Friday, January 2, 2009

Makan Enak di Jalur Gaza


Tahun Baru 2009. 1 Januari. Jam 10 Pagi.

Pecel tidak hanya ada di Pulau Jawa, sekarang sudah merambah Kairo. Aku tidak bercerita tentang rumah makan Indonesia yang menjamur di Nasr City, Distrik dimana manusia-manusia dari Asia Tenggara bermukim. Makanan berkuah sambal kacang dengan sayur-mayur asal Jawa Timur itu ada di flat kami. Semua itu bisa terjadi jika Sazali yang kena giliran piket masak. Ada-ada saja idenya dalam mengolah makanan. Terkadang gulai, bakwan, pisang goreng hingga pecel tiba-tiba sudah tersedia di meja makan. Tak heran memang, mengingat pria berjuluk ‘Jenggot’ (karena jenggotnya itu lho, bagai jenggot naga) itu pernah menjadi manajer salah satu Catering mahasiswa Indonesia.

Maka jam sepuluh pagi, kami sudah mengelilingi nampan di ruang tamu. Makan enak begini memang paling pas dengan cara makan bersama alias tajammu’ dalam satu wadah. Brigade sambal pecel dengan kacang panjang dan daun sawi, sambal cabe, krupuk udang dan ikan gurami goreng sudah siap untuk ‘dihajar’. Indonesia banget! Meski negeri ini terletak di Benua Afrika, namun produksi perkebunan yang berada di kawasan delta Nil berlimpah ruah, sayur dan buah-buahan. Kalau krupuk udang di atas, kami peroleh dari Bang Wasik yang baru pulang Haji. Di Saudi memang barang-barang dari Indonesia mudah didapat. Kalau ikan gurami punya kisah lain. Malam tadi, Bang Hamdun menginap di rumah kami. Mahasiswa S2 Al Azhar asal Riau itu membawa ikan-ikan tadi. Itu dia kisahnya.

Setelah ritual makan pagi selesai. Kami duduk-duduk sambil menyimak berita Liputan 6 SCTV dari Internet. Lumayan hitung-hitung ‘menurunkan isi perut’. Berita perayaan malam tahun baru di tanah air rupanya menjadi topik utama. Di Pantai Karnaval Ancol, band-band papan atas menghibur masyarakat ibukota selain pesta kembang api. Di lain tempat, ribuan jama’ah larut dalam zikir dan muhasabah bersama Ustadz Arifin Ilham. Dua metode berbeda, silakan pilih yang mana.

Ketika sampai ke berita internasional, serangan Israel ke jalur Gaza menjadi topik hangat. Sungguh biadab serdadu Zionis tersebut. Ratusan rakyat tak berdosa jadi korban, tak peduli wanita atau anak-anak sekalipun. Dengan dalih menggempur milisi HAMAS yang dituding menghambat perdamaian di Timur Tengah, bom dan misil udara Israel menghujani rakyat Palestina. Sekarang sukarelawan kemanusiaan dari berbagai negara berduyun menuju daerah konflik. Ada yang membawa obat-obatan, makanan hingga dana.

Seandainya bisa, mungkin kami akan menitipkan makanan enak buat rakyat Gaza. Masih ada sepiring pecel di atas meja makan, beberapa ekor gurami masih ada di dapur, buat makan malam nanti. Biar mereka bisa makan enak, meski di tengah dentuman yang membabi buta.

Teriring doa buat saudara-saudara seiman di Gaza sana.

Friday, December 26, 2008

Armada Masa Depan

Sabtu, 20 Desember 2008.

Ini adalah tempat paling angker bagi para mahasiswa Indonesia. Cukuplah menziarahinya setahun sekali, jangan sampai lebih.Mitos kantor Imigrasi di Asrama Bu'uts amat sakral dan menyeramkan. Kita harus berjibaku, antri untuk bisa 'menyambung hidup' di Mesir melalui perpanjangan izin tinggal (residence permit/ iqamah muaqqatah). Tidak tanggung-tanggung, kalau lagi kurang beruntung, bisa dari pagi sampai zhuhur. Tapi jika dewi fortuna berpihak, paling 'cuma' berdiri 1-2 jam. Ketika petugas imigrasi sudah memberikan stempel perpanjangan iqamah setahun ke depan, rasanya seperti memenangi peperangan sengit. Meski begitu, Imigrasi Bu'uts bisa dibilang paling toleran terhadap mahasiswa asing. Dengan selembar surat keteragan dari fakultas, semua lancar. Tinggal beli formulir seharga 8 LE dan dan antri. Terlambat beberapa minggu pun tidak dikenai denda. Berbeda dengan Kantor Imigrasi Pusat di Tahrir, urusan bisa runyam jika terlambat memperpanjang iqamah yang mati. Untuk orang Indonesia dan Malaysia hanya diberi jatah hari Sabtu dan Senin, sisanya untuk bangsa-bangsa lain.

Hari ini aku harus terjun dalam medan perjuangan iqamah. 3 Januari 2009 nanti iqamahku habis. Sebenarnya bisa saja aku mengurus setelah ujian. Toh terlambat satu-dua minggu no problem, tapi lebih baik turuti peraturan kan?

