Matahari tergelincir ke arah barat. Bulir-bulir peluh tumbuh di ubu-ubun dan dahiku. Dua-tiga tetes merayap turun di pelipis. Begitu mudah cuaca berubah drastis di Banjarmasin. Siang seperti ini panas membara, lalu bisa-bisa menjelang sore turun hujan deras. Kata orang dalam angkot tadi, sudah hampir dua tahun iklim tidak stabil seperti ini. Keadaan ekstrim ini katanya juga melanda seluruh kepulauan Indonesia yang luas. Para petani banyak gagal panen, pasalnya tanaman padi yang sudah menguning terendam banjir. Akibat pemanasan global kah?
Sambil melayani pergumulan di benakku tadi, aku bergegas menuju terminal angkot di kawasan Pasar Sentra Antasari. Sebenarnya keputusanku ini kurang bijaksana, karena angkot yang ngetem di terminal biasanya menunggu penumpang cukup penuh dulu sebelum jalan. Namun aku tidak punya cukup tenaga lagi untuk berjalan 300 meter menuju lampu merah. Di sini biasanya tinggal mencegat angkot yang sudah berisi penumpang dan siap tancap.
Rupanya di dalam angkot berkelir kuning-putih ini baru ada satu penumpang. Seorang kakek bersongkok beludru hitam di atas rambutnya yang sudah putih. Mumpung bangku di samping sopir sedang kosong, aku memilih duduk di depan saja. Biar nanti gampang kalau mau turun.
“Turun di mana Nak?” Kakek yang duduk di belakang itu membuka pembicaraan.