Wednesday, December 5, 2012
Masa Depan Cerah Timnas
Peluit bertiup dari mulut wasit asal Uzbekistan. Pertandingan berakhir. Dua gol yang bersarang di gawang Indonesia dalam jangka waktu di babak pertama tidak bisa dibalas sama sekali. Tuan rumah Malaysia bersorai, sedangkan pemain dengan emblem garuda di dada tertunduk. Begitu pula jutaan rakyat Indonesia yang menonton dari siaran langsung. Kesebelasan garuda tersingkir dari Piala AFF 2012, tak bisa ditawar lagi.
Ini bukan kali pertama kita kalah dari tetangga yang sekaligus musuh bebuyutan itu. Tidak ada kekecewaan berlebih. Apalagi mengingat konflik seruwet benang kusut yang menggelayuti PSSI, timnas juga kena imbasnya.Toh dengan komposisi pemain ‘seadanya’, tim ini sempat menyiratkan secercah harapan.
Sunday, October 31, 2010
Meraba Masa Indah SMU
Sutradara: Hanung Bramantyo
Pemain: Ramon J. Tungka, Marcel Chandrawinata, Vino G. Bastian
Produksi: Rexinema, 2005
Saya bukan lulusan SMU. Masa pendidikan menengah saya (SMP & SMU) terlewati di dua pesantren yang berbeda di dua pulau yang berjauhan pula. Gambaran kehidupan SMU –yang kata orang adalah masa paling indah dalam hidup remaja—hanya bisa saya “raba” melalui cerita teman, film atau pun kisah fiksi seperti novel dan cerita pendek.
Oleh karena itu, saya begitu bersemangat untuk menonton film “Catatan Akhir Sekolah”. Sekarang sudah tahun 2010. Mungkin banyak yang mengatakan saya ketinggalan zaman sebab ini adalah film lama, produksi 2005. Tapi tak apalah, toh film ini karya sutradara Hanung Bramantyo.
Saya pernah menonton film-film arahan suami aktris Zaskia Adya Mecca ini seperti Jomblo, Doa yang Mengancam, Kamulah Satu-satunya, Get Married 1 & 2, Perempuan Berkalung Sorban dan Ayat-Ayat Cinta. Meski di antara beberapa film tersebut ada yang menuai kontroversi, paling tidak masih bisa diterima “akal sehat”. Tidak seperti sinetron yang sudah menonjolkan—maaf—kedunguan dunia sinema. Sepengetahuan saya, karya Mas Hanung bukan “asal buat” seperti film horror atau komedi cabul yang marak belakangan.
Karena di Kairo tidak ada rental DVD film Indonesia seperti di tanah air, maka saya memanfaatkan koneksi internet melalui situs YouTube.
Adegan pembukaan sungguh memikat. Kurang lebih delapan menit saya disuguhi tayangan non-stop kehidupan SMA Fajar Harapan. Bermula dari gerbang terus berlanjut lorong, kelas, kantin, lapangan basket hingga toilet kamera terus berjalan membidik suasana sekolah khas remaja.
Akting pemain cukup alami—setidaknya menurut saya. Tidak sefantastis SMU dalam sinetron yang glamor; kemana-mana naik mobil mewah, persaingan murid jahat dan baik dan hal-hal di luar akal sehat lainnya. Di sini, para artis diarahkan untuk berdandan layaknya siswa normal, jajan di kaki lima, berjejal di bus, naik bajaj dan nongkrong di mall.
Sisipan Rohis
Cerita berpusat pada trio sahabat; Agni (diperankan Ramon J. Tungka) siswa berkacamata yang begitu berambisi dalam ekskul film. Arian (Vino G. Bastian), pengurus mading sekolah yang meledak-ledak dan suka bicara nyaring. Alde (Marcel Chandrawinata), si tampan pemalu yang jadi idola para gadis.
Mereka bertiga dianggap pecundang di sekolah alias cupu (Culun Abis, istilah remaja), meski secara tampang tidak terlalu cupu memang hehehe. Film-film Agni selalu dianggap tidak bermutu. Sedangkan Arian hanya diserahi tugas sebagai pemegang kunci mading dalam kelompoknya. Adapun Alde bermasalah dengan anggota ekskul band.
Akhirnya, mereka bertekad untuk membuat sebuah film dokumenter untuk tentang sekolah yang diputar dalam pentas seni (Pensi). Mereka ingin untuk membungkam teman-teman yang memandang mereka sebelah mata. Maka, berbekal kamera digital milik ibunya Alde mereka merekam keseharian para siswa. Tidak hanya kegiatan belajar dan ekskul, tapi juga kenakalan ala ABG. Momen-momen “gelap” SMU seperti mencontek di kelas, kabur saat jam pelajaran, rokok, narkoba hingga skandal kepala sekolah.
Namanya juga film, pasti ada bumbu cerita. Proyek tiga serangkai ini tidak semulus yang dikira. Puncaknya ketika terjadi konflik internal di antara mereka. Pembuatan film dokumenter bubar. Mereka kembali dipersatukan ketika Alde babak belur dihajar preman. Seperti film lainnya, cerita berakhir bahagia. Happy ending.