Sejak tiba jam 9 pagi, aku harus menunggu jam 11 untuk mengumpulkan berkas. Minggu depan 'pergumulan' masih berlanjut, tapi hanya sekedar menunggu panggilan nama untuk pengesahan perpanjangan. Rentang waktu dua jam ini tidak terasa panjang dengan obrolan bersama. Rifani, teman sedaerah asal Banjarmasin yang baru pulang dari Indonesia. Dia banyak cerita tentang pengalamannya di Banjar, sesekali kami tertawa. Saking asyiknya, buku Filsafat yang sedari pagi tertenteng tidak kunjung selesai dibaca. Padahal aku sudah berniat untuk memanfaatkan waktu antri untuk melahap diktat kuliah. Ujian sebentar lagi sih!

"Selama Ramadhan aku sering diminta ngisi Kultum (kuliah tujuh menit) di Masjid. Orang melihat alumni Timur Tengah itu bisa segalanya, padahal kerjaan kita di Mesir ya kayak gini lah…."

"Pas ketemu teman-teman lama, aku beberapa kali diajak ke diskotik. Waduh! Hancur bener orang-orang itu! Mereka tidak mengerti kalau dunia kita sudah berbeda. Terpaksa tolak aja secara halus." Mau tak mau aku tergelak juga mendengar kisahnya.

Sebuah kesimpulan yang terus membayang selama perjalanan di atas bus dari Bu'uts; tanggung jawab besar sudah menanti di tanah air. Kewajiban membina masyarakat, generasi muda dan lingkungan. Gini-gini aku harapan umat, bangsa dan negara lho!


"Kitalah armada masa depan
Yang akan mengukir dunia
Raih semua bintang
Dan tebarkan sinarnya terangi semesta
Takkan dipungkiri
Nanti kita akan menjadi tua
Jangan dibiarkan bergulirnya waktu
Hanyalah memakan usia
Tak jelas tujuannya"

ARMADA MASA DEPAN - Ada Band

Wednesday, December 24, 2008

Mahasiswa yang Sedang Kalap

Hujan debu menyuruhku belajar

Serap bijak dari jilidan lembar-lembar

Mendaki baris abjad berjajar

Akulah mahasiswa terpelajar


Debu terus berkibar

Tunggangi cekam musim dingin

Merasuk perlahan dalam dinding

Pun dalam lantai berubin

Semua dingin, Aku menggigil


Debu berkecamuk di luar sana

Aih! Nalar batok kepalaku membabi-buta

Aku kalap luar biasa:

Aku santap rumus-rumus logika

Aku cerna teori dan fatwa

Aku kalap

Bukan malam ini saja

Malam berhujan debu di Cairo, 23 Desember 2008

Thursday, October 30, 2008

el-Sayeda Aisha (Laporan Armada Jelajah)


Lama menunggu bus jurusan el-Sayeda Aisha dari terminal Zahra, aku dan tujuh laskar Armada Jelajah IKPM Cab. Kairo (Jamil, Nurdin, Irfan, Arwani, Niam, Amien dan Zahro) mencegat tramco menuju terminal H-7. Terpaksa rute yang diambil meloncat-loncat karena bus 353 dan 65 yang biasanya langsung mengarah ke el-Sayeda Aisha itu tak kunjung datang. Begitu kami sampai, bus 24 jurusan Darrasah baru saja tiba. Masih kosong, belum banyak orang di dalam. Dari Darrasah sudah dekat, tinggal mencegat bus yang lewat benteng Shalahuddin (Saladin Citadel). Dulu aku bersama seorang teman pernah mencoba jalan kaki dari el-Sayeda Aisha ke Darrasah. Wuih! Kaki terasa mau copot. Untung saja pemandangna sepanjang jalan tidak membosankan. Benteng Shalahuddin yang perkasa, indahnya Azhar Park hingga reruntuhan dinding kota Kairo dinasti Ayyubiyah berderet sepanjang trotoar.

Mujib–laskar ke-9–berdiri melambaikan tangan di depan masjid el-Sayeda Aisha. Lelaki berambut cepak ini berdomisili di asrama Bu’uts, hingga tidak perlu berangkat bareng kami dari H-10 Nasr City. Kami langsung menunaikan Shalat Ashar di masjid ini, sekaligus ziarah ke makam Sayyidah Aisyah. Beliau adalah putri Ja’far Ash-Shadiq bin Muhammad bin Ali Zainul Abidin bin Imam Husain cucu Rasulullah Saw. Beliau terkenal ahli ibadah, di samping itu juga terkenal seorang yang sangat dermawan. Setiap hari ia bersedekah kepada fakir miskin dan anak-anak yatim, meski terkadang beliau sendiri dalam keadaan ekonomi sulit. Makam beliau dilingkungi pagar besi mungkin dengan maksud agar para peziarah tidak berbuat macam-macam yang tidak sesuai syari’at. Namun ada saja yang menyelipkan uang, bahkan foto ke dalam pagar tersebut.

