet melalui situs YouTube.

Adegan pembukaan sungguh memikat. Kurang lebih delapan menit saya disuguhi tayangan non-stop kehidupan SMA Fajar Harapan. Bermula dari gerbang terus berlanjut lorong, kelas, kantin, lapangan basket hingga toilet kamera terus berjalan membidik suasana sekolah khas remaja.

Akting pemain cukup alami—setidaknya menurut saya. Tidak sefantastis SMU dalam sinetron yang glamor; kemana-mana naik mobil mewah, persaingan murid jahat dan baik dan hal-hal di luar akal sehat lainnya. Di sini, para artis diarahkan untuk berdandan layaknya siswa normal, jajan di kaki lima, berjejal di bus, naik bajaj dan nongkrong di mall.

Sisipan Rohis

Cerita berpusat pada trio sahabat; Agni (diperankan Ramon J. Tungka) siswa berkacamata yang begitu berambisi dalam ekskul film. Arian (Vino G. Bastian), pengurus mading sekolah yang meledak-ledak dan suka bicara nyaring. Alde (Marcel Chandrawinata), si tampan pemalu yang jadi idola para gadis.

Mereka bertiga dianggap pecundang di sekolah alias cupu (Culun Abis, istilah remaja), meski secara tampang tidak terlalu cupu memang hehehe. Film-film Agni selalu dianggap tidak bermutu. Sedangkan Arian hanya diserahi tugas sebagai pemegang kunci mading dalam kelompoknya. Adapun Alde bermasalah dengan anggota ekskul band.

Akhirnya, mereka bertekad untuk membuat sebuah film dokumenter untuk tentang sekolah yang diputar dalam pentas seni (Pensi). Mereka ingin untuk membungkam teman-teman yang memandang mereka sebelah mata. Maka, berbekal kamera digital milik ibunya Alde mereka merekam keseharian para siswa. Tidak hanya kegiatan belajar dan ekskul, tapi juga kenakalan ala ABG. Momen-momen “gelap” SMU seperti mencontek di kelas, kabur saat jam pelajaran, rokok, narkoba hingga skandal kepala sekolah.

Namanya juga film, pasti ada bumbu cerita. Proyek tiga serangkai ini tidak semulus yang dikira. Puncaknya ketika terjadi konflik internal di antara mereka. Pembuatan film dokumenter bubar. Mereka kembali dipersatukan ketika Alde babak belur dihajar preman. Seperti film lainnya, cerita berakhir bahagia. Happy ending.

Belakangan, Hanung Bramantyo akrab dengan film-film bertema keislaman. Film-film religi semacam Ayat-ayat Cinta, Doa yang Mengancam, Perempuan Berkalung Sorban dan yang paling gres, biografi KH Ahmad Dahlan “Sang Pencerah”.

Bisa jadi, kecendrungan ini bermula sejak Catatan Akhir Sekolah. Ada adegan menarik saat A3 mewawancarai ketua ekskul rohis (Rohani Islam) di mushalla sekolah. Dengan lugu Agni bertanya, “Kenapa sih kita harus shalat?” “Bla…bla… bla… Shalat mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar,” jawab ketua rohis yang berpeci putih dengan ayat yang fasih. Ajaib! Mereka yang sebelumnya bengal, ikutan shalat. Mungkin takut neraka.

Bagi teman-teman yang belum pernah mengecap bangku SMU seperti saya, Catatan Akhir Sekolah dengan segala kekurangannya bisa jadi salah satu referensi. Wallahua’lam.

Monday, June 21, 2010

Kawasan Hijau yang Panas

Masih terbayang dalam trilogi Bourne, bang Damon berperan sebagai Jason Bourne--yang hilang ingatan--keluyuran keliling Eropa,India dan Maroko untuk membongkar konspirasi busuk CIA.Film spionase ini memang tiada banding. Aku saja sudah berkali-kali menonton ulang. Sutradara asal Inggris, Paul Greengrass begitu pandai meracik isu konspirasi dan ketegangan sehingga adrenalin terus dipompa sejak awal hingga akhir film.

