Showing posts with label taksi. Show all posts
Showing posts with label taksi. Show all posts

Wednesday, March 9, 2011

Sebulan Cukup 4500


Matahari tergelincir ke arah barat. Bulir-bulir peluh tumbuh di ubu-ubun dan dahiku. Dua-tiga tetes merayap turun di pelipis. Begitu mudah cuaca berubah drastis di Banjarmasin. Siang seperti ini panas membara, lalu bisa-bisa menjelang sore turun hujan deras. Kata orang dalam angkot tadi, sudah hampir dua tahun iklim tidak stabil seperti ini. Keadaan ekstrim ini katanya juga melanda seluruh kepulauan Indonesia yang luas. Para petani banyak gagal panen, pasalnya tanaman padi yang sudah menguning terendam banjir. Akibat pemanasan global kah?

Sambil melayani pergumulan di benakku tadi, aku bergegas menuju terminal angkot di kawasan Pasar Sentra Antasari. Sebenarnya keputusanku ini  kurang bijaksana, karena angkot yang ngetem di terminal biasanya menunggu penumpang cukup penuh dulu sebelum jalan. Namun aku tidak punya cukup tenaga lagi untuk berjalan 300 meter menuju lampu merah. Di sini biasanya tinggal mencegat angkot yang sudah berisi penumpang dan siap tancap.

Rupanya di dalam angkot berkelir kuning-putih ini baru ada satu penumpang. Seorang kakek bersongkok beludru hitam di atas rambutnya yang sudah putih. Mumpung bangku di samping sopir sedang kosong, aku memilih duduk di depan saja. Biar nanti gampang kalau mau turun.

“Turun di mana Nak?” Kakek yang duduk di belakang itu membuka pembicaraan.

Wednesday, October 6, 2010

Ada Curhat di Balik Setir Taksi

Taksi Kairo (Photo by Hend Abdallah @ Flickr)

Taksi di setiap negara memiliki kekhasan dan cerita tersendiri. Beberapa malah sudah masuk ke layar lebar. Contohnya film “Taxi” bikinan Prancis yang fenomenal. Komedi-action yang diproduksi pertama kali tahun 1998 tersebut sampai dibuat 4 sekuel. Berkisah tentang Daniel, supir taksi kota Marseille yang jago ngebut tapi kocak. Pertemuannya dengan Emilien, polisi yang tidak bisa menyetir membawanya ke berbagai petualangan membasmi kejahatan.

Hampir dengan plot cerita yang serupa, film “Taxi” (2004) juga diproduksi di Amerika Serikat. Menceritakan tentang Isabelle Williams (diperankan penyanyi Queen Latifah) , supir taksi perempuan di New York. Belle dikisahkan terlibat pengejaran terhadap komplotan perampok bank wanita.

Cuma saja, akhir Agustus silam kabar sedih datang dari supir taksi New York. Karena mengaku beragama Islam, Ahmed Sherif yang sudah menyetir taksi sejak 15 tahun silam ditusuk penumpangnya. Imigran asal Bangladesh ini pun harus mendapat perawatan di rumah sakit.

Tidak salah pula jika beberapa waktu lalu pemerintah kita memasang iklan di banyak taksi di London, Inggris. Slogan “Remarkable Indonesia” tersebut bertujuan untuk mempromosikan produk dan pariwisata Indonesia.

"Sejumlah taksi di London kita buat iklan di sana mengenai remarkable Indonesia," kata Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar kepada situs berita detik.com.

Khaled Al Khamissi dan buku Taxi

Curhat Taksi Kairo

Taksi bagi warga kota Kairo adalah salah satu elemen transportasi penting. Buktinya, banyak taksi bersliweran di jalan-jalan. Ikut menambah polusi emisi bahan bakar di udara kota berjuta cerita ini. Kadang terselip di antara barisan mobil yang menyemut dalam parade macet pada jam pulang kerja.

Berbeda dengan taksi di Indonesia yang dimiliki perusahaan, taksi-taksi Kairo adalah milik pribadi. Jangan heran kalau melihat taksi sampai menolak penumpang. Jangan marah pula kalau si sopir menambah penumpang lain di tengah jalan meski di dalamnya sudah ada kita sendiri. “Lha wong ini mobil milik gue sendiri. Protes? Turun sana!” Kira-kira demikian yang ada di benak para sopir.

Ya ampun, taksi Kairo kebanyakan tidak pakai argometer. Jadi pandai-pandailah menawar kalau tidak mau kena tipu. Wajar saja karena kebanyakan taksi adalah mobil kuno era 70-80an seperti Fiat 128, Peugeot 204, Sahin, Dogan (dua-duanya dari Turki), Lada (Rusia). Untuk mengatasi keborokan mesir sekaligus menghemat bensin, taksi-taksi berwarna hitam (untuk daerah Giza ada strip putihnya) ini dimodifikasi berbahan bakar gas yang relatif lebih murah dan ramah lingkungan.

Alhamdulillah segala puji bagi Allah, sejak 2008 pemerintah menggalakkan proyek peremajaan taksi. Mobil yang sudah kelewat tua harus diganti dengan yang baru. Kebanyakan sedan ekonomis Chevrolet Lanos, Daewoo dan Speranza. Pemerintah juga memberikan pinjaman dengan kredit lunak bagi sopir yang ingin mengganti taksinya. Mobil-mobil bercat putih ini lebih nyaman; pakai argo, dilengkapi pendingin udara dan mesin yang tokcer.

Tidak semua taksi menyambut gembira rencana peremajaan ini. Maklum, ekonomi Mesir masih morat marit. Menurut survey, satu dari lima penduduk berpenghasilan dibawah satu dolar Amerika per hari.

“Saya adalah pegawai di jawatan pemerintah. Dengan gaji 600 Pound Mesir sebulan mana cukup untuk menghidupi anak-anak saya. Sudah 15 tahun jadi sopir taksi, nasib tetap tak berubah. Ini malah ada peraturan baru segala” ujar Abdalla, supir yang saya tumpangi dari Ma’adi ke Nasr City. “Lihat nih kacamata yang rusak ini, terpaksa saya sambung pakai kawat,” katanya sambil menerawang jalan lingkar timur Kairo yang senyap.

Sebagai mahasiswa, saya tidak setiap hari menggunakan jasa taksi. Bus umum jauh lebih murah. Namun dalam beberapa kesempatan saya sempat menemukan beberapa supir yang dengan latar belakang yang unik. Saya pernah ngobrol dengan George, karyawan administrasi di salah satu perusahaan yang kerja sambilan sebagai sopir. Tuntutan ekonomi membuat penganut Kristen Koptik ini harus mencari penumpang sepulang kerja di sore hari layaknya Abdalla.

Ada juga Ramy, sarjana ekonomi yang terjebak di balik kemudi. Ijazah yang didapatnya dari Cairo University tersebut ternyata belum ampuh untuk memberinya pekerjaan yang layak. Untuk menambah penghasilan terkadang mereka berangkat ke Arab Saudi pada bulan haji. Di tanah suci, mereka bekerja sebagai sopir bus atau taksi yang melayani jama’ah.

Buku “Taxi” karya penulis Khaled Al Khamissi bisa dijadikan referensi tentang taksi dan sopirnya. Meski bergenre fiksi, “Taxi” menyoroti keadaan politik, sosial dan ekonomi masyarakat Mesir. Melalui dialog-dialog dengan para sopir, Khaled membawa pembaca keliling kota Kairo dengan berbagai fenomena yang ada di sekelilingnya. “Taxi” sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris, Prancis dan Spanyol mungkin saking lakunya. Wallahu’alam.