Friday, January 2, 2009
Makan Enak di Jalur Gaza

Tahun Baru 2009. 1 Januari. Jam 10 Pagi.
Pecel tidak hanya ada di Pulau Jawa, sekarang sudah merambah Kairo. Aku tidak bercerita tentang rumah makan
Maka jam sepuluh pagi, kami sudah mengelilingi nampan di ruang tamu. Makan enak begini memang paling pas dengan cara makan bersama alias tajammu’ dalam satu wadah. Brigade sambal pecel dengan kacang panjang dan daun sawi, sambal cabe, krupuk udang dan ikan gurami goreng sudah siap untuk ‘dihajar’.
Setelah ritual makan pagi selesai. Kami duduk-duduk sambil menyimak berita Liputan 6 SCTV dari Internet. Lumayan hitung-hitung ‘menurunkan isi perut’. Berita perayaan malam tahun baru di tanah air rupanya menjadi topik utama. Di Pantai Karnaval Ancol, band-band papan atas menghibur masyarakat ibukota selain pesta kembang api. Di lain tempat, ribuan jama’ah larut dalam zikir dan muhasabah bersama Ustadz Arifin Ilham. Dua metode berbeda, silakan pilih yang mana.
Ketika sampai ke berita internasional, serangan
Seandainya bisa, mungkin kami akan menitipkan makanan enak buat rakyat
Friday, December 26, 2008
Armada Masa Depan
Sabtu, 20 Desember 2008.
Ini adalah tempat paling angker bagi para mahasiswa
Hari ini aku harus terjun dalam
Sejak tiba jam 9 pagi, aku harus menunggu jam 11 untuk mengumpulkan berkas. Minggu depan 'pergumulan' masih berlanjut, tapi hanya sekedar menunggu panggilan nama untuk pengesahan perpanjangan. Rentang waktu dua jam ini tidak terasa panjang dengan obrolan bersama. Rifani, teman sedaerah asal
"Selama Ramadhan aku sering diminta ngisi Kultum (kuliah tujuh menit) di Masjid. Orang melihat alumni Timur Tengah itu bisa segalanya, padahal kerjaan kita di Mesir ya kayak gini lah…."
"Pas ketemu teman-teman lama, aku beberapa kali diajak ke diskotik. Waduh! Hancur bener orang-orang itu! Mereka tidak mengerti kalau dunia kita sudah berbeda. Terpaksa tolak aja secara halus." Mau tak mau aku tergelak juga mendengar kisahnya.
Sebuah kesimpulan yang terus membayang selama perjalanan di atas bus dari Bu'uts; tanggung jawab besar sudah menanti di tanah air. Kewajiban membina masyarakat, generasi muda dan lingkungan. Gini-gini aku harapan umat, bangsa dan negara lho!
"Kitalah armada masa depan
Yang akan mengukir dunia
Raih semua bintang
Dan tebarkan sinarnya terangi semesta
Takkan dipungkiri
Nanti kita akan menjadi tua
Jangan dibiarkan bergulirnya waktu
Hanyalah memakan usia
Tak jelas tujuannya"
Wednesday, December 24, 2008
Mahasiswa yang Sedang Kalap
Serap bijak dari jilidan lembar-lembar
Mendaki baris abjad berjajar
Akulah mahasiswa terpelajar
Debu terus berkibar
Tunggangi cekam musim dingin
Merasuk perlahan dalam dinding
Pun dalam lantai berubin
Semua dingin, Aku menggigil
Debu berkecamuk di luar
Aih! Nalar batok kepalaku membabi-buta
Aku kalap luar biasa:
Aku santap rumus-rumus logika
Aku cerna teori dan fatwa
Aku kalap
Bukan malam ini saja
Malam berhujan debu di
Thursday, October 30, 2008
el-Sayeda Aisha (Laporan Armada Jelajah)

Lama menunggu bus jurusan el-Sayeda Aisha dari terminal Zahra, aku dan tujuh laskar Armada Jelajah IKPM Cab. Kairo (Jamil, Nurdin, Irfan, Arwani, Niam, Amien dan Zahro) mencegat tramco menuju terminal H-7. Terpaksa rute yang diambil meloncat-loncat karena bus 353 dan 65 yang biasanya langsung mengarah ke el-Sayeda Aisha itu tak kunjung datang. Begitu kami sampai, bus 24 jurusan Darrasah baru saja tiba. Masih kosong, belum banyak orang di dalam. Dari Darrasah sudah dekat, tinggal mencegat bus yang lewat benteng Shalahuddin (Saladin Citadel). Dulu aku bersama seorang teman pernah mencoba jalan kaki dari el-Sayeda Aisha ke Darrasah. Wuih! Kaki terasa mau copot. Untung saja pemandangna sepanjang jalan tidak membosankan. Benteng Shalahuddin yang perkasa, indahnya Azhar Park hingga reruntuhan dinding kota Kairo dinasti Ayyubiyah berderet sepanjang trotoar.
