Thursday, October 30, 2008

el-Sayeda Aisha (Laporan Armada Jelajah)


Lama menunggu bus jurusan el-Sayeda Aisha dari terminal Zahra, aku dan tujuh laskar Armada Jelajah IKPM Cab. Kairo (Jamil, Nurdin, Irfan, Arwani, Niam, Amien dan Zahro) mencegat tramco menuju terminal H-7. Terpaksa rute yang diambil meloncat-loncat karena bus 353 dan 65 yang biasanya langsung mengarah ke el-Sayeda Aisha itu tak kunjung datang. Begitu kami sampai, bus 24 jurusan Darrasah baru saja tiba. Masih kosong, belum banyak orang di dalam. Dari Darrasah sudah dekat, tinggal mencegat bus yang lewat benteng Shalahuddin (Saladin Citadel). Dulu aku bersama seorang teman pernah mencoba jalan kaki dari el-Sayeda Aisha ke Darrasah. Wuih! Kaki terasa mau copot. Untung saja pemandangna sepanjang jalan tidak membosankan. Benteng Shalahuddin yang perkasa, indahnya Azhar Park hingga reruntuhan dinding kota Kairo dinasti Ayyubiyah berderet sepanjang trotoar.

Mujib–laskar ke-9–berdiri melambaikan tangan di depan masjid el-Sayeda Aisha. Lelaki berambut cepak ini berdomisili di asrama Bu’uts, hingga tidak perlu berangkat bareng kami dari H-10 Nasr City. Kami langsung menunaikan Shalat Ashar di masjid ini, sekaligus ziarah ke makam Sayyidah Aisyah. Beliau adalah putri Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad bin Ali Zainul Abidin bin Imam Husain cucu Rasulullah Saw. Beliau terkenal ahli ibadah, di samping itu juga terkenal seorang yang sangat dermawan. Setiap hari ia bersedekah kepada fakir miskin dan anak-anak yatim, meski terkadang beliau sendiri dalam keadaan ekonomi sulit. Makam beliau dilingkungi pagar besi mungkin dengan maksud agar para peziarah tidak berbuat macam-macam yang tidak sesuai syari’at. Namun ada saja yang menyelipkan uang, bahkan foto ke dalam pagar tersebut.

Selanjutnya kami menyeberang jalan, menuju makam ulama besar Imam as-Suyûthi. Nama lengkap beliau ialah Abdul Rahman bin Abu Bakar bin Muhammad bin Sabiqudin bin al-Fakhr Usman al-Khudairi As-Suyûthi. Seorang cendikiawan dan ulama agung al-Azhar. Dilahirkan pada tahun 749H (6 tahun sebelum kematian ayahandanya). Beliau adalah seorang pembaharu pada abad ke-9 H. Kitabnya karyanya: Jami’ Saghîr Asbah wa Nazhâir ar-Rahmân, Al-Itqân, Tafsir Jalâlain, Tadrîb ar-Râwi dan lain-lain. Beliau wafat pada tahun 933 H.

Maghrib akan menjelang, untung saja Museum Mustafa Kamil belum tutup. Di dalam bangunan kecil ini terdapat makam Mustafa Kamil, tokoh nasionalisme Mesir pada masa penjajahan Inggris. Selain makam pengacara legendaris ini, disemayamkan 3 jasad tokoh lainnya; Mohammad Farid, Abdurrahman ar-Rafi’i dan Fathi Ridhwan. Seorang petugas memandu kami menjelaskan sejarah benda-benda peninggalan yang terdapat di sini. Memperkenalkan sebuah cagar budaya bernilai sejarah. Dan yang lebih penting, gratis! Tidak ada tiket masuk.

Karena sudah gelap, kami bergegas menapak Masjid Rifa’i dan Madrasah Sultan Hassan. Sayangnya bangunan terakhir sudah tutup. Padahal masjid sekaligus pusat pendidikan fikih empat mazhab pada masa Dinasti Mamalik berkuasa ini termasuk salah satu peninggalan umat Islam terbesar di dunia. Berdiri kokoh dengan dinding cokelat yang eksotis. Konon, Sultan Hassan membangun madrasah ini (1348-1351 M) menggunakan bebatuan yang diambil dari Piramida Giza. Wallahu a’lam.

