Monday, January 7, 2013
Wednesday, May 18, 2011
Rame-rame Belajar Bahasa
Saturday, May 14, 2011
Necis
Friday, January 21, 2011
Hikayat Dua Beranak
Wednesday, October 6, 2010
Ada Curhat di Balik Setir Taksi
Taksi di setiap negara memiliki kekhasan dan cerita tersendiri. Beberapa malah sudah masuk ke layar lebar. Contohnya film “Taxi” bikinan Prancis yang fenomenal. Komedi-action yang diproduksi pertama kali tahun 1998 tersebut sampai dibuat 4 sekuel. Berkisah tentang Daniel, supir taksi kota Marseille yang jago ngebut tapi kocak. Pertemuannya dengan Emilien, polisi yang tidak bisa menyetir membawanya ke berbagai petualangan membasmi kejahatan.
Hampir dengan plot cerita yang serupa, film “Taxi” (2004) juga diproduksi di Amerika Serikat. Menceritakan tentang Isabelle Williams (diperankan penyanyi Queen Latifah) , supir taksi perempuan di New York. Belle dikisahkan terlibat pengejaran terhadap komplotan perampok bank wanita.
Cuma saja, akhir Agustus silam kabar sedih datang dari supir taksi New York. Karena mengaku beragama Islam, Ahmed Sherif yang sudah menyetir taksi sejak 15 tahun silam ditusuk penumpangnya. Imigran asal Bangladesh ini pun harus mendapat perawatan di rumah sakit.
Tidak salah pula jika beberapa waktu lalu pemerintah kita memasang iklan di banyak taksi di London, Inggris. Slogan “Remarkable Indonesia” tersebut bertujuan untuk mempromosikan produk dan pariwisata Indonesia.
"Sejumlah taksi di London kita buat iklan di sana mengenai remarkable Indonesia," kata Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar kepada situs berita detik.com.
Khaled Al Khamissi dan buku Taxi
Curhat Taksi Kairo
Taksi bagi warga kota Kairo adalah salah satu elemen transportasi penting. Buktinya, banyak taksi bersliweran di jalan-jalan. Ikut menambah polusi emisi bahan bakar di udara kota berjuta cerita ini. Kadang terselip di antara barisan mobil yang menyemut dalam parade macet pada jam pulang kerja.
Berbeda dengan taksi di Indonesia yang dimiliki perusahaan, taksi-taksi Kairo adalah milik pribadi. Jangan heran kalau melihat taksi sampai menolak penumpang. Jangan marah pula kalau si sopir menambah penumpang lain di tengah jalan meski di dalamnya sudah ada kita sendiri. “Lha wong ini mobil milik gue sendiri. Protes? Turun sana!” Kira-kira demikian yang ada di benak para sopir.
Ya ampun, taksi Kairo kebanyakan tidak pakai argometer. Jadi pandai-pandailah menawar kalau tidak mau kena tipu. Wajar saja karena kebanyakan taksi adalah mobil kuno era 70-80an seperti Fiat 128, Peugeot 204, Sahin, Dogan (dua-duanya dari Turki), Lada (Rusia). Untuk mengatasi keborokan mesir sekaligus menghemat bensin, taksi-taksi berwarna hitam (untuk daerah Giza ada strip putihnya) ini dimodifikasi berbahan bakar gas yang relatif lebih murah dan ramah lingkungan.
Alhamdulillah segala puji bagi Allah, sejak 2008 pemerintah menggalakkan proyek peremajaan taksi. Mobil yang sudah kelewat tua harus diganti dengan yang baru. Kebanyakan sedan ekonomis Chevrolet Lanos, Daewoo dan Speranza. Pemerintah juga memberikan pinjaman dengan kredit lunak bagi sopir yang ingin mengganti taksinya. Mobil-mobil bercat putih ini lebih nyaman; pakai argo, dilengkapi pendingin udara dan mesin yang tokcer.
