Wednesday, March 9, 2011

Sebulan Cukup 4500


Matahari tergelincir ke arah barat. Bulir-bulir peluh tumbuh di ubu-ubun dan dahiku. Dua-tiga tetes merayap turun di pelipis. Begitu mudah cuaca berubah drastis di Banjarmasin. Siang seperti ini panas membara, lalu bisa-bisa menjelang sore turun hujan deras. Kata orang dalam angkot tadi, sudah hampir dua tahun iklim tidak stabil seperti ini. Keadaan ekstrim ini katanya juga melanda seluruh kepulauan Indonesia yang luas. Para petani banyak gagal panen, pasalnya tanaman padi yang sudah menguning terendam banjir. Akibat pemanasan global kah?

Sambil melayani pergumulan di benakku tadi, aku bergegas menuju terminal angkot di kawasan Pasar Sentra Antasari. Sebenarnya keputusanku ini  kurang bijaksana, karena angkot yang ngetem di terminal biasanya menunggu penumpang cukup penuh dulu sebelum jalan. Namun aku tidak punya cukup tenaga lagi untuk berjalan 300 meter menuju lampu merah. Di sini biasanya tinggal mencegat angkot yang sudah berisi penumpang dan siap tancap.

Rupanya di dalam angkot berkelir kuning-putih ini baru ada satu penumpang. Seorang kakek bersongkok beludru hitam di atas rambutnya yang sudah putih. Mumpung bangku di samping sopir sedang kosong, aku memilih duduk di depan saja. Biar nanti gampang kalau mau turun.

“Turun di mana Nak?” Kakek yang duduk di belakang itu membuka pembicaraan.

Saturday, February 5, 2011

Prahara Mesir: Kotak 18 Inchi

 

Ba’da Magrib, 4 Februari 2011
Sudah 11 hari, terhitung sejak 25 Januari lalu demonstrasi besar-besaran meledak di seluruh penjuru Mesir. Tahrir Square di  Kairo sebagai pusat konsentrasi massa dipenuhi lautan manusia. Tidak kalah dengan keadaan padang Arafah saat pelaksanaan ibadah haji. Penuh, sesak dan yang pasti bau keringat. Maklum, musim dingin seperti ini pasti orang-orang ogah mandi.
Pada hari kedua yang lalu saya berkesempatan menyaksikan secara langsung unjuk rasa di kawasan Tahrir. Bukan berarti saya mencari gara-gara, sebab bisa-bisa saya jadi korban salah tangkap. Masih untung kalau dideportasi ke Indonesia. Kebanyakan aktivis pergerakan di sini hilang tanpa kabar. Keberanian saya lebih dikarenakan rasa penasaran, sekaligus ingin jadi saksi sejarah. Mungkin ini yang disebut Bang Haji Rhoma Irama sebagai ‘masa muda, masa yang berapi-api’.

Friday, January 21, 2011

Menyeru Jakarta

Tulisan ini terlambat diposting hampir dua tiga minggu dari waktu penulisan. Sebenarnya saya sudah menulisnya malam final leg kedua.
Pasca kekalahan 0-3 final pertama saya sudah punya firasat; Indonesia gagal juara. Bagaimana tidak, Merah Putih harus menang dengan selisih empat gol. Tahu sendirilah, Malaysia diramal akan bermain bertahan, mengamankan keunggulan agregat. Terlebih lagi, para pemain Malaysia bermain baik, lebih disiplin dari duet Hamka dan Maman yang sering salah sendiri.

Terlepas dari insiden ‘laser’ di Kuala Lumpur, Indonesia memang bermain buruk. Jikalau tidak ada kejadian yang memaksa wasit menghentikan laga tersebut, saya yakin kita tetap kalah. Mental timnas mendadak jatuh setelah blunder fatal Maman yang berujung gol.

Hikayat Dua Beranak


Sepulang dari kampus aku dan kawan-kawan mampir ke pasar rakyat Attaba dulu. Hitung-hitung refreshing setelah ujian tadi. Maka singkat cerita, berbaurlah kami dengan lautan manusia yang hiruk-pikuk. Aku sendiri sempat terpisah dari teman yang lain di pusat buku bekas Azbakiya.

Lewat tengah hari, kami pulang dengan belanjaan masing-masing. Aku mendapatkan panduan wisata berbahasa Inggris dengan harga miring. Padahal di toko, buku keluaran terbaru itu bisa seharga ratusan pound. Ipeng memborong buku-buku filsafat kegemaran. Sedang Harun memuaskan dahaga fashionnya dengan kaos-kaos obralan. Meski paling tua di antara kami, lelaki ini tak pernah ketinggalan gaya.

Enaknya, nanti sampai ke flat langsung bergumul di kasur sambil selimutan. Hawa musim dingin yang sejuk pasti membuat tidur makin nikmat.

Rupanya bus tujuan Nasr City hampir penuh. Tinggal dua bangku kosong di belakang. Kami bertiga berebut bak anak kecil dibagi permen. Saling sikut, saling jegal. Apes, aku terlambat dan terpaksa berdiri. Mereka berdua yang beruntung siang ini.

Entah berdoa apa si Harun malam tadi, keberuntungannya dua kali lipat. Di sampingnya duduk gadis berjilbab hitam, modis seperti lazimnya remaja Mesir. Kalau soal kecantikan, jangan ditanya lagi. Memenuhi sembilan puluh persen standar kecantikan menurut orang Indonesia; kulit putih, hidung mancung, mata bundar, tubuh langsing semampai. Untuk kesekian kalinya aku memafhumi, negeri ini adalah surga bidadari dunia!

Tuesday, December 14, 2010

Sepupu Selalu Berseteru

Welad el ‘Am
Sutradara: Sherif Arafa
Pemain: Karim Abdel Aziz, Mona Zaki, Sherif Mounir
Produksi: El Massa Production, Egypt, 2009
Secara harfiah arti “Welad el ‘Am” adalah sepupu. Sebelumnya saya sempat mengira-ngira bahwa film ini berkisah tentang dua sepupu yang memperebutkan cinta seorang wanita. Sampai berbuntut kekerasan pula—dilihat dari posternya yang menampilkan dua lelaki dengan luka di wajah dan satu perempuan.

Ternyata saya salah.

Alkisah, ada sepasang suami istri berlibur di pesisir Port Said beserta dua anaknya. Dari sini saya sudah curiga, kenapa dalam adegan bahagia seperti ini, bukannya diisi oleh musik pengiring yang romantis atau ceria. Yang ada malah alunan instrumen musik yang “suram”. Bak film horror saja.