Persis di sisi masjid Sultan Hassan berdiri Masjid Rifa’i (nisbah kepada Abi Syubbak Hafizh Rifa’i, seorang juru dakwah besar). Ide pembangunan masjid ini lahir dari ibu Khedive Ismail tahun 1287 H/ 1869 M dan rampung tahun 1912. Di dalam masjid Rifa’i dimakamkan beberapa raja, termasuk Fuad II (Raja Farouq, raja terakhir Mesir yang direvolusi tahun 1952). Juga ada beberapa makam Syah Iran, kaisar terakhir Parsi yang digulingkan pada 20 Februari 1979. Sekilas dua masjid ini terlihat kembar, karena memiliki model dan ketinggian hampir sama. Namun berbeda dari berbeda dari menara dan warna batu kedua bangunan.

Setelah shalat Maghrib di Masjid Rifa’i dan memuaskan diri dengan berfoto-ria, kami mengisi perut yang kosong dengan burger kofta di dekat Shalahuddin Park. Malam merayap, azan Isya tiba, kami beranjak pulang.


Saturday, July 5, 2008

Sabarnya Tetangga Kami


Jum'at, 04 Juli 2008. Ba'da Ashar
Telepon dari Hasan sungguh membuat hatiku berdebar. Flat kami kebanjiran. Hasan memang tidak tinggal seflat lagi dengan kami karena sudah pindah ke kawasan Mutsallats. Tapi kakak kelasku ini masih memiliki hubungan yang baik dengan Mama Kautsar, pemilik flat yang kami sewa di Saqr Quraisy.

"Rumah di Saqr banjir," katanya di seberang sana.

"Tadi bawwab (penjaga apartemen) ngubungin mama. Trus mama nelpon ana. Di rumah gak ada orang," lanjutnya lagi.

Kejadian yang pernah menimpa rumahku di Tajammu' Awwal musim dingin kemarin terulang kembali di Saqr. Penyebabnya sama; kran yang terbuka ketika air mati, lalu ketika air sudah mengucur, tak ada yang menutup hingga tenggelamlah seisi flat.

Berarti ada yang lupa menutup kran ketika flat kosong. Sejak kemarin aku memang menginap di IKPM karena ada tugas panitia tur ke Sinai yang aku bereskan bersama teman-teman. Aku harus segera kembali ke flat.

Flat tercinta di Saqr....
Aku menemukan karpet di ruang tamu tergantung di jemuran. Rupanya Yunan dan Dayat sudah beres-beres kemarin. Thanks fren.... Mereka tidak mau merepotkan aku yang sibuk mempersiapkan tur. Yang membuat aku makin terenyuh adalah sikap penghuni flat di bawah kediaman kami yang tidak marah atas banjir yang melanda tempat tinggal kami. Padahal air dari flat kami merembes ke dalam flat mereka. Apalagi ketika bocoran dari kamar mandi kami sering menembus lantai dan sudut-sudut dinding. Suami istri itu tak pernah mengumbar emosi. Mereka cuma memperingati saja, "Kalau air mati, krannya ditutup ya...."

Untuk kesekian kalinya kami kembali mengecewakan tetangga penyabar tersebut... "maafkan kami ya...."

Thursday, May 8, 2008

Berkah Insomnia?