Kali ini Damon kembali digaet oleh Greengrass dalam film teranyar, "Green Zone". Damon berperan sebagai komandan pasukan Amerika di Irak. Green Zone yang terinspirasi buku "Imperial Life in Emerald City" mengungkap akal bulus Amerika dalam menyebarkan fitnah senjata pemusnah massal di negeri seribu satu malam. Dengan dalih ini, Amerika dan sekutunya mengaduk-aduk Irak dan menyebabkan kekacauan hidup di negeri ini sampai sekarang.

Membaca resensi di situs IMDb, banyak yang mencap Green Zone sebagai film anti Amerika. Tidak heran karena Greengrass sebelumnya memang akrab dengan karya-karya bertema konspirasi seperi tiga sekuel Bourne (Identity, Supremacy dan Ultimatum) serta United 93. Fakta-fakta inilah yang membuatku kehilangan rasa kantuk sepulang ujian. Apalagi cuaca Kairo sedang panas-panasnya. Dinding flat pun terasa hangat, baju dalam lemari terasa habis disetrika. Hanya ada dua tempat yang selamat dari serbuan panas: kamar mandi dan di bawah kipas angin.

Aku tidak mau banyak berkisah di sini. Takut membocorkan jalan cerita. Kalau penasaran dengan akting cool bang Damon, datang saja ke flatku, lalu copy filmnya. O, iya, file beserta subtitlenya aku taruh di laptop Muttaqin :).

NB: Sebenarnya Green Zone (Zona Hijau) adalah sebutan untuk kawasan pemukiman para tentara dan pejabat pemerintahan Amerika di Irak.Kalau nonton filmnya, Insya Allah akan paham maksudnya.

Monday, January 25, 2010

Negeri 5 Menara: Mantera itu Bukan “Simsalabim”

Ahmad Fuadi Bersama Pimpinan Pondok Gontor, KH Abdullah Syukri Zarkasyi

Mati-matian Alif berkelit dari titah Amaknya (Ibu dalam bahasa Minang) agar masuk Madrasah selepas tamat Tsanawiyah (Sekolah Menengah Pertama). Keinginannya sudah tergantung tinggi di langit: Masuk SMA lalu kuliah di ITB Bandung kemudian jadi Insinyur seperti Pak Habibie!

Sungguh ibunya punya keinginan yang tidak kalah mulia. Ia ingin putra sulungnya menjejak langkah Buya Hamka, ulama besar Minang, mendalami ilmu agama. “Amak ingin memberikan anak yang terbaik untuk kepentingan agama. Ini tugas mulia untuk akhirat,” ujar ibunya bersikeras.

Sebagai langkah pemberontakan, Alif lebih memilih merantau ke Pondok Madani (PM), pondok pesantren modern di pedalaman Ponorogo, Jawa Timur daripada harus masuk madrasah. Padahal seumur-umur Alif belum pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Sebuah keputusan setengah hati yang Alif sesali, namun kemudian disyukurinya di kemudian hari.

Di PM Alif bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai daerah di Indonesia. Bahkan bersama Raja dari Medan, Dulmajid dari Madura, Said dari Surabaya, Atang dari Bandung dan Baso dari Sulawesi, Alif menjalin persahabatan karib.

Setiap sore menjelang maghrib, Alif and the gank nangkring di bawah menara masjid. Mereka belajar bersama, membicarakan mimpi dan cita-cita, senda-gurau, sampai berbagi kesedihan.

Suka-duka Alif dan kelima kawannya belajar di PM lengkap dengan warna-warni kehidupan inilah yang menjadi pusat cerita Negeri 5 Menara (N5M). Novel karangan A. Fuadi ini memang diinspirasi dari kisah nyata selama penulis jadi santri di Pondok Modern Gontor, Ponorogo.