Tidak semua taksi menyambut gembira rencana peremajaan ini. Maklum, ekonomi Mesir masih morat marit. Menurut survey, satu dari lima penduduk berpenghasilan dibawah satu dolar Amerika per hari.
“Saya adalah pegawai di jawatan pemerintah. Dengan gaji 600 Pound Mesir sebulan mana cukup untuk menghidupi anak-anak saya. Sudah 15 tahun jadi sopir taksi, nasib tetap tak berubah. Ini malah ada peraturan baru segala” ujar Abdalla, supir yang saya tumpangi dari Ma’adi ke Nasr City. “Lihat nih kacamata yang rusak ini, terpaksa saya sambung pakai kawat,” katanya sambil menerawang jalan lingkar timur Kairo yang senyap.
Sebagai mahasiswa, saya tidak setiap hari menggunakan jasa taksi. Bus umum jauh lebih murah. Namun dalam beberapa kesempatan saya sempat menemukan beberapa supir yang dengan latar belakang yang unik. Saya pernah ngobrol dengan George, karyawan administrasi di salah satu perusahaan yang kerja sambilan sebagai sopir. Tuntutan ekonomi membuat penganut Kristen Koptik ini harus mencari penumpang sepulang kerja di sore hari layaknya Abdalla.
Ada juga Ramy, sarjana ekonomi yang terjebak di balik kemudi. Ijazah yang didapatnya dari Cairo University tersebut ternyata belum ampuh untuk memberinya pekerjaan yang layak. Untuk menambah penghasilan terkadang mereka berangkat ke Arab Saudi pada bulan haji. Di tanah suci, mereka bekerja sebagai sopir bus atau taksi yang melayani jama’ah.
Buku “Taxi” karya penulis Khaled Al Khamissi bisa dijadikan referensi tentang taksi dan sopirnya. Meski bergenre fiksi, “Taxi” menyoroti keadaan politik, sosial dan ekonomi masyarakat Mesir. Melalui dialog-dialog dengan para sopir, Khaled membawa pembaca keliling kota Kairo dengan berbagai fenomena yang ada di sekelilingnya. “Taxi” sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris, Prancis dan Spanyol mungkin saking lakunya. Wallahu’alam.
Thursday, August 20, 2009
Bus Lenyap dari Jalanan Cairo
Sejak Selasa, (18/08) bus kota seakan 'menghilang' dari kota Cairo. Para sopir, kondektur dan mekanik di 14 dari 19 terminal pusat bus pemerintah di provinsi Cairo dan Giza melakukan aksi mogok menuntut perbaikan kondisi kerja. Masyarakat pun harus rela menjejali bus-bus mini yang dikelola swasta meski dengan tarif lebih tinggi dari bus pemerintah. Pemerintah langsung merespon dengan menawarkan kenaikan gaji sebesar 8% dan pembebasan dari pungutan lalu lintas. Selain itu sopir dan kondektur juga mendapat tunjangan makan sebanyak 120 Pound Mesir per bulannya ditambah kompensasi kesehatan.
Para pengunjuk rasa akhirnya menerima poin-poin yang ditawarkan. Transportasi publik diperkirakan akan berangsur pulih Kamis ini (20/08).
Salah satu tuntutan yang diminta para sopir adalah penghapusan pungutan lalu lintas dari polisi.
"Denda lalu lintas benar-benar membuat kami tidak tahan," ujar Dossuki Abdul Basset, sopir bus di stasiun bus Mustaqbal, Nasr City kepada surat kabar Al Masry Al Youm. Sekitar 100 bus dan 700 pekerja bernaung di stasiun ini. Menurut Dossuki, denda yang diterimanya dua kali lipat dari penghasilannya perbulan.
Para sopir juga mengeluhkan kondisi bus yang sudah tidak layak pakai. Padahal pendapatan harian sudah mereka dipotong untuk biaya perbaikan, namun kondisi bus tidak mengalami perubahan.
Aksi serupa pernah tahun 2007 silam. Namun saat itu jumlah sopir yang melakukan mogok kerja hanya sebagian kecil saja.