Mujib–laskar ke-9–berdiri melambaikan tangan di depan masjid el-Sayeda Aisha. Lelaki berambut cepak ini berdomisili di asrama Bu’uts, hingga tidak perlu berangkat bareng kami dari H-10 Nasr City. Kami langsung menunaikan Shalat Ashar di masjid ini, sekaligus ziarah ke makam Sayyidah Aisyah. Beliau adalah putri Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad bin Ali Zainul Abidin bin Imam Husain cucu Rasulullah Saw. Beliau terkenal ahli ibadah, di samping itu juga terkenal seorang yang sangat dermawan. Setiap hari ia bersedekah kepada fakir miskin dan anak-anak yatim, meski terkadang beliau sendiri dalam keadaan ekonomi sulit. Makam beliau dilingkungi pagar besi mungkin dengan maksud agar para peziarah tidak berbuat macam-macam yang tidak sesuai syari’at. Namun ada saja yang menyelipkan uang, bahkan foto ke dalam pagar tersebut.
Selanjutnya kami menyeberang jalan, menuju makam ulama besar Imam as-Suyûthi. Nama lengkap beliau ialah Abdul Rahman bin Abu Bakar bin Muhammad bin Sabiqudin bin al-Fakhr Usman al-Khudairi As-Suyûthi. Seorang cendikiawan dan ulama agung al-Azhar. Dilahirkan pada tahun 749H (6 tahun sebelum kematian ayahandanya). Beliau adalah seorang pembaharu pada abad ke-9 H. Kitabnya karyanya: Jami’ Saghîr Asbah wa Nazhâir ar-Rahmân, Al-Itqân, Tafsir Jalâlain, Tadrîb ar-Râwi dan lain-lain. Beliau wafat pada tahun 933 H.
Maghrib akan menjelang, untung saja Museum Mustafa Kamil belum tutup. Di dalam bangunan kecil ini terdapat makam Mustafa Kamil, tokoh nasionalisme Mesir pada masa penjajahan Inggris. Selain makam pengacara legendaris ini, disemayamkan 3 jasad tokoh lainnya; Mohammad Farid, Abdurrahman ar-Rafi’i dan Fathi Ridhwan. Seorang petugas memandu kami menjelaskan sejarah benda-benda peninggalan yang terdapat di sini. Memperkenalkan sebuah cagar budaya bernilai sejarah. Dan yang lebih penting, gratis! Tidak ada tiket masuk.
Karena sudah gelap, kami bergegas menapak Masjid Rifa’i dan Madrasah Sultan Hassan. Sayangnya bangunan terakhir sudah tutup. Padahal masjid sekaligus pusat pendidikan fikih empat mazhab pada masa Dinasti Mamalik berkuasa ini termasuk salah satu peninggalan umat Islam terbesar di dunia. Berdiri kokoh dengan dinding cokelat yang eksotis. Konon, Sultan Hassan membangun madrasah ini (1348-1351 M) menggunakan bebatuan yang diambil dari Piramida Giza. Wallahu a’lam.
Persis di sisi masjid Sultan Hassan berdiri Masjid Rifa’i (nisbah kepada Abi Syubbak Hafizh Rifa’i, seorang juru dakwah besar). Ide pembangunan masjid ini lahir dari ibu Khedive Ismail tahun 1287 H/ 1869 M dan rampung tahun 1912. Di dalam masjid Rifa’i dimakamkan beberapa raja, termasuk Fuad II (Raja Farouq, raja terakhir Mesir yang direvolusi tahun 1952). Juga ada beberapa makam Syah Iran, kaisar terakhir Parsi yang digulingkan pada 20 Februari 1979. Sekilas dua masjid ini terlihat kembar, karena memiliki model dan ketinggian hampir sama. Namun berbeda dari berbeda dari menara dan warna batu kedua bangunan.
Setelah shalat Maghrib di Masjid Rifa’i dan memuaskan diri dengan berfoto-ria, kami mengisi perut yang kosong dengan burger kofta di dekat Shalahuddin Park. Malam merayap, azan Isya tiba, kami beranjak pulang.