Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

Wednesday, October 6, 2010

Ada Curhat di Balik Setir Taksi

Taksi Kairo (Photo by Hend Abdallah @ Flickr)

Taksi di setiap negara memiliki kekhasan dan cerita tersendiri. Beberapa malah sudah masuk ke layar lebar. Contohnya film “Taxi” bikinan Prancis yang fenomenal. Komedi-action yang diproduksi pertama kali tahun 1998 tersebut sampai dibuat 4 sekuel. Berkisah tentang Daniel, supir taksi kota Marseille yang jago ngebut tapi kocak. Pertemuannya dengan Emilien, polisi yang tidak bisa menyetir membawanya ke berbagai petualangan membasmi kejahatan.

Hampir dengan plot cerita yang serupa, film “Taxi” (2004) juga diproduksi di Amerika Serikat. Menceritakan tentang Isabelle Williams (diperankan penyanyi Queen Latifah) , supir taksi perempuan di New York. Belle dikisahkan terlibat pengejaran terhadap komplotan perampok bank wanita.

Cuma saja, akhir Agustus silam kabar sedih datang dari supir taksi New York. Karena mengaku beragama Islam, Ahmed Sherif yang sudah menyetir taksi sejak 15 tahun silam ditusuk penumpangnya. Imigran asal Bangladesh ini pun harus mendapat perawatan di rumah sakit.

Tidak salah pula jika beberapa waktu lalu pemerintah kita memasang iklan di banyak taksi di London, Inggris. Slogan “Remarkable Indonesia tersebut bertujuan untuk mempromosikan produk dan pariwisata Indonesia.

"Sejumlah taksi di London kita buat iklan di sana mengenai remarkable Indonesia," kata Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar kepada situs berita detik.com.

Khaled Al Khamissi dan buku Taxi

Curhat Taksi Kairo

Taksi bagi warga kota Kairo adalah salah satu elemen transportasi penting. Buktinya, banyak taksi bersliweran di jalan-jalan. Ikut menambah polusi emisi bahan bakar di udara kota berjuta cerita ini. Kadang terselip di antara barisan mobil yang menyemut dalam parade macet pada jam pulang kerja.

Berbeda dengan taksi di Indonesia yang dimiliki perusahaan, taksi-taksi Kairo adalah milik pribadi. Jangan heran kalau melihat taksi sampai menolak penumpang. Jangan marah pula kalau si sopir menambah penumpang lain di tengah jalan meski di dalamnya sudah ada kita sendiri. “Lha wong ini mobil milik gue sendiri. Protes? Turun sana!” Kira-kira demikian yang ada di benak para sopir.

Ya ampun, taksi Kairo kebanyakan tidak pakai argometer. Jadi pandai-pandailah menawar kalau tidak mau kena tipu. Wajar saja karena kebanyakan taksi adalah mobil kuno era 70-80an seperti Fiat 128, Peugeot 204, Sahin, Dogan (dua-duanya dari Turki), Lada (Rusia). Untuk mengatasi keborokan mesir sekaligus menghemat bensin, taksi-taksi berwarna hitam (untuk daerah Giza ada strip putihnya) ini dimodifikasi berbahan bakar gas yang relatif lebih murah dan ramah lingkungan.

Alhamdulillah segala puji bagi Allah, sejak 2008 pemerintah menggalakkan proyek peremajaan taksi. Mobil yang sudah kelewat tua harus diganti dengan yang baru. Kebanyakan sedan ekonomis Chevrolet Lanos, Daewoo dan Speranza. Pemerintah juga memberikan pinjaman dengan kredit lunak bagi sopir yang ingin mengganti taksinya. Mobil-mobil bercat putih ini lebih nyaman; pakai argo, dilengkapi pendingin udara dan mesin yang tokcer.

Tidak semua taksi menyambut gembira rencana peremajaan ini. Maklum, ekonomi Mesir masih morat marit. Menurut survey, satu dari lima penduduk berpenghasilan dibawah satu dolar Amerika per hari.

