Showing posts with label bisik. Show all posts
Showing posts with label bisik. Show all posts

Saturday, May 11, 2013

Kafein

Denging nyamuk mendendang 
senyap saja jemari menghitung butir tasbih
menggumam pepujian
di samping cawan berdedak ampas kopi

Monday, August 10, 2009

Bukan Karena Garis Tangan


Sudah masuk dini hari
dan purnama bercakap dengan kelelawar
dan pagelaran masih berlanjut
dan pemirsa masih setia

Aku melirik pada teman baikku; seorang sutradara kenamaan
Bahasa tubuhnya menyuruhku bungkam
Tak ada pilihan lain selain duduk manis, menonton dongeng antah-berantah ini
Orang-orang sekelilingku manggut-manggut, walau aku masih henyak
Rahasia Tuhan bermain di sini

Tak kuasa selisik jawabnya
Bahkan teman baikku tadi; seorang sutradara kenamaan


Ditulis pukul setengah empat pagi tanggal 11 Agustus 2007
Buat trio sholeh: "Seribu masalah menghadang, tapi masih ada seribu satu pemecahan"



Friday, July 3, 2009

Coklat Mahmud


Kairo diselimuti musim dingin. Suhu rata-rata di bawah 10 derajat celcius. Bagi mahasiswa Asia Tenggara sepertiku, temperatur ini cukup ekstrim. Suasana seperti ini paling enak ya, meringkuk di bawah selimut sambil menyeruput teh hangat, wuih nikmatnya. Namun dingin yang menggigit tak menyurutkan semangatku kuliah. Meski harus berjubel dalam bus menuju distrik Darrasah di mana Universitas Al Azhar berada. Di sini memang terdapat kampus khusus bagi fakultas-fakultas agama Islam, sedangkan fakultas umum Al Azhar seperti kedokteran, pendidikan dan teknik berada di Nasr City.

Fiuuuh! Akhirnya, jam kedua selesai. Wah, berat juga yah yang namanya pejaran Nudzum Islamiyah itu. Sudah bukunya tebal, materinya banyak lagi. Semoga ujian nanti aku bisa dimudahkan. Amien.

Aku langsung menuju Masjid Azhar. Ya, biasa. Shalat Dhuhur disana, dan nantinya makan siang dengan raghif kibdah[1]. Cukup 2 pound[2] sudah bisa kenyang. Musim dingin seperti ini perut memang cepat lapar.

Setelah melahap habis kibdah. Aku dan teman-teman Indonesia lainnya melanjutkan perjalanan sambil menunggu bus. Sesekali perjalanan kami dibumbui canda dan tawa gelak para pemuda. Kami sampai melupakan bahwa kami sudah berkepala dua. Setidaknya, kamui tidak kehilangan sense of humor masa ABG kami. Hehehe…

Tak terasa, bus yang kami nanti belum juga lewat. Kami memutuskan untuk menuju ke terminal Darrasah. Tak terlalu jauh memang, hanya sekitar lima ratus meter dari tempat kami berdiri sekarang. Setibanya disana, aku menyaksikan betapa ramainya terminal ini. Mengingatkan aku akan terminal kotaku dulu. Yah, semasa SMP sebelum masuk pesantren, aku sering menghabiskan waktu seusai jam pelajaran sekolah berakhir di sana. Sekedar kongkow bersama teman di warung kopi sambil ngemil pisang goreng atau ngegodain cewek yang lewat. Betul kata orang, masa ABG memang masa yang paling indah.

Lamunanku putus bersamaan saat pandanganku menangkap sosok kecil menjajakan coklat kepada orang-orang yang seakan sibuk sendiri dengan aktifitas mereka.

“25 piaster saja…siapa yang mau beli?” teriaknya lantang.

Hanya seperempat Pound, coklat yang di tawarkan anak bocah ini para calon penumpang yang menunggu bus mereka di terminal. Dengan lincah kakinya menerobos tubuh-tubuh orang dewasa yang memenuhi terminal. Tanpa putus asa menawarkan dagangannya pada setiap orang meski tak seorang pun yang tertarik membelinya.

Ekor matanya menangkap kehadiranku yang memperhatikannya dari jauh. Perlahan dia memutar haluan, berjalan cepat ke arahku. Sinar matanya dengan penuh harapan semoga dagangannya kubeli nanti.

Sebatang coklat disodorkan padaku. Aku menolak dengan halus.

“Asif ya walad, ana muflisy,”[3] aku menolak secara halus.

“Ayolah beli satu saja,” anak ini mencoba merayu.

Pengasong ini tak bergeming dari tempatnya berdiri. Masih menyodorkan sebatang coklat. Apa boleh buat aku tak bisa menolongnya, tidak ada uang kecil lagi. Yang tersisa hanya 50 piaster, hanya cukup buat ongkos bus pulang ke flat di Nasr City. Memang di dalam ransel masih ada selembar 20 pound, terlalu besar untuk membeli sebatang coklat. Perlahan posisi anak ini mendekat lalu duduk di sampingku.