Belakangan, Hanung Bramantyo akrab dengan film-film bertema keislaman. Film-film religi semacam Ayat-ayat Cinta, Doa yang Mengancam, Perempuan Berkalung Sorban dan yang paling gres, biografi KH Ahmad Dahlan “Sang Pencerah”.
Bisa jadi, kecendrungan ini bermula sejak Catatan Akhir Sekolah. Ada adegan menarik saat A3 mewawancarai ketua ekskul rohis (Rohani Islam) di mushalla sekolah. Dengan lugu Agni bertanya, “Kenapa sih kita harus shalat?” “Bla…bla… bla… Shalat mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar,” jawab ketua rohis yang berpeci putih dengan ayat yang fasih. Ajaib! Mereka yang sebelumnya bengal, ikutan shalat. Mungkin takut neraka.
Bagi teman-teman yang belum pernah mengecap bangku SMU seperti saya, Catatan Akhir Sekolah dengan segala kekurangannya bisa jadi salah satu referensi. Wallahua’lam.
Markus Murah Senyum
Tapi Markus Haris Maulana, penjaga gawang no. 1 tim nasional sepakbola Indonesia lain dari yang lain. Di saat-saat genting, dia masih sempat tersenyum. Sebenarnya tidak terlalu tepat disebut tersenyum, mungkin cuma “menyengir”.
Kemurahan senyum Markus tidak hanya ketika membela panji tim nasional. Saat bermain untuk klubnya PSMS, Arema sampai saat ini Persib Bandung, kebiasaan itu tidak hilang.
Karir Markus mencuat saat dipercaya pelatih Ivan Kolev tampil melawan Korea Selatan di ajang Piala Asia 2007. Saat itu kita hanya butuh hasil imbang untuk lolos ke babak perempat final. Malang, partai terakhir penyisihan grup Merah Putih harus menghadapi Korsel.
Gianluigi Buffon
Kebetulan saya sempat menonton pertandingan tersebut melalui siaran langsung. Bulu kuduk merinding. Putih mendominasi stadion. Kontras dengan dua pertadingan pertama dimana Stadion Gelora Bung Karno dipenuhi warna merah. Melawan tim Ginseng, Indonesia kebagian jatah memakai kostum putih karena Korea memperoleh kesempatan warna merah. Toh tidak mengapa, warna putih kan bagian dari bendera sang saka juga. Presiden SBY dan ibu Ani Yudhoyono juga turut hadir, memakai baju warna putih.
Hasil akhir: Indonesia takluk 0-1. Kalau bukan karena Markus yang berjibaku meloncat kesana kemari, mungkin Korea sudah pesta gol. Sejak saat itulah Markus selalu hadir di bawah mistar. Walau sering melakukan kesalahan vital (salah satunya saat dikalahkan Syiria 1-4 dalam kualifikasi Piala Dunia 2007) dan terlalu berani meninggalkan sarangnya, Markus tetap tak tergantikan.
Dalam kekalahan tragis dari Uruguay, Markus juga jadi penyelamat. Beberapa kali melakukan aksi gemilang, mencegah Luis Suarez dkk berpesta lebih dari 7 gol.
Alasan Markus
Iseng-iseng, pernah saya berbincang dengan seorang teman. Kami berdiskusi tentang arti di balik senyum seorang Markus.
- Mengamalkan petuah dai kondang KH. Abdullah Gymnastiar. Ulama asal Bandung yang tenar dengan sebutan Aa Gym ini menitikberatkan kepada pensucian hati Istilah kerennya Manajemen Qalbu. Sebenarnya bukan Aa Gym saja yang menganjurkan senyum sebab menebar senyum memang dianjurkan dalam Islam. “Senyum-mu kepada saudara-mu adalah sedekah” demikian sabda Rasulullah SAW.
- Mempunyai atau paling tidak pernah melihat kaos oblong bikinan Dagadu Djokdja tentang senyum. Kebetulan saya punya kaos model begini. Tulisannya:
“Senyum. Sesuatu yang indah dengan investasi 00,0 Rupiah.
Senyum. Kalau mau dapat kita lakukan setiap saat.
Senyum. Welcome di seluruh dunia. Apalagi di Djokdja.
Senyum. Senyum lebar rezeki lancar.”
- Membayangkan kehidupan bahagia penuh kasih sayang setelah nikah dengan tunangannya. Markus memang sudah bertunangan dengan artis dan fotomodel Kiki Amalia. Rencananya perkawinan mereka akan berlangsung dalam waktu dekat.
- Mencoba menghibur rekan setimnya agar terus semangat meski kalah dalam pertandingan.
- Menunjukkan bahwa Markus adalah seorang penyabar dan memiliki mental yang kuat. Tidak cepat marah dan panik.
- Markus memiliki kemampuan supranatural melihat masa depan. Markus melihat Indonesia menjuarai Piala Dunia sekian tahun yang akan datang. Oleh karena itu dia tersenyum.
- Mengetahui bahwa anda membaca tulisan ngawur ini!
Wallahu’alam. Garuda di Dadaku!