“Saya adalah pegawai di jawatan pemerintah. Dengan gaji 600 Pound Mesir sebulan mana cukup untuk menghidupi anak-anak saya. Sudah 15 tahun jadi sopir taksi, nasib tetap tak berubah. Ini malah ada peraturan baru segala” ujar Abdalla, supir yang saya tumpangi dari Ma’adi ke Nasr City. “Lihat nih kacamata yang rusak ini, terpaksa saya sambung pakai kawat,” katanya sambil menerawang jalan lingkar timur Kairo yang senyap.

Sebagai mahasiswa, saya tidak setiap hari menggunakan jasa taksi. Bus umum jauh lebih murah. Namun dalam beberapa kesempatan saya sempat menemukan beberapa supir yang dengan latar belakang yang unik. Saya pernah ngobrol dengan George, karyawan administrasi di salah satu perusahaan yang kerja sambilan sebagai sopir. Tuntutan ekonomi membuat penganut Kristen Koptik ini harus mencari penumpang sepulang kerja di sore hari layaknya Abdalla.

Ada juga Ramy, sarjana ekonomi yang terjebak di balik kemudi. Ijazah yang didapatnya dari Cairo University tersebut ternyata belum ampuh untuk memberinya pekerjaan yang layak. Untuk menambah penghasilan terkadang mereka berangkat ke Arab Saudi pada bulan haji. Di tanah suci, mereka bekerja sebagai sopir bus atau taksi yang melayani jama’ah.

Buku “Taxi” karya penulis Khaled Al Khamissi bisa dijadikan referensi tentang taksi dan sopirnya. Meski bergenre fiksi, “Taxi” menyoroti keadaan politik, sosial dan ekonomi masyarakat Mesir. Melalui dialog-dialog dengan para sopir, Khaled membawa pembaca keliling kota Kairo dengan berbagai fenomena yang ada di sekelilingnya. “Taxi” sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris, Prancis dan Spanyol mungkin saking lakunya. Wallahu’alam.

Friday, July 3, 2009

Coklat Mahmud


Kairo diselimuti musim dingin. Suhu rata-rata di bawah 10 derajat celcius. Bagi mahasiswa Asia Tenggara sepertiku, temperatur ini cukup ekstrim. Suasana seperti ini paling enak ya, meringkuk di bawah selimut sambil menyeruput teh hangat, wuih nikmatnya. Namun dingin yang menggigit tak menyurutkan semangatku kuliah. Meski harus berjubel dalam bus menuju distrik Darrasah di mana Universitas Al Azhar berada. Di sini memang terdapat kampus khusus bagi fakultas-fakultas agama Islam, sedangkan fakultas umum Al Azhar seperti kedokteran, pendidikan dan teknik berada di Nasr City.

Fiuuuh! Akhirnya, jam kedua selesai. Wah, berat juga yah yang namanya pejaran Nudzum Islamiyah itu. Sudah bukunya tebal, materinya banyak lagi. Semoga ujian nanti aku bisa dimudahkan. Amien.

Aku langsung menuju Masjid Azhar. Ya, biasa. Shalat Dhuhur disana, dan nantinya makan siang dengan raghif kibdah[1]. Cukup 2 pound[2] sudah bisa kenyang. Musim dingin seperti ini perut memang cepat lapar.

Setelah melahap habis kibdah. Aku dan teman-teman Indonesia lainnya melanjutkan perjalanan sambil menunggu bus. Sesekali perjalanan kami dibumbui canda dan tawa gelak para pemuda. Kami sampai melupakan bahwa kami sudah berkepala dua. Setidaknya, kamui tidak kehilangan sense of humor masa ABG kami. Hehehe…

Tak terasa, bus yang kami nanti belum juga lewat. Kami memutuskan untuk menuju ke terminal Darrasah. Tak terlalu jauh memang, hanya sekitar lima ratus meter dari tempat kami berdiri sekarang. Setibanya disana, aku menyaksikan betapa ramainya terminal ini. Mengingatkan aku akan terminal kotaku dulu. Yah, semasa SMP sebelum masuk pesantren, aku sering menghabiskan waktu seusai jam pelajaran sekolah berakhir di sana. Sekedar kongkow bersama teman di warung kopi sambil ngemil pisang goreng atau ngegodain cewek yang lewat. Betul kata orang, masa ABG memang masa yang paling indah.