Sumber: Al Masry Al Youm, 19 Agustus 2009
Tuesday, July 21, 2009
Pemerintah Kairo Larang Maulid Sayyidah Zainab
Peringatan hari lahir (maulid) Sayyidah Zainab, salah satu cucu Rasulullah SAW dirayakan setiap tahun di. Ribuan muslim dari berbagai daerah di penjuru Mesir berdatangan. Namun tahun ini tradisi itu terancam batal karena pemerintah Kairo memutuskan untuk meniadakan acara maulid tersebut. Abdel Azeem al Wazir, Gubernur Kairo menerapkan kebijakan ini sebagai langkah pencegahan terhadap wabah flu babi. Hingga 16 Juli, tercatat 122 kasus penyakit yang disebabkan virus H1N1 di negeri Piramida ini.
Sejak pembatalan ini diumumkan minggu lalu, petugas keamanan telah memaksa para peziarah untuk meniggalkan lapak dan tenda-tenda di sekitar masjid Sayyidah Zainab, Kairo. Acara puncak yang dijadwalkan 21 Juli ini terancam tidak terlaksana.
Sumber: Al Masr Pelarangan ini juga membuat para pedagang gundah. Sayid Madkour, warga provinsi Kafr al Sheikh harus rela melihat dagangannya tidak laku. "Padahal saya sudah membawa banyak mainan anak-anak senilai 3.000 pound untuk dijual di sini." "Acara ini (maulid Sayyida Zainab) merupakan warisan leluhur," ujar Sheikh Abdul Gelil Mohammed, perwakilan Tariqah Qasimiyah, salah satu kelompok sufi muslim sunni kepada surat kabar al Masry al Youm. Tokoh Tarekat asal Qalyubiya tersebut menuntut pemerintah untuk menutup wadah-wadah keramaian lain seperti pasar dan bioskop, bukan hanya festival maulid ini.
Sumber: Al Masry Al Youm, 19 Juli 2009
Wednesday, April 1, 2009
Kairo Diamuk Api
Mesir diamuk si jago merah, Senin (30/03). Kebakaran terjadi di lima tempat di kota Kairo dan Helwan. Kejadian pertama terjadi di sebuah pusat perbelanjaan di provinsi Helwan, selatan Kairo. Si jago merah memusnahkan bangunan lima lantai tersebut. Kerugian ditaksir mencapai angka 15 juta pound Mesir.
Dua jam kemudian, giliran 35 toko dan kios di distrik Sayeda Aisha hangus. Dinas pemadam kebakaran harus mengerahkan 20 unit truk pemadam untuk menjinakkan api. Demikian laporan harian terbitan Kairo, Al Masry Al Youm.
Kebakaran yang paling dahsyat terjadi di Sharabia, Qalyoubia. 70 mobil pemadam harus berjibaku selama delapan jam untuk memadamkan si jago merah. Belum ada catatan korban jiwa yang jatuh dalam insiden tersebut.
Thursday, February 26, 2009
Bila Ahmad Berulah
Rabu, 25 Februari 2008
Matahari sudah sepenggalan naik saat aku meninggalkan flat, rencananya aku hendak pergi ke kampus sekaligus mengurus surat keterangan untuk perpanjangan visa tinggal. Saking semangatnya sampai-sampai aku lupa sarapan, padahal menu sudah siap disantap. Lebih dari setengah jam aku menunggu bus di depan galeri el Garhy Furniture. Bersamaku juga ada beberapa mahasiswa asing dari Tajikistan dan negara-negara Afrika. Bus no. 80 dan 65 yang melewati rute Universitas Al Azhar di Darrasah tak kunjung datang. Akhirnya aku mengambil keputusan untuk pergi ke terminal al Hayy al Sabie terlebih dahulu. Sebab di distrik yang banyak ditinggali mahasiswa Malaysia tersebut ada bus 24 yang lebih cepat. Disamping itu tidak sejelal bus dari al Hayy al Asyir.
