Showing posts with label Diary. Show all posts
Showing posts with label Diary. Show all posts

Tuesday, November 29, 2011

Bendera Tiga Warna

Ruangan perpustakaan fakultas Ushuluddin tidak senyap seperti biasanya. Kali ini agak ramai. Ada beberapa mahasiswa yang sudah lulus duduk antri di depan meja ustadz Gamal. Mereka adalah mahasiswa yang sedang mengurus ijazah, termasuk saya. Masing-masing menunggu namanya dipanggil.

Di hadapan saya terdapat seorang pria seusia saya. Mahasiswa juga tentunya. Wajah peranakan arab dengan berjenggot lebat menjalar dari cambang hingga dagu. Mirip sarang tawon, demikian saya membatin.

“Mana paspor kamu?” ustadz Gamal mengulurkan tangan kanan dengan telapak hadap ke atas. Jari telunjuknya bergerak-gerak dari depan ke belakang. Sebuah isyarat untuk meminta.

Ooo, ternyata si empunya sarang tawon adalah mahasiswa asing (non-Mesir). Mungkin dari negara Arab lain. Sebuah buku tipis seukuran dompet dia keluarkan, tentu sebuah paspor. Tapi berbeda dengan warna sampul paspor dari negara lain yang hanya pakai satu warna (biru tua, merah atau hijau seperti Indonesia), punya si jenggot memiliki tiga warna sekaligus; merah, hitam dan hijau.

Sunday, July 17, 2011

Di Bawah Pohon Menunggu Wahyu

Pohon keramat di depan Fakultas Ushuluddin
Akhirnya dua bulan melelahkan itu usai. Perasaan saya bercampur antara lega dan cemas. Plong karena musim ujian telah lewat sekaligus khawatir dengan pengumuman nilai nanti. Toh, saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain banyak berdoa sebab lembar jawaban sudah terkumpul di tangan para dosen pengajar. Kalaupun ada yang hasilnya kurang memuaskan, semoga dosen yang memeriksa jawaban saya diserang kantuk dan keliru, lalu memberikan nilai tinggi. Allah selalu punya rahasia, siapa tahu?


Ujian akhir kali ini bisa dibilang penentuan, karena hasilnya menentukan lulus tidaknya kami nanti. Ujian terbagi dua, lisan dan tulis. Ujian lisan mencakup hafalan Al Qur’an dan pemahaman materi. Karena saya berada di jurusan tafsir, maka yang ditanyakan adalah tafsir dalam kitab-kitab klasik.


Saya dan beberapa teman dari Indonesia membentuk kelompok belajar. Anggotanya tidak banyak, cuma Hafiz, Dayat, Aman, Ahri, Pipin, Haji dan saya sendiri. Kami sering duduk berderet di ruang kuliah. Bahkan—maaf—jika udara panas dan suara pak dosen kurang terdengar, kami kerap terserang kantuk dan tertidur bersama. Tertelungkup di atas meja. Setelah kelas bubar, kami bersama mengerubungi Amin, mahasiswa Bangladesh yang biasa duduk paling depan. Menanyakan bab apa sajakah yang penting dan dijelaskan dosen tadi.Malamnya, kami berkumpul di rumah saya untuk mendiskusikan pelajaran yang tertinggal. Kisruh politik Mesir awal tahun silam, membuat studi kami agak terlambat. Apalagi kami masih harus melakukan perbaikan nilai untuk beberapa pelajaran tahun lalu.