Lamunanku putus bersamaan saat pandanganku menangkap sosok kecil menjajakan coklat kepada orang-orang yang seakan sibuk sendiri dengan aktifitas mereka.

“25 piaster saja…siapa yang mau beli?” teriaknya lantang.

Hanya seperempat Pound, coklat yang di tawarkan anak bocah ini para calon penumpang yang menunggu bus mereka di terminal. Dengan lincah kakinya menerobos tubuh-tubuh orang dewasa yang memenuhi terminal. Tanpa putus asa menawarkan dagangannya pada setiap orang meski tak seorang pun yang tertarik membelinya.

Ekor matanya menangkap kehadiranku yang memperhatikannya dari jauh. Perlahan dia memutar haluan, berjalan cepat ke arahku. Sinar matanya dengan penuh harapan semoga dagangannya kubeli nanti.

Sebatang coklat disodorkan padaku. Aku menolak dengan halus.

“Asif ya walad, ana muflisy,”[3] aku menolak secara halus.

“Ayolah beli satu saja,” anak ini mencoba merayu.

Pengasong ini tak bergeming dari tempatnya berdiri. Masih menyodorkan sebatang coklat. Apa boleh buat aku tak bisa menolongnya, tidak ada uang kecil lagi. Yang tersisa hanya 50 piaster, hanya cukup buat ongkos bus pulang ke flat di Nasr City. Memang di dalam ransel masih ada selembar 20 pound, terlalu besar untuk membeli sebatang coklat. Perlahan posisi anak ini mendekat lalu duduk di sampingku.

"Ayolah 'amu… beli dong… satu saja,"

Aku hanya menggeleng sambil memandangnya sekilas. Bocah dekil, kotor dengan rambut kusut yang tak pernah disentuh shampoo. Usianya mungkin sekitar 7 atau 8 tahunan.

“Nama kamu siapa?” tanyaku.

“Mahmud,” jawabnya sambil menaruh sebatang coklat di pangkuanku.

"Di mana rumah kamu?"

"Saya tinggal di Gamalea sama ibu," hmmm…rupanya tak begitu jauh dari sini.

"Ayah?" aku keceplosan.

"Sudah meninggal ketika saya dalam kandungan," jawabnya dengan nada sedih.

"Maaf," aku merasa bersalah mengungkit kisah sedihnya.

Mahmud diam sejenak, mungkin merenungi nasibnya. Matanya menerawang jauh ke depan. Aku pun ikut diam. Anak sekecil ini harus berjibaku menghidupi dirinya. "Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu" kata Iwan Fals dalam salah satu lagunya. Aku tak mau bertanya tentang pekerjaan ibunya. Sudah pasti mereka hidup dalam kekurangan. Memaksa Mahmud meloncat dari bus ke bus menjajakan coklat yang untungnya tak seberapa di terminal ini.

Dalam hati aku mensyukuri apa yang aku dapatkan di masa kecil. Keluarga kami cukup berada. Gaji orang tuaku sebagai pegawai negeri cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Akupun dapat menikmati masa kecil sebagai anak-anak. Tak sulit bagiku minta dibelikan playstation, sepeda baru atau mengoleksi komik Dragon Ball yang dulu ngetop. Dengan sedikit rengekan manja, hampir semua keinginanku akan dikabulkan.

"Dapat berapa hari ini?" tanyaku iseng.

"Yah, cuma sedikit…" Mahmud menyeluarkan lembaran pound lusuh dari saku celananya. Hanya ada tiga lembar nominal 1 pound. Padahal sudah hampir Ashar.

Aku kembali memandangi anak kecil ini dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kerasnya kehidupan membuat bocah yang seharusnya tampil dengan segala kelucuan yang menggemaskan dalam usia seperti ini berpenampilan lusuh dan tak terawat khas anak jalanan. Sampai-sampai resleting celananya dibiarkan terbuka. Urusan perut yang terus menjerit sepertinya harus diutamakan. Apalah artinya resleting celana yang rusak dibanding kebutuhan primer yang lebih mendesak.

"Hei, perbaiki celana kamu tuh…" aku menunjuk celananya sambil tersenyum.