Satu jam sebelum azan Zhuhur berkumandang, aku tiba di kampus yang masih lenggang. Semester pertengahan tahun kedua baru saja dimulai, hanya beberapa ruang kuliah saja yang sudah disambangi dosen.
Tatkala waktu zhuhur tiba, aku juga bergegas menuju masjid. Tak disangka seruan alam memanggil keras, menghujam saraf pendengaranku. Aku tak dapat melanjutkan langkah yang sudah membeku. Seruan ini datang dari organ-organ pencernaanku yang belum terisi sejak pagi tadi. Ya salam! Lapar mendera hebat.
Tak ada pilihan lain, aku harus bertindak sesegera mungkin. Aku melongok telepon seluler yang dari tadi tersimpan di saku jaket, waktu hingga iqamah Zhuhur masih sekitar 20 menit lagi. Cukup untuk menyantap semangkok koshary di seberang jalan, dekat kantor Bank Faishal serta beberapa ratus meter dari Masjid Hussein. Beberapa hari yang lalu terjadi ledakan bom di depan Masjid bersejarah ini. Dikabarkan seorang turis asal Prancis tewas. Maka tak heran jika polisi memeriksa identitas sesiapa yang melewati daerah tersebut. Tapi aku tak hendak masuk ke sana . Lebih baik aku menenangkan seruan alam dari organ-organ perut ini. Begitu menggema.
Dalam hitungan detik, aku sudah duduk di depan meja pualam warung "Nagma el Hussein" alias "Bintang Hussein". Seorang pelayan yang nanti kukenal dengan nama Ahmad menyapa dengan ramah, "Lam Araka mundzu 'asyara 'am, ahlan wa sahlan". "Selamat datang, sudah sepuluh tahun aku tidak melihatmu. Aku benar-benar kangen," kira-kira begitu terjemahan bebasnya. Terlalu berbasa-basi memang, khas peranakan Arab lainnya yang memang suka bermujamalah.
"Wahid koshary," ujarku mantap diiringi anggukan sumingrah dari arah lambung. Dalam sekejap semangkok kombinasi nasi, pasta dan kacang adas plus saus sudah terhidang. Inilah koshary khas Hussein! Selain aku juga ada beberapa pelajar asal Cina dan Malaysia yang ikut bersantap. Bisa dibilang Koshary adalah salah satu menu Mesisr yang agak nyetel dengan lidah Asia.
"Fein mil'ah?" aku menanyakan sendok.
"Makan pakai itu saja..." ucap Ahmad sambil menyodorkan pisau dan garpu. Makan nasi pakai garpu? Rasanya belum pernah kudengar.
"Kosharinya potong pakai pisau lalu tusuk dengan garpu..." tambahnya. Aku makin bingung, melongo. Mungkinkah menyantap koshary dengan pisau dan garpu adalah salah satu khazanah kebudayaan bangsa Mesir yang tidak kuketahui?
Sesaaat aku tergelitik. Aku pun tergelak setelah sadar bahwa Ahmad tadi memperlihatkan selera humor ala Mesir. Dia pun tersenyum lebar. Dasar! Aku dikerjai.
Tak apalah, yang penting lapar ini harus disembuhkan sesegera mungkin. Koshary langsung ludes sekejap. Lebih nikmat lagi jika menyantap ruzz bi al halib (Bubur susu) yang manis sehabis makan. Alangkah segar....
Aku meminta Ahmad menghidangkan ruzz bi al halib sebagai dessert. Dengan harga murah, tapi seperti gaya orang kaya, pakai menu penutup segala.
Ck... ck... ck... Ahmad berkelakar lagi. Bukan sendok yang diberikan kepadaku, tapi sedotan! Sungguh mustahil menyedot ruzz bi al halib dengan sedotan. Aku tertawa saja sambil geleng-geleng kepala.
Monday, February 23, 2009
Ledakan Bom di Kairo Tewaskan Wisatawan Eropa
One person has been killed and about 19 people, mostly foreigners, injured in a bomb blast outside Egypt's historic Hussein mosque in Cairo.
Police said the person killed in the explosion on Sunday in the popular tourist area was a French woman.