Selanjutnya kami menyeberang jalan, menuju makam ulama besar Imam as-Suyûthi. Nama lengkap beliau ialah Abdul Rahman bin Abu Bakar bin Muhammad bin Sabiqudin bin al-Fakhr Usman al-Khudairi As-Suyûthi. Seorang cendikiawan dan ulama agung al-Azhar. Dilahirkan pada tahun 749H (6 tahun sebelum kematian ayahandanya). Beliau adalah seorang pembaharu pada abad ke-9 H. Kitabnya karyanya: Jami’ Saghîr Asbah wa Nazhâir ar-Rahmân, Al-Itqân, Tafsir Jalâlain, Tadrîb ar-Râwi dan lain-lain. Beliau wafat pada tahun 933 H.

Maghrib akan menjelang, untung saja Museum Mustafa Kamil belum tutup. Di dalam bangunan kecil ini terdapat makam Mustafa Kamil, tokoh nasionalisme Mesir pada masa penjajahan Inggris. Selain makam pengacara legendaris ini, disemayamkan 3 jasad tokoh lainnya; Mohammad Farid, Abdurrahman ar-Rafi’i dan Fathi Ridhwan. Seorang petugas memandu kami menjelaskan sejarah benda-benda peninggalan yang terdapat di sini. Memperkenalkan sebuah cagar budaya bernilai sejarah. Dan yang lebih penting, gratis! Tidak ada tiket masuk.

Karena sudah gelap, kami bergegas menapak Masjid Rifa’i dan Madrasah Sultan Hassan. Sayangnya bangunan terakhir sudah tutup. Padahal masjid sekaligus pusat pendidikan fikih empat mazhab pada masa Dinasti Mamalik berkuasa ini termasuk salah satu peninggalan umat Islam terbesar di dunia. Berdiri kokoh dengan dinding cokelat yang eksotis. Konon, Sultan Hassan membangun madrasah ini (1348-1351 M) menggunakan bebatuan yang diambil dari Piramida Giza. Wallahu a’lam.

Persis di sisi masjid Sultan Hassan berdiri Masjid Rifa’i (nisbah kepada Abi Syubbak Hafizh Rifa’i, seorang juru dakwah besar). Ide pembangunan masjid ini lahir dari ibu Khedive Ismail tahun 1287 H/ 1869 M dan rampung tahun 1912. Di dalam masjid Rifa’i dimakamkan beberapa raja, termasuk Fuad II (Raja Farouq, raja terakhir Mesir yang direvolusi tahun 1952). Juga ada beberapa makam Syah Iran, kaisar terakhir Parsi yang digulingkan pada 20 Februari 1979. Sekilas dua masjid ini terlihat kembar, karena memiliki model dan ketinggian hampir sama. Namun berbeda dari berbeda dari menara dan warna batu kedua bangunan.

Setelah shalat Maghrib di Masjid Rifa’i dan memuaskan diri dengan berfoto-ria, kami mengisi perut yang kosong dengan burger kofta di dekat Shalahuddin Park. Malam merayap, azan Isya tiba, kami beranjak pulang.


Saturday, July 5, 2008

Sabarnya Tetangga Kami


Jum'at, 04 Juli 2008. Ba'da Ashar
Telepon dari Hasan sungguh membuat hatiku berdebar. Flat kami kebanjiran. Hasan memang tidak tinggal seflat lagi dengan kami karena sudah pindah ke kawasan Mutsallats. Tapi kakak kelasku ini masih memiliki hubungan yang baik dengan Mama Kautsar, pemilik flat yang kami sewa di Saqr Quraisy.

"Rumah di Saqr banjir," katanya di seberang sana.

"Tadi bawwab (penjaga apartemen) ngubungin mama. Trus mama nelpon ana. Di rumah gak ada orang," lanjutnya lagi.

Kejadian yang pernah menimpa rumahku di Tajammu' Awwal musim dingin kemarin terulang kembali di Saqr. Penyebabnya sama; kran yang terbuka ketika air mati, lalu ketika air sudah mengucur, tak ada yang menutup hingga tenggelamlah seisi flat.

Berarti ada yang lupa menutup kran ketika flat kosong. Sejak kemarin aku memang menginap di IKPM karena ada tugas panitia tur ke Sinai yang aku bereskan bersama teman-teman. Aku harus segera kembali ke flat.

Flat tercinta di Saqr....
Aku menemukan karpet di ruang tamu tergantung di jemuran. Rupanya Yunan dan Dayat sudah beres-beres kemarin. Thanks fren.... Mereka tidak mau merepotkan aku yang sibuk mempersiapkan tur. Yang membuat aku makin terenyuh adalah sikap penghuni flat di bawah kediaman kami yang tidak marah atas banjir yang melanda tempat tinggal kami. Padahal air dari flat kami merembes ke dalam flat mereka. Apalagi ketika bocoran dari kamar mandi kami sering menembus lantai dan sudut-sudut dinding. Suami istri itu tak pernah mengumbar emosi. Mereka cuma memperingati saja, "Kalau air mati, krannya ditutup ya...."

Untuk kesekian kalinya kami kembali mengecewakan tetangga penyabar tersebut... "maafkan kami ya...."