Kamis, 8 Mei 2008. Sekitar jam 11 pagi.
"Berapa juz yang kamu hafal?" Tanya dosen kepada mahasiswa asal Turki di sebelahku.
"14"
Gila! Orang ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Hampir setengah isi Al Qur'an sudah terekam di memori kepalanya. Dua juz yang dijadikan syarat ujian tingkat pertama barang tentu sudah ada di luar kepala. Apalagi hafalanku belum lancar. Ketika melakukan tes bersama Syamsul, teman sedaerahku yang hafal 30 juz, benar-benar terasa hafalanku masih simpang-siur tidak jelas sambungan dan pasangan tiap ayat. Memikirkan ujian, sampai-sampai aku tidak bisa tidur tadi malam. Insomnia dadakan. Baru jam setengah dua mataku bisa terkatup. Padahal dari jam 12 malam, aku sudah berbaring di atas kasur. Tapi masih saja bayang-bayang ujian hari ini menggelayut di pelupuk mata. Komplit sudah horor ujian lisan ketika sekarang aku sudah berhadapan dengan orang ini. Debar jantungku makin berkecamuk.
"Bukan... tapi 14 halaman saja," ujarnya tersipu malu.
Untunglah, aku masih bisa bersaing.
Benar saja, semua soal Al Qur'an yang diberikan padanya tidak bisa dijawab dengan baik. Akhirnya pertanyaan yang dilemparkan kepadaku tersebut, bisa kujawab dengan baik. Bukan berarti aku tertawa di atas "penderitaan" rekan Turki ini. Tapi lebih kepada wujud syukur atas kemudahan yang aku dapatkan dalam ujian lisan. Semoga saja dia dilancarkan dalam ujian selanjutnya (ujian tulis akan dimulai tanggal 18 nanti). Bukan hanya dia, tapi semua mahasiswa. Termasuk aku.

Thursday, March 20, 2008

Bus Ada-ada Saja

Suara berderak terdengar di bawah kakiku. Bus perlahan menepi di Abbas el Aqqad, tapi tak ada yang peduli. Seluruh penumpang, termasuk aku mengira bus sedang menurunkan penumpang atau ada yang naik.

"Turun semuanya..." terdengar suara kondektur.

Aku berpandangan dengan orang Rusia di sebelah, saling mengangkat bahu.

Begitu turun, terkuaklah masalah yang sebenarnya. Ban kiri depan bocor, beberapa puluh senti di bawah tempat aku dan sobat Rusia berdiri.

"Kamu sih, tadi pagi kebanyakan makan, makanya bannya gak kuat nahan badan kamu yang berat," candaku sambil menepuk pundaknya.

Orang Rusia ini tersenyum sambil memperlihatkan barisan gigi depannya yang sudah kehilangan sebuah gigi seri. Aku juga tertawa kecil.

Akhirnya bersama Arwani meninggalkan sobat Rusia yang memilih menunggu di depan pom bensin Caltex, menuju Masjid Nuri Al Khithab. Di depan kampus Kulliyat el Banat tersebut banyak bus menuju Darrasah. Ada 3g, 24g dan 80. Apalagi banyak mahasiswi Azhar yang lalu lalang di sana, sekalian cuci mata. Tak lama berselang, bus 3g datang. Kalau naik angkutan ini kami akan melewati Universitas Ain Shams yang terkenal itu.

Jam 10.30 kami tiba di kampus. Kuliah Ulumul Hadits sudah dimulai, malah akan berakhir setengah jam lagi. Padahal kami berangkat jam 9 pagi. Gara-gara musibah yang tak disangka-sangka merubah semuanya.

Setelah shalat Zhuhur, aku bergegas pulang. Hari ini buku pinjaman dari Perpustakaan Mahasiswa Indonesia Kairo (PMIK) harus dikembalikan. Sebenarnya kemarin batas akhirnya. Pasti aku kena denda 3 pound.

Bus 65 yang tadi bocor menyambutku di depan toko selimut. Segera meloncat ke atas, berbaur dengan puluhan mahasiswa lainnya. Padahal ini bukan rute bus 65 yang sebenarnya. Mungkin sopirnya lagi malas, apalagi siang seperti ini banyak mahasiswa yang pulang ke H-10 dan Madinet el Thullab di H-6. Jalur gemuk lah....