Passersby were injured after being hit by stone and marble fragments after the bomb went off outside the mosque, a police official at the scene said.
French and German nationals were among the wounded.
"It was an explosive, perhaps a hand grenade," one police official said.
The Egyptian MENA news agency, quoting eyewitnesses, said the explosive devices were thrown from the roof of a nearby hotel.
Blood stains could be seen in the front courtyard of the mosque, next to the famed Khan el-Khalili bazaar.
Police detonated a second device without causing any injuries.
Blast investigated
Riot police cordoned off the area and sniffer dogs could be seen as worshippers were being evacuated from the mosque.
"I was praying and there was a big boom and people started panicking and rushing out of the mosque, then police came and sealed the main door, evacuating us out of the back," said Mohammed Abdel Azim, who was inside
the mosque at the time.
It was not clear who was behind the attack or if tourists had been deliberately targeted.
"Investigations are at a preliminary stage at the moment," Amr el-Kahky, Al Jazeera's correspondent in Cairo, said.
"It is very difficult to speculate whether foreigners were the target of this attack.
"All the Islamic groups that were operating and were violent in the nineties [in Egypt] have issued an initiative in which they declared a unilateral ceasefire against the Egyptian government."
The historic district was the scene of a previous bomb attack in 2005 in which two tourists were killed and 18 wounded.
Source: Al Jazeera, 22 Februari 2009 other link: Al Masry Al Youm
Wednesday, January 28, 2009
41st Cairo International Book Fair
Pameran buku akbar "Cairo International Book Fair" ke 41 kembali dihelat 21 Januari - 5 Februari 2009 di Nasr City, Cairo, Mesir.
Tercatat, 765 penerbit dari 28 negara menjadi partisipan, termasuk Kerajaan Inggris yang didaulat menjadi tamu kehormatan.
Kepada harian Al Masry Al Youm, Menteri Kebudayaan Mesir, Farouk Hosni mengatakan bahwa pameran ini adalah salah satu ajang penting, tidak hanya di Timur Tengah, tapi juga dunia.
Diselenggarakan sejak 1968, Cairo Book Fair mejadi salah satu pameran tertua dan terpenting di Timur Tengah. Disamping itu merupakan salah satu ajang pameran buku terbesar di dunia dengan rata-rata 1,5 juta pengunjung. Jauh lebih tinggi dari frekuensi pengunjung pameran buku serupa di Eropa seperti Swiss dan Prancis, di mana pengunjung hanya mencapai angka 200 ribu saja. Selain stand para penerbit, di pameran ini juga mengadakan berbagai kegiatan pendidikan dan kebudayaan seperti temu sastrawan Timur Tengah
Thursday, October 30, 2008
el-Sayeda Aisha (Laporan Armada Jelajah)

Lama menunggu bus jurusan el-Sayeda Aisha dari terminal Zahra, aku dan tujuh laskar Armada Jelajah IKPM Cab. Kairo (Jamil, Nurdin, Irfan, Arwani, Niam, Amien dan Zahro) mencegat tramco menuju terminal H-7. Terpaksa rute yang diambil meloncat-loncat karena bus 353 dan 65 yang biasanya langsung mengarah ke el-Sayeda Aisha itu tak kunjung datang. Begitu kami sampai, bus 24 jurusan Darrasah baru saja tiba. Masih kosong, belum banyak orang di dalam. Dari Darrasah sudah dekat, tinggal mencegat bus yang lewat benteng Shalahuddin (Saladin Citadel). Dulu aku bersama seorang teman pernah mencoba jalan kaki dari el-Sayeda Aisha ke Darrasah. Wuih! Kaki terasa mau copot. Untung saja pemandangna sepanjang jalan tidak membosankan. Benteng Shalahuddin yang perkasa, indahnya Azhar Park hingga reruntuhan dinding kota Kairo dinasti Ayyubiyah berderet sepanjang trotoar.