Mahmud ikut tersenyum. Senyum yang memiliki ribuan makna. Di sebelah kami, para gadis murid sekolah menengah tertawa kecil melihat kepolosan anak kecil ini. Kami tergelak, paling tidak sejenak Mahmud melupakan hidupnya yang malang.

Aku jadi iba. Ingin rasanya membantu meringankan beban hidup Mahmud dengan membeli barang satu atau dua bungkus dagangannya. Aku mengambil dua batang coklat. Selembar 20 pound kukeluarkan dari ransel.

"Wah…uangnya besar sekali, gak ada kembaliannya," kata Mahmud.

"Ya sudahlah, kembaliannya buat kamu saja," aku menyahut.

Entah kenapa aku jadi begitu baik hari ini. Padahal peminta-minta di jalan saja jarang kukasih, kalau pun memberi paling banyak aku menyerahkan pecahan 50 piaster. Mahmud beruntung hari ini.

Aku merenungi tausiyah salah satu ustadz kondang di televisi swasta Indonesia. Kata beliau, sedekah tidak akan membuat orang miskin, justru sebaliknya Allah akan menggantinya dengan balasan berlipat ganda. Salah seorang temanku di kampus juga pernah berkisah tentang seniornya yang memberi uang 150 pound pada pengemis di masjid. Begitu keluar dari pekarangan masjid, tiba-tiba tangannya ditarik oleh pria setengah baya. Tanpa banyak omong, dia dimasukkan ke dalam sebuah sedan Hyundai yang masih mulus. Masih dipenuhi tanda tanya, seketika pria yang menariknya tadi memberikan sepucuk amplop tertutup. Sesampainya di rumah, ternyata amplop tersebut berisi uang 150 pound!

Teman-temanku tiba-tiba berlari. Rupanya bus yang ditunggu telah tiba. Aku tak mau kalah, bergegas naik, berjuang mendapatkan tempat duduk. Dari jauh terdengar teriakan Mahmud, "Syukran ya 'ammu"[4]. Sambil lari, kulambaikan tangan padanya.

Naik bus dari Darrasah ke Nasr City memakan waktu hampir setengah jam, cukup melelahkan jika harus berdiri sepanjang jalan. Untungnya masih ada bangku kosong di belakang sopir. Terasa begitu nikmat saat punggungku menyentuh jok yang sudah robek di sana-sini. Empuknya melebihi sofa mewah sekalipun. Sambil menunggu bus berangkat kunikmati coklat yang kubeli dari Mahmud. Lumayan sebagai pengganjal perut.

Lima menit kemudian bus berderak perlahan, Udara dingin membelai lembut. Mataku perlahan terpejam. Baru sekian detik aku menutup mata terdengar ribut-ribut. Ada yang marah sambil menyumpah-nyumpah kepada sopir dari luar. Bus berhenti.

Tabiat orang Mesir memang keras kepala dan suka meledak-ledak. Kalau sudah marah segala serapah paling tidak senonoh pun diteriakkan. Jalan raya merupakan tempat yang paling sering menjadi ajang adu mulut tersebut. Gaya mengemudi mereka yang seenaknya saja kerap menimbulkan sengketa akibat kecelakaan lalu lintas kecil seperti keserempet atau tersenggol sedikit. Tapi anehnya amat jarang terjadi adu jotos. Dengan kata "ma'alisy"[5] persoalan selesai begitu saja tanpa dendam. Ada-ada saja.

Aku menengok melalui jendela, rupanya di luar banyak orang mengelilingi bus kami. Aku berdebar melihat puluhan bungkus coklat berhamburan di sana. Detak jantungku tambah kencang melihat sesosok tubuh kecil digotong ke pinggir terminal. Bocah yang kutemui beberapa menit yang lalu. Seketika, sisa coklat yang masih menempel di sela-sela gigiku terasa pahit.
_______________________
[1] Roti gandum isi tumis hati sapi.

[2] 1 pound (mata uang Mesir) = 100 piaster

[3] “Maaf nih, saya lagi gak punya uang”

[4] Terimakasih bang!

[5] Maaf/ gak apa-apa.