Suhu di dalam bus cukup hangat. Maklum, sudah masuk musim semi. Aku sendiri sudah tidak pakai jaket, hanya memakai kaos dilapisi baju koko. Rupanya di atas bus mayoritas adalah mahasiswa Indonesia. Hanya beberapa orang Mesir asli. Sampai-sampai kondektur menyeletuk,
"Orang Indonesia datang ke sini untuk belajar bahasa Arab dan agama Islam. Sampai-sampai satu bus isinya orang Indonesia semua," selorohnya disambut senyum para penumpang yang geer dengan tingkah lelaki gendut ini.

"Khusy uddam!" katanya menyuruh para penumpang yang berdiri untuk maju ke depan mengisi ruang yang kosong.

Cuaca yang cukup gerah rupanya membikin otak cepat panas. Salah seorang mahasiswa Indonesia marah-marah kepada bang Kondektur.

"Jangan suruh-suruh maju ke depan dong, sudah sesak tuh," ucapnya dengan raut masam. Teman-teman Indonesia menyuruhnya sabar. Kondektur pun berusaha tersenyum memenangkan. Akhirnya kemarahannya pun mereda.
...
Irfan menyuruhku datang ke IKPM, buletin Cakrawala sudah siap dicetak. Sesampainya di sana buletin tinggal editing lay-out saja. Kabar ini benar-benar bikin hati sejuk. Tidak sia-sia aku begadang tiga hari di flat sobat kuliner ini dalam rangka mengedit tulisan yang masuk.

Azan Ashar menyadarkanku dari luapan kegembiraan. Aku harus cepat pulang, hari ini giliran aku masak di rumah. Mama pemilik rumah pun rencananya mau datang, menagih uang bulanan sewa flat.

Memburu Uang Saku

Antrian panjang mahasiswa Indonesia sudah terlihat ketika aku dan Arwani tiba di depan kantor Al Jum’iyyah As Syar’iyyah (JS) di Terminal H-10. Tujuan kami berdua sama seperti mereka yang lebih dahulu menunggu, mengambil jatah bulanan atau istilah lainnya musa’adah, yang dapat menambah keras detak nadi kehidupan kami di negeri ini.

JS adalah salah satu lembaga yang memberikan beasiswa dan uang saku bulanan kepada mahasiswa asing seperti kami. Selain Indonesia, mahasiswa dari Negara lain seperti Malaysia, Thailand, Bangladesh, dan kawasan Asia lainnya menjadi pelanggan bantuan tersebut.

Namun perjuangan untuk mendapatkannya tidak semudah yang dibayangkan. Ketika sampai giliranku di depan meja penanggungjawab JS, bungkusan beras habis. Terpaksa semua yang berdiri di antrian gotong-royong menurunkan ratusan bungkus beras dan minyak goreng dari truk. Lelah! Sampai-sampai urat di kedua tanganku menonjol bersama otot yang tegang.

Lumayan untuk memperingan beban hidup. Selain uang saku 50 pound ada juga paket “sembako” yang berisi beberapa kilo beras, makaroni, teh, gula, dan minyak goreng. Kebetulan seluruh penghuni flat kami– 4 orang—sudah terdaftar sebagai penerima bantuan bulanan. Kalau dikalkulasikan selama kurang lebih 3 minggu kami bisa menghemat pengeluaran beras yang biasanya menyedot anggaran paling besar. Jadi iuran bulanan rumah bisa dialokasikan untuk menambah “gizi” lauk sehari-hari. Sehabis Ashar Yunan yang kena giliran belanja minggu ini mengisi kulkas dengan sayuran dan beberapa kilogram ikan tongkol.

Di samping itu setiap orang dapat selimut gratis. Sayangnya musim dingin mulai berakhir. Hawa dingin yang menusuk tulang berangsur menjadi angin musim semi yang sejuk. Akhirnya 4 selimut itu menumpuk di ruang tamu tak tahu harus diapakan.

Musa’adah di Cairo memang bertebaran di mana-mana apalagi tanggal-tanggal muda seperti ini. Biasanya para dermawan menyalurkan bantuannya ke masjid-masjid. Bak dilengkapi radar paling canggih, sebagian mahasiswa Indonesia—termasuk aku— akan menyisir setiap sudut kota melacak keberadaan musa’adah seantero Cairo. Open Hunt Season….