Mujib–laskar ke-9–berdiri melambaikan tangan di depan masjid el-Sayeda Aisha. Lelaki berambut cepak ini berdomisili di asrama Bu’uts, hingga tidak perlu berangkat bareng kami dari H-10 Nasr City. Kami langsung menunaikan Shalat Ashar di masjid ini, sekaligus ziarah ke makam Sayyidah Aisyah. Beliau adalah putri Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad bin Ali Zainul Abidin bin Imam Husain cucu Rasulullah Saw. Beliau terkenal ahli ibadah, di samping itu juga terkenal seorang yang sangat dermawan. Setiap hari ia bersedekah kepada fakir miskin dan anak-anak yatim, meski terkadang beliau sendiri dalam keadaan ekonomi sulit. Makam beliau dilingkungi pagar besi mungkin dengan maksud agar para peziarah tidak berbuat macam-macam yang tidak sesuai syari’at. Namun ada saja yang menyelipkan uang, bahkan foto ke dalam pagar tersebut.
Selanjutnya kami menyeberang jalan, menuju makam ulama besar Imam as-Suyûthi. Nama lengkap beliau ialah Abdul Rahman bin Abu Bakar bin Muhammad bin Sabiqudin bin al-Fakhr Usman al-Khudairi As-Suyûthi. Seorang cendikiawan dan ulama agung al-Azhar. Dilahirkan pada tahun 749H (6 tahun sebelum kematian ayahandanya). Beliau adalah seorang pembaharu pada abad ke-9 H. Kitabnya karyanya: Jami’ Saghîr Asbah wa Nazhâir ar-Rahmân, Al-Itqân, Tafsir Jalâlain, Tadrîb ar-Râwi dan lain-lain. Beliau wafat pada tahun 933 H.
Maghrib akan menjelang, untung saja Museum Mustafa Kamil belum tutup. Di dalam bangunan kecil ini terdapat makam Mustafa Kamil, tokoh nasionalisme Mesir pada masa penjajahan Inggris. Selain makam pengacara legendaris ini, disemayamkan 3 jasad tokoh lainnya; Mohammad Farid, Abdurrahman ar-Rafi’i dan Fathi Ridhwan. Seorang petugas memandu kami menjelaskan sejarah benda-benda peninggalan yang terdapat di sini. Memperkenalkan sebuah cagar budaya bernilai sejarah. Dan yang lebih penting, gratis! Tidak ada tiket masuk.
Karena sudah gelap, kami bergegas menapak Masjid Rifa’i dan Madrasah Sultan Hassan. Sayangnya bangunan terakhir sudah tutup. Padahal masjid sekaligus pusat pendidikan fikih empat mazhab pada masa Dinasti Mamalik berkuasa ini termasuk salah satu peninggalan umat Islam terbesar di dunia. Berdiri kokoh dengan dinding cokelat yang eksotis. Konon, Sultan Hassan membangun madrasah ini (1348-1351 M) menggunakan bebatuan yang diambil dari Piramida Giza. Wallahu a’lam.
Persis di sisi masjid Sultan Hassan berdiri Masjid Rifa’i (nisbah kepada Abi Syubbak Hafizh Rifa’i, seorang juru dakwah besar). Ide pembangunan masjid ini lahir dari ibu Khedive Ismail tahun 1287 H/ 1869 M dan rampung tahun 1912. Di dalam masjid Rifa’i dimakamkan beberapa raja, termasuk Fuad II (Raja Farouq, raja terakhir Mesir yang direvolusi tahun 1952). Juga ada beberapa makam Syah Iran, kaisar terakhir Parsi yang digulingkan pada 20 Februari 1979. Sekilas dua masjid ini terlihat kembar, karena memiliki model dan ketinggian hampir sama. Namun berbeda dari berbeda dari menara dan warna batu kedua bangunan.
Setelah shalat Maghrib di Masjid Rifa’i dan memuaskan diri dengan berfoto-ria, kami mengisi perut yang kosong dengan burger kofta di dekat Shalahuddin Park. Malam merayap, azan Isya tiba, kami beranjak pulang.