"Ayolah 'amu… beli dong… satu saja,"

Aku hanya menggeleng sambil memandangnya sekilas. Bocah dekil, kotor dengan rambut kusut yang tak pernah disentuh shampoo. Usianya mungkin sekitar 7 atau 8 tahunan.

“Nama kamu siapa?” tanyaku.

“Mahmud,” jawabnya sambil menaruh sebatang coklat di pangkuanku.

"Di mana rumah kamu?"

"Saya tinggal di Gamalea sama ibu," hmmm…rupanya tak begitu jauh dari sini.

"Ayah?" aku keceplosan.

"Sudah meninggal ketika saya dalam kandungan," jawabnya dengan nada sedih.

"Maaf," aku merasa bersalah mengungkit kisah sedihnya.

Mahmud diam sejenak, mungkin merenungi nasibnya. Matanya menerawang jauh ke depan. Aku pun ikut diam. Anak sekecil ini harus berjibaku menghidupi dirinya. "Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu" kata Iwan Fals dalam salah satu lagunya. Aku tak mau bertanya tentang pekerjaan ibunya. Sudah pasti mereka hidup dalam kekurangan. Memaksa Mahmud meloncat dari bus ke bus menjajakan coklat yang untungnya tak seberapa di terminal ini.

Dalam hati aku mensyukuri apa yang aku dapatkan di masa kecil. Keluarga kami cukup berada. Gaji orang tuaku sebagai pegawai negeri cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. Akupun dapat menikmati masa kecil sebagai anak-anak. Tak sulit bagiku minta dibelikan playstation, sepeda baru atau mengoleksi komik Dragon Ball yang dulu ngetop. Dengan sedikit rengekan manja, hampir semua keinginanku akan dikabulkan.

"Dapat berapa hari ini?" tanyaku iseng.

"Yah, cuma sedikit…" Mahmud menyeluarkan lembaran pound lusuh dari saku celananya. Hanya ada tiga lembar nominal 1 pound. Padahal sudah hampir Ashar.

Aku kembali memandangi anak kecil ini dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kerasnya kehidupan membuat bocah yang seharusnya tampil dengan segala kelucuan yang menggemaskan dalam usia seperti ini berpenampilan lusuh dan tak terawat khas anak jalanan. Sampai-sampai resleting celananya dibiarkan terbuka. Urusan perut yang terus menjerit sepertinya harus diutamakan. Apalah artinya resleting celana yang rusak dibanding kebutuhan primer yang lebih mendesak.

"Hei, perbaiki celana kamu tuh…" aku menunjuk celananya sambil tersenyum.

Mahmud ikut tersenyum. Senyum yang memiliki ribuan makna. Di sebelah kami, para gadis murid sekolah menengah tertawa kecil melihat kepolosan anak kecil ini. Kami tergelak, paling tidak sejenak Mahmud melupakan hidupnya yang malang.

Aku jadi iba. Ingin rasanya membantu meringankan beban hidup Mahmud dengan membeli barang satu atau dua bungkus dagangannya. Aku mengambil dua batang coklat. Selembar 20 pound kukeluarkan dari ransel.

"Wah…uangnya besar sekali, gak ada kembaliannya," kata Mahmud.

"Ya sudahlah, kembaliannya buat kamu saja," aku menyahut.

Entah kenapa aku jadi begitu baik hari ini. Padahal peminta-minta di jalan saja jarang kukasih, kalau pun memberi paling banyak aku menyerahkan pecahan 50 piaster. Mahmud beruntung hari ini.

Aku merenungi tausiyah salah satu ustadz kondang di televisi swasta Indonesia. Kata beliau, sedekah tidak akan membuat orang miskin, justru sebaliknya Allah akan menggantinya dengan balasan berlipat ganda. Salah seorang temanku di kampus juga pernah berkisah tentang seniornya yang memberi uang 150 pound pada pengemis di masjid. Begitu keluar dari pekarangan masjid, tiba-tiba tangannya ditarik oleh pria setengah baya. Tanpa banyak omong, dia dimasukkan ke dalam sebuah sedan Hyundai yang masih mulus. Masih dipenuhi tanda tanya, seketika pria yang menariknya tadi memberikan sepucuk amplop tertutup. Sesampainya di rumah, ternyata amplop tersebut berisi uang 150 pound!

Teman-temanku tiba-tiba berlari. Rupanya bus yang ditunggu telah tiba. Aku tak mau kalah, bergegas naik, berjuang mendapatkan tempat duduk. Dari jauh terdengar teriakan Mahmud, "Syukran ya 'ammu"[4]. Sambil lari, kulambaikan tangan padanya.

Naik bus dari Darrasah ke Nasr City memakan waktu hampir setengah jam, cukup melelahkan jika harus berdiri sepanjang jalan. Untungnya masih ada bangku kosong di belakang sopir. Terasa begitu nikmat saat punggungku menyentuh jok yang sudah robek di sana-sini. Empuknya melebihi sofa mewah sekalipun. Sambil menunggu bus berangkat kunikmati coklat yang kubeli dari Mahmud. Lumayan sebagai pengganjal perut.