Keajaiban Man Jadda Wajada
Buang jauh-jauh bayangan santri yang kolot dan ketinggalan zaman. Fuadi menggambarkan anak didik PM sebagai para remaja berambut cepak yang keranjingan bahasa Arab dan Inggris sampai ke ubun-ubun. Tentengannya bukan hanya kitab hadits dan fikih saja, tapi ensiklopedi canggih Al Munjid plus Kamus Oxford setebal bantal. Mereka juga bisa menjelma dalam berbagai bentuk: orator ulung titisan Bung Karno, agen rahasia James Bond, wartawan amatir, juru sensor hingga Maradona yang hafal Al Qur’an.

Kehidupan PM yang dinamis dan disiplin, non-stop 24 jam memang bak perguruan shaolin di pedalaman Jawa Timur. Keras namun sarat hikmah dan bait-baik kebijakan.

Adalah mantera sakti “Man Jadda Wajada” yang merasuk sampai ke sumsum tulang para santri. Kalimat dalam bahasa Arab yang artinya “siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses” menyadarkan Alif dan kawan-kawan tentang perjuangan meraih sukses. Kerja keras, kreativitas, ketabahan dan doa menjadi multivitamin wajib dalam meraih mimpi di masa depan.

Man Jadda Wajada”, sebuah serum untuk sebagian generasi muda kita yang tersaruk-saruk diseret globalisasi. Generasi instan yang menurut penulis kawakan Gola Gong, “tinggal seduh langsung jadi”. Dunia tidak berubah begitu saja dengan ucapan Simsalabim Abrakadabra!

N5M juga menyuguhkan cara pandang baru terhadap pondok pesantren. Pesantren tidak ketinggalan zaman, tidak pula sekolah orang-orang buangan. Apalagi beberapa waktu belakangan, isu terorisme di Indonesia sempat membarikan stigma negatif lembaga pendidikan Islam ini. Beberapa pondok bahkan dituduh sebagai sarang para teroris.

Ulasan ini memang subjektif. Apalagi aku alumni Pondok Gontor seperti A. Fuadi. Jelas-jelas senior harus didukung he…he…he…. Tapi yang jelas saya berusaha menulis sebaik mungkin. Semoga berkenan.

Catatan:
-Terima kasih untuk Iqbal yang sudah membawa N5M jauh-jauh dari Tanah Air.
Musyakirin Awie!

-Foto diambil dari situs resmi www.negeri5menara.com

Thursday, January 21, 2010

Kang Abik Tak Mau Kecolongan Lagi

Catatan pembuka. Bisa dibilang tulisan ini ketinggalan zaman, berbulan-bulan setelah dua film KCB diputar ke hadapan masyarakat Indonesia. Maklum, namanya juga mahasiswa luar negeri. Jangankan nonton di bioskop, beli bajakan saja tak bisa.

Sempat sedikit geli ketika browsing poster film Ketika Cinta Bertasbih (KCB) di Internet, ada stempel “Dijamin Asli Mesir” di sana. Terus terang agak sedikit norak. Tapi tindakan ini tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Besar kemungkinan pihak produser tidak ingin mengecewakan para pecinta novel-novel religi Habiburrahman el Shirazy, seperti saat film Ayat-ayat Cinta (AAC) dirilis.

Dari segi sinematografi, menurutku AAC yang juga diangkat dari buku Kang Abik—panggilan akrab Habiburrahman—, tidak begitu buruk. Mungkin nilai 7 dari 10 pantas disematkan. Cuma saja jalan cerita yang agak ‘menyimpang’ dari novel best seller itu membuat khalayak kecewa. Yang paling disesali para pembaca karya Kang Abik adalah langkah alternatif MD Pictures mengganti Mesir dengan India sebagai lokasi syuting. Fantasi indah para pembaca sontak buyar melihat film AAC garapan sutradara Hanung Bramantyo itu.

Kalau bisa jujur—tanpa mengesampingkan rasa kagumku pada Pak Chaerul Umam dan Kang Abik—, Aku tidak begitu puas dengan film yang menelan biaya hampir 20 milyar perak ini. Mungkin ini imbas dari keseringan menyantap film-film Holywood. Atau bisa jadi ini gejala trauma terhadap film-film horor-cabul yang beredar marak di bioskop tanah air.