Lima menit kemudian bus berderak perlahan, Udara dingin membelai lembut. Mataku perlahan terpejam. Baru sekian detik aku menutup mata terdengar ribut-ribut. Ada yang marah sambil menyumpah-nyumpah kepada sopir dari luar. Bus berhenti.

Tabiat orang Mesir memang keras kepala dan suka meledak-ledak. Kalau sudah marah segala serapah paling tidak senonoh pun diteriakkan. Jalan raya merupakan tempat yang paling sering menjadi ajang adu mulut tersebut. Gaya mengemudi mereka yang seenaknya saja kerap menimbulkan sengketa akibat kecelakaan lalu lintas kecil seperti keserempet atau tersenggol sedikit. Tapi anehnya amat jarang terjadi adu jotos. Dengan kata "ma'alisy"[5] persoalan selesai begitu saja tanpa dendam. Ada-ada saja.

Aku menengok melalui jendela, rupanya di luar banyak orang mengelilingi bus kami. Aku berdebar melihat puluhan bungkus coklat berhamburan di sana. Detak jantungku tambah kencang melihat sesosok tubuh kecil digotong ke pinggir terminal. Bocah yang kutemui beberapa menit yang lalu. Seketika, sisa coklat yang masih menempel di sela-sela gigiku terasa pahit.
_______________________
[1] Roti gandum isi tumis hati sapi.

[2] 1 pound (mata uang Mesir) = 100 piaster

[3] “Maaf nih, saya lagi gak punya uang”

[4] Terimakasih bang!

[5] Maaf/ gak apa-apa.

Khianat!

alangkah nikmat jadi pengkhianat;
nyenyak sembunyi di balik selimut hangat
seret langkah ringan, tenteng beratus topeng berwajah sembab meminta iba

menjaja raut bijak tanpa dosa

menyelip rona licik penuh hasrat

alangkah hebat hidup pengkhianat;
pendam anyir durjana dalam wujud orang baik-baik: sobatku


*ditulis kembali untuk memperingati sebuah tragedi kemanusiaan

Saturday, May 30, 2009

Kipas Angin

Pengap kiriman neraka sodorkan hawa membara
leleh peluh berkenduri di antara lipatan leher dan bidang dada
ya Tuhan ini hanya kemarau biasa, namun amat menyiksa
kami pun jumpalitan tak tentu arah gelisah, sarat kesah.
Ini bukan cekam lidah jahanam yang kelak hanguskan penguasa lalim dan pendurhaka
ini hanya gersang biasa
tapi makhluk-makhluk Mu ini sudah hilang daya!

Kalau boleh kami pinta;

kirimkan sebuah kipas angin saja
penyejuk udara yang jernihkan saraf-saraf kusut

meniup sejuk diantara semrawut jagat

supaya kami tak lagi nyinyir
menjejal buana dengan berpeti keluh.
Jadikan kami manusia-manusia yang taat!


*Masjid Sakr Koresh, Awal Malam

NB: Silakan juga berkunjung ke Kemudian.com

Thursday, January 15, 2009

24 Jam

Menjamah pagi:

Pijak matahari membabat kabut subuh
Merekahlah batin-batin di ufuk terguyur selusin tanda tanya
Bertebar!

Benderang siang:
Sambil merindu petang
menggali jejak pengalaman

Terjemah malam:
Riuh bersilat memiting dengki hati
Bisu meniti jalanan pekat gulita
Musafir pun berehat, singgah sejenak
merenung jejak rasi bintang, bergelantung

Sunday, January 11, 2009

Terkutuk

Bau Mesiu makin gurih
Gelegak darah makin mendidih
Begitu mudah dengan satu titah: "Serbu!"
Makhluk-makhkuk terkutuk berulah lagi di Palestina
Buta mata, buta hati , buta segala
Serentak setan alas merasuk balatentara

Roket dan mortir menjelma angkara
Panser baja berubah buas

Merangsek lalu mencabik lalu mengunyah mangsa
Mewaris legam asap di angkasa raya

Syahdan, itulah hikayat bangsa terkutuk
Entah di mana nurani mereka
Ada yang bilang, hilang
Teronggok bersama sampah busuk

Ujar lain, larut

Mengalir di selokan berlumut
Tapi aku yakin suatu saat mereka akan berlutut
Hancur binasa punah dari ekosistem semesta

Teruntuk Jalur Membara, 10 Januari 2008

Wednesday, December 24, 2008

Mahasiswa yang Sedang Kalap

Hujan debu menyuruhku belajar

Serap bijak dari jilidan lembar-lembar

Mendaki baris abjad berjajar

Akulah mahasiswa terpelajar


Debu terus berkibar

Tunggangi cekam musim dingin

Merasuk perlahan dalam dinding

Pun dalam lantai berubin

Semua dingin, Aku menggigil


Debu berkecamuk di luar sana

Aih! Nalar batok kepalaku membabi-buta

Aku kalap luar biasa:

Aku santap rumus-rumus logika

Aku cerna teori dan fatwa

Aku kalap

Bukan malam ini saja

Malam berhujan debu di Cairo, 23 Desember 2008