Belajar dari AAC, Kang Abik tidak mau cerita di novelnya dipelintir sutradara seenak udel sutradara. Akhirnya ‘kepatuhan’Chaerul Umam pada novel yang membuat film ini terasa agak ‘kurang’. Banyaknya alur cerita yang padat dan terlalu berwarna membuat sebagian jalan cerita terkesan tidak fokus. Kasus serupa pernah terjadi dalam film The Da Vinci Code. Adaptasi dari novel dengan judul sama ini akhirnya menghasilkan rangkaian adegan yang terburu-buru. Potensi akting Tom Hanks dan Audrey Tatou pun tak tergali maksimal.

Novel dan film adalah dua media yang berbeda. Yang satu digerakkan oleh kata-kata, sedangkan yang lain mengeksplorasi suara dan gambar. Tidak semua film adaptasi dari novel tunduk pada cerita aslinya. Lihat saja Laskar Pelangi, Harry Potter, atau Trilogi The Bourne-nya Robert Ludlum yang harus banting setir beberapa derajat. Itu pula yang membuat KCB harus dibuat sebanyak dua seri, sama seperti novel. Lucu juga menyaksikan tulisan ‘to be continued’ terpampang di akhir KCB pertama karena cerita harus dilanjutkan ke KCB 2 yang rilis hari raya Idul Adha 2009 kemarin.

Tapi jangan sekali-kali menyamakan KCB dengan film setan murahan bikinan KK Dheraaj. KCB jauh lebih bermutu! Isinya sarat dengan nilai-nilai; perjuangan utama Azzam yang membanting tulang di Kairo demi adik-adiknya, bakti pada orang tua, kesucian cinta, jiwa enterprenuer sampai realita sosial kemasyarakatan.

Siap Lahir Batin untuk Kawin
Dalam KCB 1 penonton disuguhi pemandangan Mesir yang eksotis. Pantai biru Alexandria, Sungai Nil yang legendaris, monument-monumen peninggalan Islam, Piramid, Universitas Al Azhar berusia ratusan tahun sampai kost sederhana ala mahasiswa. Lebih menyenangkan, para tokoh juga berbahasa Arab dengan fasih.

Mengenai roman percintaan, bagian inilah yang cukup mendapat porsi terutama dalam KCB 2. Si Azzam di usianya yang hampir kepala tiga—setelah 9 tahun di Mesir—kalang kabut mencari jodoh. Untuk mendapat sang belahan jiwa, Azzam memakai metode Islami tanpa pacaran. Bagi sebagian penonton yang kurang memahami Islam memang agak bermasalah dalam bagian ini. Seakan Azzam berpetuah di sini, “Carilah istri kalau kehidupanmu sudah mapan”. Ya, Jadi pengusaha bakso sukses ternyata tidak menjamin Azzam mudah mendapat istri. Aku sendiri jadi sedikit khawatir tentang masa depanku setelah pulang ke Indonesia nanti. Jangan-jangan….

Ya, secara keseluruhan KCB 1&2 tidaklah buruk. Sebagai film Islami, KCB sudah bisa membahasakan pesan-pesan yang ingin disampaikan. Kekurangan memang masih banyak di sana-sini, tapi perpaduan antara aktor-aktor baru dan senior bisa saling menutupi. Angkat jempol buat M. Cholidi yang cukup berhasil menghidupkan tokoh Azzam dalam novel KCB dan Ibu Ninik L Karim yang mengingatkanku pada ibu di Banjarmasin.

Satu catatan sebelum lupa. Terima kasih untuk Pak Chaerul (atau siapapun) yang sukses memilah para aktris wanita dalam KCB. 80% perempuan-perempuan dalam KCB bening dan indah dipandang mata, terutama Meyda Safira dan Asmirandah. Gubrak!